Tuesday, February 10, 2009

MY HANDS

Ada apa dengan tangan saya??
Tangan saya masih seperti biasanya. Alhamdulillah masih dalam keadaan normal seperti sejak dilahirkan. Tapi judul diatas saya ambil dari sebuah lagu milik Jewell Kilcher. Menceritakan tentang sebuah tangan yang dimiliki oleh seorang tuan yang berbeda-beda keadaannya. Tangan, yang mungkin salah satu pelengkap tubuh sehingga tubuh akan dibilang sempurna jika mempunyai kelengkapan fisik yang lengkap. Lalu fungsi tangan apa lagi? Mungkin banyak yang bisa dituliskan disini. Dan kita pun tidak akan kesulitan untuk mengisi jawaban dari sebuah fungsi tangan. Tapi apa yang selama ini telah kita perbuat dengan tangan kita? Sepasang tangan yang kelak Allah akan menjadikannya saksi bagi diri kita di hari kiamat kelak.
Tangan bisa melakukan apa saja atas perintah tuannya. Sepasang tangan bisa selalu berada dalam ketaatan bila si empunya tangan itu juga merupakan orang yang taat kepada Allah. Dia bisa digunakan untuk beramal, membantu orang yang kesusahan, membaca Al-Qur'an, menulis dalam rangka dakwah dan kebaikan, dan lain sebagainya. Bila sang empunya terus membiasakannya berada dalam kebaikan maka untuk melakukan hal-hal yang buruk rasanya akan berat sekali. Dan jika suatu saat sang empunya tangan itu meninggal dunia, maka dia telah melaksanakan tugasnya di dunia dengan kebajikan dan kebaikan. Hingga di hari kiamat, pada saat hisab di depan Allah SWT, ketika Allah mengunci seluruh anggota tubuh kita dan kita tidak bisa bersuara-suara lagi maka tinggalah Allah mendengar kesaksian dari seluruh anggota tubuh. Sungguh senangnya jikala pada saat itu seluruh anggota tubuh kita memberikan kesaksian yang baik dan membela kita. Pada saat itulah kita melihat hasil dari seluruh perbuatan yang kita lakukan di dunia ini. Dan dengan sendirinya jika tidak ada satupun pihak yang merasa keberatan dengan keberadaan kita, maka Insya Allah shiratal mustaqim akan mudah kita lalui sehingga surga firdaus pun menjadi tempat tinggal kita yang baru.
Tetapi alangkah meruginya kita, jika selama kita hidup sepasang tanganyang kita miliki hanya digunakan dalam rangka kemaksiatan kepada Allah SWT. Digunakan untuk menyakiti orang lain, unruk mencuri, memegang hal yang tidak halal baginya, melakukan perbuatan nista dan lainnya (rasanya menulis perbuatan buruk yang berhubungan dengan tangan begitu mudah dibandingkan dengan menulis perbuatan baik yang dilakukan oleh tangan). Lalu pada saat kita meninggal dunia semua hal itupun menjadi terlihat jelas. Semua perbuatan buruk kita menjadi "tabungan" yang justru akan merugikan diri kita sendiri. Pada saat itulah tangan kita yang merupakan salah satu tubuh yang akan memberikan kesaksian menceritakan tentang hal-hal buruk yang kita lakukan dengan mediasi dirinya. Sungguh pada saat itu tidak ada lagi yang bisa meringankan dosa kita bila seluruh tubuh kita memberikan kesaksian yang memberatkan. Berharap Rasulullah SAW memberikan syafaat pada diri kita. Tapi rasanya akan malu sekali mendapatkan syafaat dari Rosulullah SAW mengingat diri kita yang jarang sekali bershalawat untuknya. Yang jarang juga menjalankan sunnahnya. Yang mungkin juga tidak hafal akan cerita kehidupannya. Pantaskah syafaat itu didapatkan? Tapi Rosulullah memang manusia yang paling penyayang di muka bumi ini, sehingga siapapun dia asalkan masih dalam bagian umatnya akan mendapatkan syafaat darinya. Jangankan memberikan syafaat, sebelum kematiannya dia sempat berkata pada Izrail kalau dirinya bersedia menanggung seluruh sakratul maut yang akan dijalani umatnya. Subhanallah...(Rindu sekali bertemu denganmu Ya Rasul...).
Lalu kalau ditanya pada diri sendiri, apakah kebaikan yang telah saya perbuat dengan mediasi tangan saya ini? Mungkin saya akan teringat sebuah cerita yang telah kugoreskan di sebuah kota bernama Yogjakarta. Pada saat aku menjadi salah satu penghuni kota itu dalam rangka menuntut ilmu di UGM. Tak jauh dari rumah kostku ada sebuah warung yang tidak terurus. Rumah yang dijadikan warung itu hanyalah berpagarkan bambu dan kayu. Warung itu bukan warung kelontong seperti yang lainnya. Warung itu menjajakan barang sekadarnya. Yang kutahu, warung itu menjual makanan buatan tangan yang mungkin terlihat tidak menarik. Hanya sebuah makanan terigu yang direbus dan di dalamnya ada sepotong pisang kecil. Saya yang sebenarnya tidak tertarik untuk membeli jajanan itu akhirnya merasa perlu membeli makanan itu. Saya rela merogoh kantong saya hanya demi membeli makanan yang mungkin tidak terlalu penting untuk saya. Tapi ada satu hal yang saya merasa perlu untuk membelinya. Penjualnya itu hanyalah seorang janda (yang kutahui belakangan) dan tinggal seorang diri. Ibu itu memang tidak tua, saya taksir umurnya sekitar menjelang empat puluhan. Guratan kerja keras terlihat di wajahnya yang berkulit sawo matang. Saya sangat senang sekali saat melihat senyum si Ibu merekah pada saat saya membeli makanannya. Mungkin dia tidak menyangka bahwa saya mau membeli makanan di warungnya atau mungkin juga saya adalah pemuda satu-satunya yang mau jajan di warungnya itu. Yang pasti saya senang sekali dapat membantu ibu itu, walaupun saya yakin tidak seberapa. Tangan ini yang mengeluarkan uang dan membawa makanan yang dijajakan Ibu itu suatu saat nanti saya harapkan bisa menjadi saksi di hadapan Allah kelak.
Kebaikan yang lainnya adalah kisah tentang seorang Ibu tua renta yang saya temui di bis 116 jurusan Blok M-Tanjung Priok. Pada saat itu saya sedang ingin pergi membeli buku di kawasan kwitang, Senen. Pada saat bis melewati jalan Tambak, Manggarai, seorang Ibu tua renta naik ke bis yang saya tumpangi. Ibu itu mengenakan kain batik dan baju kebaya serta kerudung ibu-ibu pengajian. Ibu tua itu tidak membawa apa-apa selain bungkusan yang ada dalam plastik yang saya yakini bungkusan itu adalah baju dia yang lainnya. Lalu saat sang kondektur menagih bayaran pada penumpang, si Ibu tua renta yang duduk di samping saya terlihat mengeluarkan dompet putihnya yang tipis. Dengan segera saya mengeluarkan uang dari saku dan memberikan kepada kondektur itu. Saya memberikan isyarat bahwa uang yang kuberikan untuk bayaran dua orang, saya dan ibu tua renta itu. Ibu itu lalu menoleh ke arah saya dengan senyum tua di wajahnya. Bibirnya mengucapkan terima kasih yang saya balas dengan senyuman. Senang sekali melihat wajah tua itu tersenyum.
Tapi Ya Allah... sungguh rasanya dua kebaikan lewat tangan yang saya lakukan itu belumlah seberapa dibandingkan banyaknya kemaksiatan yang telah kulakuan lewat tangan saya ini. Mungkin kebaikan saya hanya dua itu saja, sedangkan keburukan yang telah kulakukan mungkin lebih dari dua bahkan bisa jadi berkali-kali lipat dari dua. Sungguh rasanya saya takut sekali bila ternyata kesaksian tangan yang menemani saya selama ini adalah memberatkan diriku dihadapan-Mu kelak. Sungguh saya tak tahu akan berbuat apa bila itu terjadi. Untuk itu Ya Allah, bantulah hamba-Mu ini untuk menggunakan tangan saya ini dalam rangka ketaatan kepada-Mu. Sungguh hamba adalah makhluk yang dhoif, yang mudah sekali terjerumus dalam jurang kemaksiatan, untuk itu Ya Allah bantulah hamba-Mu ini bilamana salah melangkah dan berikanlah kasih sayang-Mu bilamana hamba bertaubat dan mengetuk di pintu-Mu. Amiiinnn Ya Rabbal 'Alamin...***(yas)


My work room, February 6, 2009
at 00.05 am
ditemani rintik hujan
yang menentramkan jiwa

No comments:

FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us