Friday, January 23, 2009

SUDAH BERAPA KALI ANDA KHATAM AL-QUR'AN??

(sebuah catatan tentang pengajian)


Judul di atas adalah sebuah pertanyaan yang aku ambil dari guru ngaji pekanan saya pada waktu acara pekanan yang berlangsung di rumah sederhana miliknya. Bukan, guru ngaji aku bukan menanyakan lembaran evaluasi ibadah mingguan yang sering aku lupa untuk mengisinya, tetapi saat itu guru ngajiku menanyakan hal itu sesuai dengan usia tarbiyah yang sudah dilalui para binaannya. Sejalan usia tarbiyah yang semakin memanjang dan perilaku kita yang semakin berubah dari waktu ke waktu, adakah nilai-nilai Al-Qur'an yang tertanam pada jiwa kita? Mungkin saja semakin banyak seseorang itu khatam Al-Qur'an maka semakin baik pula kualitas dirinya (seharusnya). Atau mungkin juga guru ngaji saya sedang menyindir aku dan teman-temanku yang jarang mengkhatamkan Al-Qur'an? Kalau pertanyaan itu secara resmi ditanyakan ke aku pribadi mungkin aku juga tidak tahu pastinya sudah berapa banyak aku khatam Al-Qur'an. Tapi satu yang pasti, setelah aku aktif di Rohani Islam SMAN 43 dulu minimal aku harus mengkhatamkan Al-Qur'an setahun 1 kali tepatnya khatam pada bulan Ramadhan.
Perkenalan aku sendiri dengan Al-Qur'an jauh terjadi saat aku masih kecil. Saat itu aku sering sekali pergi mengaji di sebuah Yayasan yang dimiliki oleh seorang Ustadzah bernama Rum. Jarak tempat itu dengan rumahku sekitar 100 meter. Setiap malam aku dan kawan-kawanku berangkat setiap habis maghrib saling sampar menyampar. Lalu sesampainya disana kami saling berebutan lekker (meja kecil terbuat dari kayu yang biasanya digunakan sebagai alas untuk menaruh Al-Qur'an) dan posisi tempat duduk yang strategis. Guru ngaji kami sendiri adalah remaja dari Yayasan itu yang kebanyakan adalah mahasiswa atau pekerja. Oiya, guru ngaji kami tidak ada yang perempuan, semuanya laki-laki kecuali pada waktu-waktu tertentu saja ada perempuannya, misalnya saat malam jum'at saat kami membaca Yasin beberapa guru wanita juga datang ke tempat kami.
Sebenarnya aku sangat tidak puas sekali saat guru mengajiku yang bernama Kak Ade (How I miss...) menaruhku di kelompok membaca Juz Amma (dulu rasanya buku Iqra belum sepopuler sekarang deh..). Aku harus membaca dari awal dan jika aku bagus dan tidak banyak mengulang serta menghabiskan Juz Amma maka aku bisa berpindah ke Al-Qur'an. Walaupun di rumah orang tuaku jarang mengajarkan aku mengaji tetapi aku merasa bahwa aku bisa sekali lebih jauh dari Juz Amma. Tapi Kak Ade tetap mengharuskan aku membetulkan bacaanku agar lebih bagus.
Pengajian ini ternyata hanya bertahan sampai aku kelas 5 SD saja atau kurang lebih 3 tahun. Lambat laun banyak teman-temanku yang jarang mengaji dan akhirnya keluar dari pengajian. Guru-guru kami pun juga lambat laun berkurang sejalan aktivitas mereka yang mungkin semakin padat. Setelah vakum tidak mengaji beberapa saat, orang tuaku menawarkan aku untuk masuk madrasah yang juga masih di bawah Yayasan milik Ustadzah Rum. Saat itu aku dimasukkan bersama dengan keponakanku yang masih kelas 2 SD. Aku dimasukkan di kelas 1 karena memang tempat dan pengajarnya yang terbatas. Aku masih ingat dengan Ustadzahku yang bernama Bu Supriyati (I miss u...), anak IKIP yang sangat baik dan sabar sekali. Aku senang belajar dengannya. Bacaan iqra kun pun yang bermula dari iqra 2 langsung melesat menjadi Iqra 4. Pelajaran Imla, fiqih dan akidah kuikuti dengan senang. Oiya, uniknya sekolah madrasahku adalah pengajarnya harus mengajar masing-masing 2 kelas. Satu kelas masing-masing dibagi dua baris. Kelasku yang kelas 1 kebetulan bersama dengan kelas 3 yang umur siswanya juga sama denganku. Sedangkan kelas 2 dan 4 belajar di lantai atas. Saat ustadzahku menawarkan aku untuk langsung pindah ke kelas 2, aku pun mencoba tawaran ustadzahku itu. Tetapi beberapa hari kemudian aku minta dipindahkan kembali ke kelas 1 karena aku merasa tidak cocok dengan gurunya. Dan di kelasku aku selalu mendapat peringkat pertama, secara aku khan udah kelas 5 SD...hehehe...
Ternyata usia belajarku di madrasah tak bertahan lama. Belum 1 tahun aku tidak bersekolah madrasah lagi karena muridnya yang semakin menghilang dan yang pasti rasa malasku yang harus bersekolah 2 kali. Dan selama itu pun aku tidak belajar mengaji unuk waktu yang cukup lama. Bahkan aku pun tak tahu tentang hukum tajwid. Baru setelah kelas 1 SMP di 67, aku berkenalan dengan Rohis. Aku ikut Rohis karena kebetulan kakak perempuanku yang ketiga yang saat itu sekolah di SMA 3 juga bergabung dengan Rohis dan memakai jilbab. Aku pun ikut kegiatan Rohis. Tapi aku paling malas sekali ikut acara BMAQ yang diadakan satu jam sebelum sholat Jum'at dimulai. Ya memang waktu itu aku belum mengerjakan sholat secara penuh, bahkan mungkin sering tidak sholat 5 waktu. Kebetulan pada saat SMP kelas 1 aku masuk siang, jadi semua siswa diwajibkan untuk ikut BMAQ yang diajarkan oleh kakak-kakak Rohis. Aku yang tidak pernah ikut akhirnya tak dapat kesempatan belajar tentang tajwid dan Al-Qur'an. Saat disuruh baca Al-Qur'an bergantian yang dibimbing oleh mentorku pada sebuah acara Pesantren kilat pun aku merasa tidak sanggup. Saat yang lain membaca satu halaman penuh, aku merasa tersiksa sekali walaupun hanya disuruh membaca 2 ayat. Sayangnya karena kesibukan kakak mentorku maka pengajian ini tidak berjalan. Padahal kuakui bahwa Rohis SMP ku lah yang mengajarkan aku untuk suka pada nasyid, tahu dunia ikhwan dan akhwat dan lainnya. Tapi sayang 3 tahun kemudian aku sama sekali tidak bersentuhan dengan Al-Qur'an sampai akhirnya aku masuk ke SMA.
Saat itu aku memutuskan untuk masuk SMA yang ada di samping SMP ku yaitu SMAN 43. Aku pun memutuskan untuk memilih ekskur Rohis sebagai salah satu bagian dari ekskurku selain PMR, Voli dan theater. Sekali lagi aku memilih ekskur Rohis karena itu ekskur ku di saat SMP dan terinspirasi dari kakakku. Aku baru tahu dikemudian hari kalau Rohis SMAN 43 adalah salah satu yang terbaik di Jakarta dan merupakan salah satu pelopor pergerakan dakwah sekolah. Saat masuk SMA aku memang bertekad untuk menjadi lebih baik lagi daripada di SMP dulu.
Tapi sayangnya, lagi-lagi aku hanya tercatat namanya saja sebagai anggota Rohis. Aku jarang sekali ikut kegiatan rutinnya yang waktu itu diselenggarakan setiap hari Sabtu sepulang sekolah dari jam 17.00 sampai 19.00 (sekolahku waktu itu khusus kelas 1 masuk siang hari). Aku selalu main kucing-kucingan dengan pengurusnya yang setiap bubar siswa menjaga di depan pintu gerbang sekolah untuk menarik anggota ekskur Rohis. Ekskur di sekolahku memang wajib karena kalau tidak ikut ekskur maka jangan harap bisa mengambil rapot. Aku jarang ikut Rohis karena aku terburu-buru ingin pulang ke rumah untuk menonton ASIA BAGUS. Waktu itu aku sangat menyukai acara yang dibawakan oleh Najib Ali dan Tomoko itu. Pun kegiatan BMAQ yang diadakan pada hari minggu pagi juga aku tidak ikuti. Rasanya aku masih trauma kalau harus membaca Al-Qur'an. Kehadiranku di BMAQ rasanya bisa dihitung dengan jari. Itu pun aku terpaksa hadir karena guru pembina Rohis yang juga guru Bahasa Indonesia mengancam tidak akan memberiku nilai bahasa Indonesia. Kebetulan itu pelajaran favoritku dan guru itu juga salah satu guru favoritku. Pada waktu acara pesantren kilat yang diadakan Rohis di puncak secara mengejutkan aku dimasukkan di kelompok favorit. Aku sama sekali tidak tertarik, terlebih saat acara mentoring, mentorku meminta setiap mentee nya untuk membaca satu lembar Al-Qur'an. Dan lagi-lagi aku yang terbodoh. Aku pun meminta keringanan untuk mebaca 1 atau 2 ayat saja, tapi mentorku menolak dan menyuruhku tetap membaca 1 lembar. Dan sampai kelas 1 SMA pun aku sama sekali tidak mengerti tentang tajwid dan makhrojul huruf.
Semuanya berubah saat cawu 3 di kelas 1. Guru Bahasa Indonesiaku yang bernama Bu Imas (terima kasih ibu) memanggilku dan bertanya kenapa aku tidak pernah ikut kegiatan Rohis di hari Minggu? Karena dia guru favoritku aku pun menjawab dengan jujur bahwa pada saat itu aku belum bangun tidur. Dia kemudian mempertanyakan apakah aku sholat subuh atau tidak (aduh malunya aku) yang kujawab dengan senyum. Dia pun memberi ultimatum bahwa aku harus ikut acara setiap hari minggu atau kalau tidak nilaiku akan dikurangi 5! Ya mau nggak mau aku akhirnya mulai rutin mengikuti kegiatan BMAQ.
Setelah aku menjadi pengurus Rohis (oiya, saat itu aku belum pernah khatam Al-Qur'an) aku dituntut untuk bisa membaca Al-Qur'an secara benar. Alhamdulillah akhirnya aku mulai lancar membaca Al-Qur'an walaupun tanpa tajwid dan makhrojul hurufnya. Alhamdulillah akhirnya menjelang kelas 3 yang kuingat aku berhasil menghabiskan Al-Qur'an alias khatam Al-Qur'an. Saat kelas 3, mentorku tidak melanjutkan kembali mentoring karena beliau sibuk dengan urusan pekerjaannya. Maka aku dioper ke rekannya yang bernama Bang Hakim. Di mentoring rutin ini aku pun semakin terlatih untuk membaca Al-Qur'an sebanyak satu halaman. Pada saat bersamaan aku dan teman-teman ngajiku memutuskan untuk ikut khursus tahsin pekanan di Masjid Bimantara Kebon Sirih. Saat itu pengajarku adalah Ustadz Furqon. Aku senang sekali dengan metode mengajarnya yang fasih. Memang aku adalah yang terbodoh di kelompok itu karena memang aku satu-satunya yang tidak mengerti tajwid. Bahkan untuk mengucapkan huruf KHO yang seperti mengeluarkan reak dalam latihan Makhrojul huruf, teman-temanku mentertawaiku karena aku tidak bisa. Seiring berjalannya waktu akupun semakin paham dengan tajwid dan makhrojul huruf. Aku ingat sekali aku mampu menghabiskan 1 juz Al-Qur'an saat tilawah sepulang sekolah yang kulakukan di masjid sekolah. Bagiku ini adalah prestasi baruku yang dulu sama sekali tidak pernah melakukan hal seperti ini. Lalu memasuki bulan Ramadhan di saat aku kelas 3, aku semakin cinta dengan Al-Qur'an. Aku rela menghabiskan waktuku berjam-jam untuk membaca Al-Qur'an. Bahkan sering sebelum waktu Isya aku sudah menghabiskan 2 juz. Inilah awal kecintaanku terhadap Al-Qur'an. Tradisi khatam Al-Qur'an setiap bulan Ramadhan pun tercipta sejak saat itu. Pada awal-awal nya aku memang tidak khatam pada saat Ramadhan saja, aku bisa khatam Al-Qur'an 2 kali dalam setahun saat kelas 3 SMA dan tahun awal kuliah. Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan rasa malas yang mendera maka motivasiku semakin menghilang hingga setahun minimal harus 1 kali.
Sekarang, saat guru ngajiku menanyakan judul di atas, aku hanya bisa bermain dengan kenangan. Memang setahun masih tetap 1 kali khatam, tetapi aku merasa semakin jauh sekali rasa ketertarikan untuk membaca Al-Qur'an. Walaupun tekad untuk membacanya tetap ada tapi sering sekali terbentur dengan rasa malas yang mendera-dera. Bukannya membaca aku malah asyik dengan kompromi-kompromi terhadap diriku. Rasanya semakin jauh sekali dari Al-Qur'an. Janganlah lagi ditanya tentang mengamalkan isinya,masih jauh sekali dari diriku. Hanya pada saat Ramadhan sajalah semangat itu benar-benar bisa terbangun dan muncul kembali. Ya Allah rasanya ingin sekali aku jatuh cinta dengan Al-Qur'an. Rasanya jika kuhitung dengan kalkulasiku, menghabiskan waktu 10 menit untuk membaca 2 lembar Al-Qur'an setiap habis sholat fardhu sepertinya bukan suatu hal yang berat. Tapi Ya Allah, rasanya sekarang jauh sekali aku akan nilai-nilai Al-Qur'an. Kalau begini rasanya aku tak bisa menjadi generasi Qur'ani...Astaghfirullah Alladzim...***(yas)

Ya Allah sayangi kami dengan Qur'an...
Bagi kami Qur'an imam dan cahaya,
petunjuk dan rahmat...
Ya Allah tegurlah kami bila melalaikannya...
Dan ajarkan mukjizat Al-Qur'an...
Yang menjadi sumber rezeki,
sepanjang malam dan sepanjang siang hari...
Jadikanlah Al-Qur'an perisai
Ya Allah Tuhan kami...



My work room, January 23, 2009
at 02.20 am
Sebuah jeritan hati
yang rindu Al-Qur'an...

TIGA BUAH RAMBUTAN

Pernah makan buah rambutan khan? Pasti pernah. Hampir semua orang tau buah kecil berambut ini. Ada yang rasanya manis, kadang-kadang asam dan ada juga yang sedang-sedang saja. Mungkin saking seringnya kita makan buah ini pada saat musimnya tiba, jadi seolah terasa biasa-biasa saja saat kita memakannya. No special! Mungkin sebuah kisah ini bisa menjadi sebuah inspirasi bagi kita pemakan rambutan. Sebuah kisah pentingnya memberi walaupun dalam keterbatasan.
Usai sudah sebuah aksi kemanusiaan yang kuikuti, aku dan temanku memutuskan untuk menyempatkan diri sholat di Masjid Istiqlal yang lokasinya memang tak jauh dari tempat aksi itu diadakan. Kebetulan temanku mengajak mentee-mentee nya jadi bisa sekalian mengenalkan mereka pada masjid itu. Sengaja mentee-mentee yang baru menginjak bangku kelas 1 SMA diajak aksi itu untuk menimbulkan ghirah mereka.
Hujan rintik-rintik pun seolah menjadi tanda bahwa aksi yang dilakukan tadi dirahmati oleh Allah SWT. Aku pun mengucapkan hamdallah sambil bergegas berjalan menuju masjid itu. Sesampainya aku di pertigaan jalan, dan saat ingin menyebrang, kulihat seorang ibu muda berumur sekitar 30 tahunan berkemeja putih dan bercelana jeans menggendong anaknya yang balita. Dua orang anak lelaki di bawah umur 10 tahun juga bersamanya. Penampilan mereka layaknya (maaf) manusia-manusia gerobak yang tidak punya tempat tinggal, kurang rapi dan sedikit kotor. Di belakangnya kulihat seorang lelaki tua di penghujung usia juga dengan berpakaian kumuh berjalan di belakangnya. Tampak lelaki itu kelelahan. Ibu muda dan lelaki itu itu tampaknya tidak saling kenal, itu terlihat jelas dari jarak jalan mereka yang sedikit berjauhan. Lalu hal yang menginspirasikanku pun hadir...
Ibu itu mengambil 3 buah rambutan dari kantong pelastik yang dibawanya. Sang anak tampaknya sangat ingin sekali memakan buah itu. Kebetulan buah itu juga pas dengan anak yang dibawanya. Tapi tanpa dinyana, sang Ibu menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang, ke bapak tua renta itu. Si Ibu menunggu hingga si bapak itu sampai di tempatnya berdiri. Ketika bapak itu sampai, dan si ibu itu melihat jelas kelelahan di wajahnya, lalu dia berkata pada anak-anaknya yang bisa kudengar.
" Kita kasih rambutannya ke bapak ini ya!" si Ibu tanpa perlu meminta persetujuan anak-anaknya langsung memberi rambutan itu pada si bapak tua. Mungkin ibu itu berpikir bahwa bapak tua itu lebih memerlukannya ketimbang dirinya dan anak-anaknya. Mata anak-anaknya hanya melihat sayang kepada rambutan itu. Mungkin mereka juga kepingin rambutan itu, tapi sang ibu merasa bahwa anak-anaknya akan dapat menikmatinya rambutan di lain waktu.
" Ini Pak rambutannya..." Sang Ibu memberikan rambutan itu.
Sang Bapak tua itu dengan agak ragu menerima rambutan itu setelah tampaknya dia juga tidak tega melihat ketiga anak sang ibu itu.
" Gak apa-apa Pak, ntar kita bisa beli lagi," Ibu itu meyakinkan si Bapak.
Dan setelah itu Ibu dan bapak itu berpisah arah dengan aku...
Aku menoleh ke arah teman yang ada disebelahku. Ternyata dia juga melihat kejadian itu.
" Ya Ampun...Subhanallah...ane jadi terharu deh..." ujarku. Temanku hanya mengangguk.
Lalu semua kejadian tadi seolah membawaku membuka diriku sendiri. Kuakui bahwa aku pribadi adalah seorang yang cenderung pelit kalau soal makanan. Aku begitu tertohok sekali dengan kejadian itu. Bisakah kita berbagi di saat kita juga sedang dalam keadaan sulit?
Ibu itu mengajarkan bahwa berbagi bukanlah milik orang-orang kaya saja. Mereka yang merasa selalu dalam keadaan kekurangan pun sebenarnya bisa berbagi dengan apapun yang mereka punyai. Seperti Ibu itu dengan rambutannya. Walaupun bagi aku tiga buah rambutan terlihat tidak penting sekali, tapi bagi ibu itu tiga buah rambutan itu adalah sebuah hal yang penting. Dan mungkin kalau aku yang dibagi tiga buah rambutan itu, mungkin aku akan menolaknya. Tapi bagi bapak itu 3 buah rambutan itu adalah hal yang sangat berarti baginya. Sebuah frame yang berbeda pikiran kita.
Sampai di Masjid kebanggaan Indonesia pun aku masih belum berhenti memikirkan kemurahan hati sang Ibu tadi. Pikiranku pun terbang ke seorang teman yang begitu maunya dia berbagi. Bila dia membeli makanan maka dia akan mengajak semua orang berkumpul untuk makan bersama-sama. Atau bila dia amakan di luar maka dia juga tak akan lupa untuk membawakan sedikit oleh-oleh bagi temannya, agar dia tak hanya bisa menceritakan tentang lezatnya sebuah makanan dan temannya hanya bisa membayangkan, tetapi dia juga ingin temannya merasai apa yang dia rasakan.
Kisah 3 mujahid perang badar yang saling ingin berbagi seteguk air hingga akhirnya tak ada satupun air yang diteguk oleh mereka juga terputar ulang di benakku. Kisah 8 dirham yang dibawa Rosululloh untuk membeli baju tetapi sampai pulang ke rumah tak ada satupun baju yang dibawanya karena semua uang yang dibawanya dia dermakan kepada orang-orang di sepanjang pasar juga terputar ulang.
Teringat kembali, sebuah dialog dengan temanku saat kami kesulitan mencari dana untuk melaksanakan dauroh. Pada saat itu, saat sedang mendiskusikan anggaran dana, kami melihat di televisi tentang perkara korupsi seorang pejabat sebanyak 8 milyar.
" Ya Allah...kalau dia punya uang sebanyak itu terus dipake buat dauroh, berapa ratus kali kita bisa melaksanakan dauroh..." ujar temanku.
" Atau kalau uang dia dibagi ke kita 2 juta saja," aku menambahkan (pastinya bukan uang korupsi yang kita inginkan).
Kami pun hanya bisa mengelus dada. Inilah manusia di negeriku tercinta. Memupuk kekayaan tanpa mempedulikan orang lain. Tapi kisah Ibu itu membuatku yakin, bahwa di antara banyaknya para penimbun harta, masih banyak juga orang-orang yang peduli untuk berbagi.
Ya Rabbana...Karuniailah Kami jiwa dan hati yang bersih...
Karuniailah kami hati yang selalu ingin berderma...
kapanpun dan dalam kondisi apapun....
Rabbana Ma Kholaqta Hadza bathila subhanaka faqina adzabannar..***(yas)


My Work room, January 21, 2009
at 03.00 am menjelang QL
Semoga ada cahaya terang...

KENANGAN LDKS ROHIS SMAN 43 TAHUN 2007


Taufan dan Qois yang kelelahan,
serupa tapi tak sama...


Genk XE yang juga gak mau ketinggalan narsis


Gelap-gelap kelas XB tetep narsis difoto
(Dika ternyata anak Rohis ya...)


Taufan, kayaknya tanpa perlu menyeram-nyeramkan wajah,
wajahnya udah menyeramkan deh... hehehe...


Esa, Dede, dan Arbi saat games berlangsung


Hhmmm....Desi and akka genk masa anak Rohis
joget dangdut sih... ^__^


Dina sama pasukan XA nya segitu semangatnya takbir...



photographer : Ayatulloh Rahman
Lokasi : BUPERTA Cibubur

KENANGAN VILLA INSANI


Suasana bahagia saat Rihlah LQ kita di Villa Insani

Thursday, January 22, 2009


Abis Raker Rohis 2008 di Cibinong

TRAGEDI LONSAY

Hhmmm...sebenarnya ini sih bukan tragedi tapi kena tipu. Gimana ceritanya ane bisa kena tipu? Begini ceritanya...
Minggu siang itu, usai mengikuti aksi kemanusiaan untuk rakyat Palestina yang longmarch bulak balik Monas-HI-Monas, pastinya perut laper banget. Apalagi tadi sebelum berangkat belum sempet sarapan ditambah teriak-teriak yang membahana membuat perut makin tambah laper. Langsung aja deh pas udah sampe pintu gerbang Monas ane dan temen ane plus mentee-mentee ane hunting makanan yang murah meriah and pas di lidah.
" Eh, ga enak nih anak-anak ga kita beliin. Gimana kalo kita patungan aja? Palingan makanannay 5000-an," ujar ane sama temen ane yang mengekor di belakang.
" Iya juga sih. Ya udah deh," seru temen ane.
Dan setelah hunting beberapa tukang makanan, sampailah mata ini tertuju pada seorang tukang Lonsay Lohan eh Lonsay alias lontong sayur yang sedang menyepi di perojokan gerbang dekat pintu kecil yang ada di sebelah gerbang utama. Hhhmmm...pas banget nih! Kebetulan tuh tukang lonsay juga kurang peminat, jadilah ane memesan tuh lonsay.
" Bang, pesen lonsay 5000-an 10 porsi ya!" seru aku tanpa ada perasaan apa-apa. Perlu dicatat ya saudara-saudara, lonsay 5000 di depan mall Ambassador tuh udah komplit banget! Pake telor, tahu, plus sgelas teh hangat. Lain lagi kalo di tetangga ane, Bu Iti namanya. Lonsay 5000 dijamin bakaln dibuatin spesial sama dia, secara harga rata-rata khan 3000-an.
Langsunglah tuh abang membuat pesanan kami. Karena keterbatasan piring, maka abang itu meminta untuk tidak berlama-lama menikmati tuh piring (siapa juga yang mau makan tuh piring bang!). Jadi selesai makan, piring dicuci langsung dipake lagi eh gak dicuci sih cuma dikocok-kocok sama air doang. Otomatis dengan begini kita ga bisa makan secara bersama-sama.
Saat menunggu si abang membuatkan pesanan, ternyata peminta lonsay semakin banyak. Jadilah disana terdapat banyak antrian lonsay. Ane juga sempat mendengar seorang pelanggan bertanya tentang harga tuh lonsay.
" Berapaan bang seporsi?"
" 5000-an" tuh abang menjawab kalem.
Berarti semakin yakin deh di hati kalo tuh lonsay harganya 5000. Tadinya sempet kepikiran sih untuk bayar langsung aja sebelum selesai dimakan. Tapi niat itu langsung diurungkan saat melihat kondisi lonsay yang semakin menurun kualitasnya. Maksudnya, kalo piring-piring awal dapet telur, tahu dan kerupuk yang memadai, maka pas giliran ane dan temen ane yang terakhir cuma dapet lonsay tanpa telur dan tahu ples kerupuk yang cuma remah-remahnya doang. Husnudzon kita sih, asyik nih pasti bakalan dapet potongan harga dari tuh abang. Dan kita lahaplah lonsay itu dengan tanpa kecurigaan apapun. Perut laper yang diisi dengan lonsay yang lumayan enak dengan bumbunya yang manis pasti bakalan memuaskan hati. Betul gak sih?
Nah ini dia nih tragedinya. Saat mau bayar tuh lonsay, tiba-tiba si abng berubah pikiran. Mungkin dia pikir kesempatan nih naikin harga mumpung banyak yang beli, secara mereka udah pada makan dan ga mungkin dong ngebatalin pesanan? Mungkin juga dia melihat yang beli kader-kader PKS yang pastinya dermawan, ramah, tidak sombong dan rajin menabung...
" Jadi berapa bang?" seruku sambil melap bibir dengan tisu.
" Seporsinya 7000-an," abang itu berkata tanpa rasa bersalah.
Haaahhhhh???????
" Loh gimana sih bang, tadi kan pesennya 5000-an. Lagian yang terakhir juga udah ga pake lontong sama tahu," protesku.
" Yah emang harganya 7000-an," ujar abang itu kekeuh.
" Ya udah nih," aku meraih uang 50.000-an dan memberikannya kepada abang lonsay itu.
" Loh, kurang nih. Harganya 7000-an," abang itu gusar.
" Yee...tadi khan bilangnya 5000-an," aku juga ga mau kalah.
Tapi berhubung hujan udah mulai turun maka dengan rela ga rela temenku langsung mengeluarkan uang 20.000-an dan memberikan kepada abang lonsay itu. Kayaknya sih dia gak ikhlas juga.
" Gimana sih bang??" aku sedikit ketus berkata pada abang itu. Tapi si abang cuek bebek.
Aku, temanku dan mentee-mentee aku pun langsung pergi meninggalkan tuh abang lonsay dengan perasaan tidak ikhlas. Setelah itu aku juga sempet mendengar si abang berargumentasi dengan pembeli berikutnya yang tamapkanya juga kena tipu si abang lonsay.
Teringatlah aku pada kisah selebriti Ringgo Agus Rahman yang juga pernah kena tembak saat makan di monas. Saat itu dia beli nasi goreng yang setelah mau dibayar harganya 25.000!!! Whaattt??? Padahal tuh nasi goreng kualitasnya di bawah standar nasi goreng pada umumnya. Aduhh...aduhh...
Sepanjang perjalanan pun tak henti-henti aku dan temanku membicarakan kejadian yang tadi. Sumpah masih belum ikhlas.
" Kayaknya ga ikhlas banget ya bayar 70.000," ujar temanku
" Tuh abang bener-bener edan, ketauan akadnya 5000-an, malah dia naikin sepihak," aku juga angot.
" 70.000 tuh $7 loh..." ujar temanku lagi.
" Mending kita sumbangin ke Palestina aja deh, lebih ikhlas," tambahku.
" Edan tuh abang!!"
" Gembell!!"
" Dodoll!!"
Lalu frame di sebuah adegan di film Ayat-ayat Cinta seolah terulang,
" Ikhlas Yass...Allah sedang mengujimu. Dia sedang berbicara denganmu..."
Ya Allah... bicaranya jangan lewat abang tukang lonsay dong...Ikhlasnya ga dapet nih...Astaghfirullah....***(yas)


My work room, Jan 20,2009
when summon of ashar hear
Aduh abaaang....

Tuesday, January 20, 2009

BANGKITLAH NEGERIKU...!!!


Seperti yang sudah-sudah, hari Minggu, 11 Januari 2009, menjadi tanda bahwa sesama muslim itu bersaudara. Bukan hanya bersaudara, tetapi menjadi bagian dalam tubuh itu sendiri. Sebuah aksi kemanusiaan yang digalang untuk sebuah negeri nun jauh disana yang sedang terluka, Palestina. Bukan hanya aksi yang menunjukkan kekuatan kita sebagai muslim, tetapi aksi yang juga menyisihkan sedikit rupiah yang kita punya untuk saudara kita di sana. Aku yakin sekali, saat Palestina melihat aksi yang kita lakukan hari ini maka air mata akan membasahi wajah mereka dan bahkan membasahi janggut-janggut mereka. Lalu seperti digerakkan oleh kekuatan, entah darimana, mereka akan berucap, "Kita tidak sendirian,".
Maka aksi kali ini adalah sumbangsih kesekian kalinya dari sebuah Partai yang sudah hampir 11 tahun aku mengenalnya. Sebuah tempat para ustadz-ustadz ku berkumpul. Sebuah partai yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan terbentuk dan menjadi besar seperti sekarang. Mungkin dulu sebelum era reformasi, para ustadz-ustadz itu tidak mau sedikitpun bersentuhan dengan dunia politik yang terkenal kotor. Tetapi saat keadaan memungkinkan, dan sebauah cita-cita besar ingin dicapai serta kekuasaan ingin dibuat menjadi lebih berpihak dengan Islam, maka para ustadz-ustadzku ini membentuk sebuah Partai sebagai refleksi perjuangan mereka. Mereka yang dulunya tidak mengenal politik dan sejarahnya sama sekali, maka dengan ini harus menyelami dunia politik itu seutuhnya. Biasanya mereka menghafal ayat-ayat dalam Al-Qur'an, maka kali ini mereka harus menghafal perundangan dan yang lainnya. Tetapi ustadz-ustadz ini bukanlah kumpulan orang tua yang bodoh, malah mereka tergolong jenius dan cerdas. Hanya saja dulu mereka tidak bisa menerapkan kecerdasan mereka di sebuah negeri yang rasanya sulit untuk bergerak. Lalu mereka pun mengabdikan diri pada masyarakat dan agama Islam itu sendiri.
Perjuangan mereka yang dulu terasa berat dan penuh dengan fitnah dan ancaman akhirnya menjadi indah pada waktunya, kini. Kian banyak masyarakat yang dekat pada agama mereka. Fenomenan wanita berjilbab bukanlah suatu hal yang aneh sekarang. Tidak pernah terbayangkan kalau dahulu para ukhti muslimah memperjuangkannya dengan mati-matian. Difitnah menyebarkan racun, penampilan aneh, primitif dan lain sebagainya. Pengajian juga sudah semakin marak, sebuah hal yang diperjuangkan dahulu oleh para ustadz-ustadz. Tahukah kalau dulu para ustadzku itu dipenjara, dituduh melakukan makar terhadap negara, dituduh aliran sesat dan sebagainya. Tahukah mereka yang sekarang memfitnah para ustadzku dan partaiku juga bahwa dulu yang memperjuangkan Islam hingga sekarang adalah bukan mereka. Mereka yang berjuang bukanlah yang hatinya penuh dengan rasa iri dan dengki dan saling mencela antar golongan Islam.
Tetapi makin hari ke hari, terasa sepertinya sebuah cita-cita bangsa ini semakin mengabur. Sebuah cita-cita besar yang menginginkan kesejahteraan untuk rakyatnya. Sebuah keadilan yang menjamin masyarakatnya untuk mendapatkan segala hak yang dipunyainya. Mendapatkan hak pendidikan, hak berpendapat, hak untuk tidak hidup miskin, hak untuk bekerja dan hak untuk bisa mendapatkan hasil dari sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini.Semakin terpuruk bangsa ini dan mendorong ke sebuah tepi jurang kehancuran. Semua orang miskin diharuskan bermimpi buruk. Segalanya sangat tidak layak di negeri ini. Perpecahan, kasus yang dimodifikasi oleh orang-orang barat, bencana alam, kemiskinan, dan banyak tragedi lainnya.
Seolah Allah telah mengunci mati hati para pemimpin di negeri ini. Para pejabat di negeri ini. Banyak hal yang terasa mengganjal di hati, dan pkiran seorang manusia normal. Seorang penjahat yang korupsi uang negara ratusan milyar, hanya dipenjara beberapa tahun saja. Itupun bukan penjara murni seutuhnya. Mereka masih mendapatkan tempat tidur yang empuk, fasilitas kamar mandi yang memadai, alat komunikasi, dan fasilitas lainnya layak. Keluarga mereka bisa hidup tenang dan damai. Semua aset dilarikan ke luar negeri. Dan dalam waktu singkat lebih bangga menjadi bagaian dari pembaratan. Sedangkan sebagai pembandingan, seorang miskin yang terpaksa mencuri karena deraan lapar yang menggerogoti perutnya dan tertangkap basah, dengan tidak berperikemanusian dipukul beramai-ramai. Aparat memberlakukannya layaknya sebuah sak tinju. Bahkan dalam beberapa kasus pencuri itu terpaksa menemui ajalnya dengan dibakar hidup-hidup. Andaikan hidup bisa memilih, mungkin orang itu tidak ingin menjadi orang miskin. Mungkin, saat dirinya dipukul dan dibantai habis oleh orang-orang tidak berperikemanusian, yang tergambar dalam benaknya adalah wajah anak dan istrinya yang menanti kedatangan, mengharap kedatangan itu bisa mengusir rasa lapar akibat beberapa hari tidak makan. Sebuah wajah yang ironi bagi negeriku bernama Indonesia.
Aku sangat muak sekali saat para pemimpin di negeri ini menghimbau masyarakat untuk hidup hemat sementara mereka tidak melakukannya. Seorang menteri menyarakankan masyarakat untuk makan tempe sedangkan menteri itu sendiri memilih menu ala barat. Yang lainnya menyarankan untuk hidup sederhana sementara keluarganya hidup dalam kemewahan. Dimana keteladanan seorang pemimpin? Apakah tidak ada lagi panutan di negeri ini? Apakah mereka yang punya hati nurani sudah tidak ada lagi sehingga sulit sekali untuk dicari? Dan semakin terpuruk saja negeriku ini.
Kemudian, harapana itu hidup kembali. Saat para ustadz ku terjun ke kancah politik. Dengan kebersahajaannya, sikap rendah hatinya, rasa tawadhunya. Merekalah yang tidak bisa tidur saat tetangga mereka kelaparan sedangkan perut mereka sudah kenyang. Ada perasaan berdosa disitu. Merekalah yang turun pertama kali saat masyarakat dilanda bencana. Tanpa ragu dan memilah-milih mereka menolong setiap orang yang kesulitan. Merekalah yang selalu menyisihkan uang gaji mereka untuk diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Merekalah yang selalu tersenyum ramah dan menolong masyarakat di sekitar...(Ya ustadz rasanya aku ingin sekali menangis jika mengingat bahwa aku belum bisa melakukan apa yang telah kau lakukan).
Indonesia pun menyambut baik. Betapa muslim disini sudah terlalu lama disakiti. Betapa kita merindukan seorang pemimpin yang sederhana seperti Umar bin Khatab, yang memanggul sendiri makanan untuk rakyatnya. Merindukan Indonesia akan menjadi negara yang menyongsong kebangkitan. Kebangkita yang datang dari Timur. Perlahan negeri ini pun bangkit. Bangkit dari keterpurukan dan mimpi buruk yang panjang. Suatu saat negeri ini akan berpihak pada rakyat miskin, akan memberikan keadialan bagi semua yang mendiami negeri ini. Sehingga kesejahteraan pun bisa diraih.
Bangkitlah negeri...!! Songsonglah perubahan zaman itu. Lupakanlah mimpi buruk mu. Bangkitlah dari tidurmu yang panjang.
Bangkitlah negeriku...!! Bangkitlah!! Dengan permulaan takbir, dan bergegaslah berwudhu agar wajahmu tidak muram seperti sedia kala.
Bangkitlah negeriku...!! Dengan takbir di kepalan tanganmu. Dan yakinlah bahwa harapan itu masih ada!
Bangkitlah,...bersama kami ... Partai Keadilan Sejahtera! Insya Allah...***(yas)


My bedroom, January 15, 2009
at 02.25 am
Inspired by song by ShoHar!!
Harapan itu masih ada...

Thursday, January 8, 2009

A TRIBUTE FOR RACHEL CORRIE




























Pada awalnya saya tidak kenal dengan wanita yang bernama Rachel Corrie. Pada saat kematiannya tanggal 16 Maret 2003, mungkin yang saya ingat tanggal itu adalah hari kelahirannya Dian Sastrowardoyo, seorang aktris yang dulu sempat saya sukai. Berita tentang kematian Rachel sendiri tampaknya juga tidak diberitakan secara heboh di media massa. Berbeda dengan misalnya, ada warga negara Amerika Serikat lainnya yang diculik oleh Taliban, pasti beritanya akan menjadi heboh.

Namun semuanya berubah saat saya sedang mengunjungi toko buku Gramedia, sehari sebelum tanggal 25 Desember 2009. Saat sedang sibuk memilih-milih buku yang ingin saya beli, di bagian novel-novel saya menemukan buku Rachel Corrie, "LET ME STAND ALONE" terjemahan bahasa Indonesia. Tentu saja yang begitu intens memperhatikan orang-orang Amerika atau "bule" yang begitu concern terhadap Islam langsung tertarik dengan buku itu. Saya memang begitu menyukai segala hal yang berkenaan dengan dunia barat, terutama mereka yang tiba-tiba mengubah jalan hidupnya 180 derajat, dari tidak mengenal Islam menjadi pemeluk Islam, contohnya seperti Yvonne Ridley, James Yee, Brandy Korman, dan yang lainnya. Otomatis saya pun tertarik dengan Rachel Corrie. Kebetulan pada saat itu siatuasi di Palestina juga sedang bergejolak. Lunatic Israel, menginvasi Palestina kembali dan tanpa ampun menghujani Gaza dengan bom-bom. Tapi sayangnya pada saat itu harga buku itu tidak cukup dengan uang yang saya bawa sehingga saya tidak langsung membelinya. Beberapa hari kemudian, seorang teman menghadiahi saya buku itu. Sebuah buku yang sangat menginspirasi dan menyemangati hidup saya.

Rachel Corrie adalah seorang gadis Amerika Serikat berumur 23 tahun. Masih muda dan cantik. Dia berasal dari negara bagian Washington, tepatnya di Olympia. Dia hidup bersama orang tua yang begitu demokratis dan kakak-kakak yang begitu menyayanginya. Sebagai seorang anak bungsu wajar kalau Rachel begitu disayangi oleh orang tuanya. Tapi Rachel kecil bukanlah seperti kebanyakan warga AS lainnya. Dia begitu tertarik dengan alam. Pemikirannya begitu tajam dan intens. Beberapa kejadian di dunia yang menurutnya memprihatinkan, seperti bencana kelaparan, perang dan lainnya membuat dirinya terenyuh. Berkali-kali dia menulis dalam buku catatannya tentang keprihatinannya terhadap semua bencana yang terjadi. Dan dia merasa bersalah karena dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Pada saat dia beranjak remaja. Dia mulai aktif mengikuti organisasi-organisai kemanusian. Dia memang bukan tipikal gadis muda AS pada umumnya. Pada saat seharusnya gadis seumur dia mencoba make-up terbaru, menggosippkan teman di sekolah, berbincang-bincang masalah cowok, dan berpacaran, Rachel mengambil jalur yang berbeda. Dia tidak hanya memperhatikan dirinya saja tetapi rachel malah memperhatikan orang lain. Dia mengumpulkan makanan dari hotel-hotel ternama untuk dibagikan kepada warga sekitar yang kelaparan. Dia juga aktif menolak segala perang yang dilancarkan pemerintahan pada masa itu, terlebih saat itu Amerika sedang dilanda paranoid akan serangan teroris. Maka kelakuan Rachel dinilai aneh sekali.

Mata Rachel semakin terbuka lebar saat dia menyaksikan kebiadaban yang dilakukan bangsa Israel terhadap warga Palestina. Sebagai bangsa penjajah, Israel dengan seenaknya mencaplok setiap wilayah di Palestina tanpa memperhatikan hukum-hukum internasional. Dan yang lebih mengherankan Rachel, negara-negara di dunia seolah menutup mata dengan kejadian yang terjadi di palestina ini. Tak lama dia memutuskan untuk bergabung dengan International Solidarity Movement (ISM) dan Rachel mengajukan dirinya untuk menjadi "People Chains" di Palestina untuk melindungi warga sipil. Dia kemudian dikirim ke Rafah bersama 7 orang aktivis ISM lainnya.

Di Rafah, Rachel tinggal bersama penduduk asli Palestina. ISM datang dengan tujuan damai bukan dengan kekerasan. Mereka tidak berpihak kepada siapapun, tetapi mereka berpihak pada kemanusiaan. Bahkan Alice seorang aktivis LSM beragama Yahudi. Dan Israel tidak mempunyai rasa kemanusiaan. Maka ISM mencoba untuk mengguah rasa kemanusian itu.

Aksi-aksi yang dilakukan Rachel Corrie begitu terasa bagi rakyat Palestina. Dia bersama 7 temannya menjaga sebuah sumur, sumber air satu-satunya, yang akan diuruk oleh tentara Israel. Mereka berdiam diri di sana menjaga sumur itu. Mereka rela harus berpanas-panasan dan menahan dahaga yang mat sangat. Aksi lainnya adalah mereka berusaha menghalangi buldozer-buldozer tentara Israel yang akan menghancurkan rumah-rumah penduduk. Dengan berani mereka menghadang buldozer itu dengan nyawa mereka sebagai taruhannya. Dan aksi inilah yang mengantarkan Rachel Corrie menemui ajalnya.

Sore itu, di Rafah yang mulai meredup cahaya, terdengar suara buldozer menuju tempat kediaman seorang dokter yang dijadikan tempat tinggal oleh Rachel Corrie. Segera Rachel dan beberapa aktivis lainnya keluar rumah dan mencoba mengadang buldozer Israel di depan. Saat itu Rachel mengenakan baju berwarna jingga menyala dan ditangannya terdapat megaphone untuk berteriak-teriak. Tetapi buldozer itu seperti tak kenal ampun. Rachel yang sedang berteriak-teraik langsung diseruduk oleh buldozer itu sehingga dia terhempas dan terjatuh kedalam tanah. Dua orang teman Rachel berteriak-teriak agar tentara Isarel itu berhenti. Tetapi mereka terus melakukan aksi brutal itu. Baru tak lama kemudian mereka berhenti.
Saat itu tubuh Rachel sudah remuk. Beberapa tulang terliat menerobos kulitnya. Rekannya segera memberikan pertolongan pertama sambil yang lainnya berusaha menemukan ambulan. Rachel hanya sedikit berkata, "Sepertinya tulangku ada yang remuk,". Tak lama ambulan yang datang dengan jaminan seorang aktivis ISM membawa Rachel ke rumah sakit. Namun malangnya nyawa Rachel sudah tak tertolong lagi. Tak lama setelah tiba di rumah sakit, Rachel menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Rakyat Palestina pun menyambut jenazah Rachel Corrie layaknya warga mereka sendiri, layaknya seorang syahidah. Mereka ramai-ramai mengebumikan Rachel di Rafah. Beberapa orang lalu membuat grafiti mengenang keberanian Rachel. Di jalan-jalan di kota Rafah tampak foto Rachel terlihat.
Namun sayangnya, bagi negaranya sendiri Rachel bukanlah dianggap sebagai seorang pahlawan. Pihak pemerintah menyalahkan Rachel Corrie sendiri dan membela tentara Israel. Mereka menilai bahwa dua tentara Israel itu tidak melihat Rachel sehingga terjadi insiden itu. Dua orang kativis ISM yang sedang bersama Rachel saat itu menyangsikan pengakuan tentara itu. Orang tua Rachel meminta pihak pemerintah mengusut kasus kematian anaknya, tetapi bagi pemerintah AS masalah ini telah selesai dengan membebaskan 2 tentara Israel itu yang namanya sama sekali tidak disebutkan.
Begitulah cerita tentang perjuangan Rachel Corrie. Dia tewas dengan nilai-nilai yang dianutnya sendiri. Sangat sulit menjadi seperti itu, menjadi ideal seperti itu. Begitu menginspirasi saat membaca kisahnya dan melihat foto-foto perjuangannya. Seorang Rachel, yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan perang Palestina-Israel, yang datang demi tegaknya kemanusiaan, rela mengorbankan nyawanya. Sebuah kematian yang amat mulia.
Lalu bagi saya, adakah keberanian untuk menjadi seperti Rachel Corrie? Meninggalkan kehidupan yang mapan menuju sebuah kehidupan yang tidak menentu. Meninggalkan posisi nyaman menuju suatu tempat yang menakutkan.
Dan sebuah tekad pun terpatri dalam diri saya, jika Rachel Corrie saja rela mengorbankan nyawanya demi palestina, maka saya akan malu sekali bila sebagai seorang saudara umat muslim di palestina, tidak melakukan apa-apa untuk mereka. Paling tidak sebait doa harus saya lantunkan setiap saat untuk mereka yang ada di Palestina.***(yas)

"I’m here for other children.
I’m here because I care.
I’m here because children everywhere are suffering
and because forty thousand people die each day from hunger.
I’m here because those people are mostly children.
We have got to understand that the poor are all around us and we are ignoring them.
We have got to understand that these deaths are preventable.
We have got to understand that people in third world countries think
and care and smile and cry just like us.
We have got to understand that they dream our dreams and we dream theirs.
We have got to understand that they are us.
We are them.
My dream is to stop hunger by the year 2000.
My dream is to give the poor a chance.
My dream is to save the 40,000 people who die each day.
My dream can and will come true if we all look into the future
and see the light that shines there.
If we ignore hunger, that light will go out.
If we all help and work together, it will grow and burn free with the potential of tomorrow."

—Rachel Corrie, aged ten,
recorded at her school’s Fifth Grade Press Conference on World Hunger


WE MISS U RACHEL...


January 8, 2009
at warnet...
So inspirational!








Saturday, January 3, 2009

CONDOLENCE FOR GAZA

Rasanya seperti sebuah jarum menusuk-nusuk dadaku, saat kudengar kabar itu melalui sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam inbox HP-ku. Berita itu tentang sebuah negeri yang sampai saat ini masih saja terluka, Palestina. Si pengirim pesan itu meminta saya untuk mendoakan saudara-saudara semuslim yang ada di Palestina, tepatnya di Gaza. Sang Durjana, Israel Laknatullah, telah meluluh lantakkan kota kepemilikan HAMAS. Korban banyak yang jatuh bergelimpangan, mulai dari pasukan Hamas itu sendiri sampai yang lebih menyakitkan, wanita dan anak-anak pun menjadi korban kebiadaban itu.

Lalu saya teringat akan kunjungan saya ke Gramedia tanggal 24 Desember lalu. Saat itu saya menemukan sebuah buku bagus berjudul “LET ME STAND ALONE”. Buku itu merupakan sebuah jurnal seorang aktivis anti perang asal Amerika Serikat, Rachel Corrie, yang tewas setelah dilindas oleh bulldozer Israel. Ada perasaan iri sekali dengan wanita muda itu. Bagimana tidak? Dia yang tidak punya kaitan apa-apa dengan Palestina rela mengorbankan nyawanya demi mencegah tentara durjana itu menghancurkan rumah seorang warga Palestina. Mungkin secara teori kita bias bilang, “Ngapain juga gue rela berkorban sampe ngorbanin nyawa Cuma buat rumah orang yang gue ga kenal sama sekali,”. Tapi rasa kemanusian yang merupakan fitrah semua manusia tidak bias dipungkiri. Dan terjadilah aksi tolol tentara Israel yang mengaku tidak melihat Rachel ada di depan bulldozer itu. Mungkin kalau Rachel menutupi tubuhnya dengan sarung dan duduk berjongkok sambil tidur di depan bulldozer itu, bisa jadi alasan itu tentara itu masuk akal. Tapi ini, Rachel mengenakan jaket berwarna jingga menyala sambil teriak-teriak dengan megaphone. Sangat tidak masuk akal sekali alasan itu. Lebih parahnya lagi, negara tempat Rachel lahir dan dibesarkan cuma bisa bilang, “Salah Rachel sendiri deh, ketauan ada konflik di Rafah malah kesana,”. Hufff…So stupid that statement!

Dan sekarang Israel laknat itu mulai menunjukkan aksinya lagi. Gaza digempur habis-habisan dan dengan segala cara. Tidak peduli siapa yang akan tewas disana. Dan seperti biasa juga, negara-negara lain Cuma bisa mengecam tanpa berbuat apa-apa. Seolah-olah para raksasa dunia itu takut oleh sang kurcaci kerdil bersenjata. Amerika malah mendukung tindakan Israel dan menyalahkan Hamas atas kejadian ini (sama sekali ga ngaruh Obama atau bukan yang jadi presiden, Amerika tetep aja jadi budak Israel). Lebih fool lagi, Mesir yang malah membiarkan warga sipil Palestina tewas dan kelapan dengan tidak membuka pintu perbatasan antara Gaza dan Mesir. Bikin hati dongkol aja!

Kemudian secara bersamaan terjadilah aksi yang menentang agresi Israel ke Gaza. Di London, semua muslim dan aktivis perdamaian turun ke jalan menentang aksi Israel. Di Australia, umat muslim disana mengumpulkan uang untuk saudara mereka di Gaza. Di Yunani, para mahasiswa yang berdemo nyaris bentrok dengan aparat keamanan. Di New York, terjadi aksi mengecam dan mendukung Israel. Di Lebanon, semua umat Islam tumpah ruah di jalan-jalan kota sambil berteriak-teriak mengutuk Israel. Orang-orang Yahudi sendiri pun mengecam kebiadaban zionis Israel itu (jelas kan, kalo orang-orang Israel itu bukan Yahudi tapi orang ga punya agama). Dan di Amerika Latin, para wanitanya mengenakan kafiyeh khas Palestina sambil berteriak-teriak di depan kedubes Israel (untung di Indonesia ga ada kedutaan Israel.Kalo ada, jangan harap bisa balik kesana sebelum ditimpukkin dulu).

Hampir semua negara lalu melakukan aksi memberikan bantuan sekadar rasa kemanusian (bukan untuk membela Palestina). International Solidarity Movement, tempat Rachel Corrie bergabung, mengirimkan kembali aktivis-aktivis mereka yang akan dijadikan “perisai hidup” bagi warga Palestina. Iran siap menyiapkan para mujahidnya untuk membantu pertempuran (dananya mana nih?). Malaysia memberikan sejumlah ringgit untuk dikirim langsung kesana. Indonesia sendiri, melalu menteri kesehatan Siti Fadhilah Supari menyatakan memberikan bantuan 1 juta dollar dan beberapa ton obat-obatan. FPI siap memberangkatkan para mujahidnya untuk berjihad ke Gaza (perasaan bikin statement kayak begini melulu deh). Dan yang bikin saya makin cinta sama PKS, anggota fraksi di DPR menyumbangkan dana sekitar 1 milyar rupiah untuk Palestina. Apakah harus ada kejadian yang menyayat hati terlebih dahulu agar semua bangsa tersadar? Agar semua umat Islam bersatu?

Beberapa hari setelah itu, saya pun menemani mentor-mentor saya di SMAN 43 untuk ikut aksi damai mahasiswa dan pelajar tentang Palestina. Mentor-mentor saya yang masih awam akan aksi seperti ini pun terlihat bersemangat mengikuti aksi ini. Tak lupa mereka memasukkan beberapa rupiah mereka ke dalam kotak berjalan yang dibawa oleh beberapa orang ikhwan maupun akhwat. Mereka juga berteriak-teriak mengutuk kebiadaban Isarel dan sesekali mengumandangkan takbir.

Lalu hati saya seolah melayang menuju negeri Palestina. Melihat saudara-saudara saya dibantai dengan tidak berperikemanusiaan. Melihat seorang anak kecil ditembak kepalanya tanpa tahu salah apa dia sebenarnya. Melihat seorang wanita tua menangis melihat rumah peninggalan suaminya yang syahid dihancurkan oleh tentara biadab itu tanpa rasa belas kasih. Dan melihat gelora semangat para mujahid saat mereka melihat dukungan dari saudara-saudara mereka di seluruh dunia. Sehingga air mata mereka pun jatuh menetes membasahi janggut-janggut mereka.

Aksi semakin panas dan bergairah (walaupun sebenarnya kordinasinya tidak baik karena tidak ada komando aksi yang pasti). Polisi semakin banyak berdatangan membuat border di belakang para demonstran. Sebagain mahasiswa terlihat melaksanakan sholat ghaib untuk para mujahid di Palestina.

Di tengah kerumunan ramai itu seolah-olah aku melihat Rachel Corrie hadir. Saya merasakan dia menyaksikan semua ini. Semua aksi dukungan untuk negara Palestina. Air matanya berderai, lalu dengan sedikit kata dia bergumam, “perjuangan kita tidak akan pernah sia-sia”. Lalu dia tersenyum mengingat kematiannya yang mungkin sebagian orang menilainya sia-sia. Tetapi bagi warga Palestina, Rachel adalah salah satu makhluk langka. Hanya sedikit saja warga non Palestina yang mau peduli pada Palestina. Bahkan tak ada yang sampai mau mengorbankan nyawanya seperti Rachel melakukannya.

Air mata saya pun berdesakan ingin keluar. Tetapi keburu saya menghilangkannya. Setelah itu saya terbayang hal apa yang bisa saya lakukan untuk Palestina? Untuk saudara semuslim saya itu? Rasanya 1 dollar yang saya berikan belumlah bisa dikatakan sebuah bantuan yang nyata. Ingin rasanya saya pergi ke Palestina dan menjadi perisai hidup bagi saudara-saudara saya itu. Malu rasanya pada Rachel Corrie, Thomas Hurndall, dan James Miller, yang tidak ada sangkut pautnya dengan Palestina rela mati demi tegaknya kemanusiana di Palestina, demi mewujudkan nilai-nilai yang diyakininya. Sedangkan saya kalupun ada kesempatan itu untuk pergi ke Palestina mungkin saya terbentur pada 1001 pertimbangan. Bagimana dengan makan disana? Bagimana kalau mau mandi? Bagimana kalau mau buang air? Bagimana kalau terkena peluru nyasar? Dan lainnya.

Wahai saudara-saudarku di Gaza… maafkanlah seorang saudaramu di sini yang belum bisa memberikan sesuatu yang berarti bagimu. Masih enak-enakan tidur di atas kasur. Masih lupa berdoa untuk keselamatanmu. Masih sering lupa menyisihkan uang untuk orang lain.

Maafkanlah kalau sekarang ini hanya bisa turut berduka tanpa bisa menghilangkan duka itu. Maafkanlah kalau masih hanya sedikit doa yang teruntai dan beberapa dollar yang terbayar. Ingin rasanya lebih dari itu, tetapi…

Ya Allah….jagalah saudara-saudaraku yang ada di Gaza…mungkin damai tidak akan pernah terjadi…jadi Ya Allah (Yang Maha Perkasa), bantulah meneguhkan tekad mereka untuk selalu siap berjihad di jalan-Mu…Ya Aziz…Ya Qahar…Ya Ghaffur…***(yas)

Sabda Nabi SAW. “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Ia menimpakan cobaan kepada mereka. Maka siapa yang ridha, mendapat keridhaan Allah dan siapa yang murka, mendapat murka Allah”

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

my work room

Januari 1st,2009

When I very inspired by Rachel Corrie

Allah will do best for us always forever!
FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us