Wednesday, April 8, 2009

HARAPAN ITU MASIH ADA

TANGGAL 9 APRIL 2009
JANGAN LUPA....
Pojok Kanan ataS...
Untuk DPR/D lebih BERSIH...
Salah memilih akan menyesalllll...!!!!

Friday, April 3, 2009

RASULULLAH YANG TERLUPAKAN

-untaian cinta mengenangmu-


Apa kabar Ya Rasul? Berabad-abad lamanya sudah Kau meninggalkan kami disini. Hanya cerita dan riwayat hidupmu yang hingga kini tak pernah terlupakan oleh semua manusia. Selalu hidup dalam sanubari kami. Menimbulkan sebuah asa dan kerinduan yang mendalam. Sungguh, sejarahmu menimbulkan satu kerinduan yang teramat sangat. Walaupun diriku dan dirimu tidak pernah bersua. Namun dari sejarahmu saja, aku termat ingin berjumpa denganmu. Apalagi jika aku hidup di zamanmu. Mungkin kerinduan ini melebihi segalanya, ya kecuali kerinduan ku juga kepada Allah Rabbul Izzati. Jadi sangatlah wajar jika Umar bin Khatab begitu marahnya saat dia mendapatkan kabar tentang wafatnya dirimu. Hingga dia pun berteriak, "Akan kupenggal siapa saja yang mengatakan Rasulullah sudah mati!". Suatu hal yang sangat wajar ketika seseorang tidak menginginkan kehilangan sesuatu yang begitu termat dicintainya. Yaitu Engkau, Ya Rasulullah, Muhammad bin Abdullah.

Rasulullah cintaku, sebentar lagi peringatan hari kelahiranmu akan tiba. Masih teringat dengan jelas saat kubaca lembar demi lembar cerita dalam Sirah-mu kau akan terlahir di muka bumi. Bunda Aminah begitu tegarnya mengandung dirimu. Dalam kesepian sepeninggal kekasih hatinya, yaitu Ayah mu, Abdullah. Dan diapun melahirkan dirimu. Pada saat itulah segala keajaiban terjadi. Kerajaan Kisra Parsi runtuh tiba-tiba, api abadi di biara Majusi padam tiba-tiba, dan sebuah cahaya putih muncul di langit Mekkah. Itulah tanda seorang manusia besar akan tiba. Seorang pemimpin besar yang tak seorang pun mampu untuk menandinginya. Seorang pemimpin yang bisa memadukan unsur ketegasan sekaligus kasih sayang. Seorang pemimpin yang tidak pernah minta dilayani oleh ummatnya tetapi justru merasa bersalah bila tidak bisa memenuhi kebutuhan ummatnya. Ya Rasul, sumber ketaudanan kami.

Namun sungguh malang nasibmu Ya Rasul, tidak berapa lama setelah Halimah memulangkanmu kepada Ibundamu tercinta, Allah berkehendak untuk memanggilnya. Pada saat kau senang bermanja-manja dengan Ibumu tercinta, pada saat seluruh kasih sayang Aminah tercurah padamu, kau pun harus merelakan kepergian orang terkasihmu itu. Sungguh sebuah perjuangan yang sangat berat untukmu. Namun Allah telah menakdirkan cinta untukmu suatu saat nanti. Kiranya hal seperti inilah yang mungkin tak sanggup untuk aku hadapi. Berbeda denganmu yang walaupun ada air mata tapi kau tetap tegar seperti batu karang.

Ya Rasul, dimenjelang miladmu nanti aku teringat kembali akan perjuanganmu yang begitu berat dan penuh onak dan duri. Kuteringat kembali saat orang-orang kafir itu menghalang-halangimu untuk bersembahyang di Ka'bah.Saat kau dan pengikutmu menunjukkan dakwah secara terang-terangan dan bergerak menuju Ka'bah untuk menunjukkan eksistensi mereka, para orang kafir itu justru menimpukimu dengan batu. Bahkan seorang wanita begis, istri Abu Lahab membakar jalan yang akan kau lewati dengan ranting-ranting pohon. Maka abadilah wanita itu sebagai pembawa kayu bakar di neraka. Lalu apakah aku tidak menagis saat kau sedang bersujud dalam sholatmu di depan Ka'bah lalu orang-orang kafir itu menaruh kotoran dan jeroan binatang di atas punggungmu? Bahkan anakmu, Fatimah Az-Zahra yang datang dan membersihkan kotoran itu pun menangis dan sambil terisak dia mengatakan, "Wahai ayah, begitu berat perjuanganmu,". Siapa yang tega melihat ayahandanya terkasih dilecehkan oleh orang-orang kafir? Tapi kau tetap tersenyum dan tidak pernah mengeluh. Selalu saja kau katakan, "aku tidak pernah merasa terganggu dengan hal ini,".

Dan Rasulullah, kuingat juga, saat orang-orang kafir itu menimpuki mu dengan batu. Bukan batu biasa, tetapi batu gurun pasir. Mereka juga tak puas sampai disitu. Selain melempar, mereka juga meludahi dirimu. Tapi hebatnya Kau (dan aku tak yakin bisa mengikutinya), saat orang yang melempari dan meludahimu itu absen dari kegiatannya, kau malah menanyai kabarnya. Hingga kau mengetahuinya dia terbaring sakit, kau malah datang menemuinya dan mendoakannya. Subhanallah! Bukan hanya itu saja, begitu banyak deraan yang kau terima dari orang-orang kafir itu. Cercaan, makian, fisik, pengkhianatan, dan lainnya hingga membuat Malaikat penjaga gunung pun menawarkan pilihan kepadamu. " Ya Rasulullah, izinkan aku untuk menghancurkan mereka semua. Akan kuratakan gunung Uhud sebagai akibat perbuatan mereka kepadamu,". Tetapi dengan bijak dan senyummu yang sangat khas kau mengatakan, "Tidak usah kau lakukan itu, kalaupun mereka tidak bisa menerima Islam sekarang aku masih berharap anak dan cucu-cucu mereka akan mendapatkan hidayah,". Sellau tak ada amarah yang meluap-luap.

Kemudian, para kafirin yang melihat kau tidak akan tergoyahkan dengan cara apapun untuk meninggalkan Islam, menawarkan jalan keluar yang menurut mereka adil. Melalui pamanmu terkasih, Abu thalib, mereka menawarkan agar kau menyembah berhala sehari, lalu mereka di hari berikutnya mereka akan menyembah Allah. Dengan tegas tetapi santun kau pun mengatakan, "Demi Allah, paman, andaikan matahari ada di tangan kananku dan bulan ada di tangan kiriku, tak akan kutukar Islam dengan suatu apapun,". Sebuah penolakan yang amat berani disaat kondisi kekuatan kaummu yang lemah.

Sejarah pun mencatat saat kau dilanda kesedihan. Mungkin semua orang yang membaca riwayatmu pada bagian ini juga akan menitikkan air mata. Saat kau kehilangan wanita yang paling kau cintai, Bunda Khadijah. Saat istri tercintamu itu meninggal dunia karena sakit. Kau pun berduka untuk beberapa saat. Kau selalu memikirkan dia. Kau enggan untuk makan dan minum dan selalu terbayang-bayang istrimu terkasih itu. Wajar kau begitu kehilangan dirinya. Dialah sumber kekuatanmu yang lain setelah Allah. Dialah yang memelukmu dengan erat usai kau berjumpa dengan malaikat Jibril di gua Hira. Dialah yang memberikan semua hartanya untuk fisabilillah disaat yang lain justru enggan untuk berinfak. Dialah yang ada di saat hatimu berduka. Dialah yang membantumu meringankan segala beban dakwah. Dan dialah satu-satunya istrimu yang bisa memberikan keturunan untukmu. Jadi tentu saja cintamu untuk Bunda Khadijah lebih luas dari samudra di lautan.

Pada saat istrimu tercinta meninggal, kau pun harus ditinggalkan seorang paman yang selalu membela dirimu mati-matian. Dia menjadi tamengmu dari kejahatan orang-orang Quraisy. Dialah pamanmu terkasih, Abu Thalib. Kau begitu merasa kehilangan Paman terkasihmu itu. Tetapi yang menyedihkan bagimu atas kematian Abu Thalib adalah keengganan dirinya untuk bersyahadat walaupun secara penuh dia mempercayai bahwa Islam adalah agama yang benar. Dan kau pun terluka karenanya. Paman terkasihmu harus menjadi bagian penghuni neraka. Dukamu pun semakin bertambah.

Ya Rasulullah...banyak sekali kisah yang mungkin bisa kugoreskan di tulisan ini. Tentang para sahabat yang mengeluh kelaparan dan mengganjal perut mereka dengan satu batu saat sedang menggali parit dalam perang Khandaq, lalu mereka menjadi malu hati saat melihat dirimu mengganjal perut dengan dua batu. Tentang air mata Umar yang mengalir, saat melihat kondisi hidupmu yang serba kekurangan. Kau tidur beralaskan tikar sekadarnya, kau rela berpuasa berhari-hari, kau tinggal di rumah sederhana, dan Umar pun berujar, "Wahai Rasulullah, Raja Kisra tidur dengan nyaman di dalam istananya yang mewah. Kaisar Roma selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Sedangkan kau begitu sangat jauh berbeda dengan mereka. Padahal kau pemimpin yang lebih besar daripada mereka,". Dan Rasulullah pun hanya tersenyum tanpa banyak berkat-kata. Aisyah pun pernah bertanya-tanya saat dirimu sholat malam sampai kakimu bengkak-bengkak. "Ya Rasulullah, bukankah Allah sudah menjamin dirimu untuk masuk ke dalam surga, lalu untuk apa kau melakukan shalat sampai seperti itu?". Kembali tutur kata bijak terucap dari mulutmu, "Wahai Humaira, tidak bolehkah aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?". Wajar bila kemudian Allah menganjurkan semua hamba-Nya untuk mencontoh dirimu. Dia pun mematrikan anjuran itu dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 21 :

" Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Akhirnya, ada episode cinta dalam kisahmu yang selalu kukenang setiap saat. Kisahmu dengan seorang kakek Yahudi buta yang setiap hari kau datangi untuk menyuapinya. Kau kunyah makanan yang akan dimakan kakek itu hingga halus dan mudah ditelan oleh kakek itu. Tapi, kakek itu selalu bercerita hal yang sama padamu, "Tahukah Kau, ada seorang orang gila di Mekkah yang bernama Muhammad mengaku-ngaku dirinya sebagai Nabi terakhir? Sungguh tidak waras orang itu," dan caci-maki terlepas dari mulut kakek Yahudi tua itu. Tetapi kau (lagi-lagi) hanya tersenyum dan tak menanggapi omongan kakek itu. Suatu saat Abu Bakar sahabat terdekatmu datang pada Aisyah dan bertanya tentang sunnah-mu yang belum dijalaninya. "Wahai Aisyah putriku, apa hal yang sering dilaksanakan Rasulullah dan aku belum melakukannya?". Aisyah dengan sigap berkata, "Sesungguhnya, Rasulullah setiap hari selalu menyuapi seorang kakek Yahudi buta yang ada di pasar,". Abu Bakar pun bergegas untuk menjumpai kakek Yahudi tua itu. Sesampainya disana, dia menjumpai kakek itu yang sedang duduk menyendiri dan teracuhkan oleh suasana pasar. Kakek itu pun begitu bahagianya menyambut kedatangan Abu Bakar yang disangkanya Rasulullah itu. "Kemana saja kau nak, sudah beberapa hari kau tidak datang menemuiku?" ujar kakek itu dengan kerinduan yang besar. Abu Bakar tak menjawab. Dia sibuk menata hatinya. Lalu makanan yang ada di piringnya diambil dan disuapkan kepada kakek tua itu. "Puhhhh..." kakek itu memuntahkan makanan yang disuapkan Abu bakar. Abu Bakar terkejut. "Kau bukan yang seperti biasanya. Orang yang selalu menyuapiku selalu mengunyah terlebih makanan yang akn disuapkan kepadaku. Siapa kau?" Kakek tua itu marah. Abu Bakar pun tak dapat menahan tangisnya. Dengan terisak dia memaksakan diri untuk mengatakan hal yang pahit kepada kakek itu. " Orang yang selama ini menyuapi kakek sudah meninggal dunia," ujarnya berat. Kakek itu bertambah marah. "Jangan kau berbohong kepadaku. Katakan, siapa orang yang selama ini selalu menyuapiku? Yang tidak merasa jijik sedikit pun. Yang selalu kuceritakan hal yang sama tentang Muhammad si gila itu? Katakan padaku siapa orang itu?" Kakek itu menarah amarah sekaligus sesak didadanya. Dengan teramat berat Abu Bakar pun mengatakan hal yang sebenarnya. "Dialah orang gila yang selalu kau caci maki. Dialah Muhammad Rasulullah,". Dan kakek itu pun ikut menangis. Sungguh sebuah kisah dalam lembaran catatan dirimu yang begitu mulia.

Hingga pada detik-detik kematianmu pun dialog yang terucapkan olehmu dan malaikat Izrail adalah pikiranmu tentang ummat mu yang akan kau tinggalkan. Saat Izrail berkali-kali merasa tidak tega melihat kau menahan sakitnya sakratul maut. Tapi di tengah sakit yang melanda itu yang terucapkan adalah, "Bolehkah aku saja yang memanggung semua rasa sakit sakratul maut ummatku wahai Izrail. Agar ummatku tak perlu merasakan sakitnya sakratul maut?". Izrail hanya menggeleng. Dan kalimat terakhir yang kau ucapkan adalah, "Ummati...ummati...ummatku...ummatku...". Dan kau pun pergi menghadap Allah. Membuat semua makhluk di muka bumi ini menangis akan kepergian manusia mulia yang tiada duanya.

Ya Rasulullah...sungguh rindu ini membuncah saat kutulis kisah tentangmu. Betapa hamba telah lama melupakanmu. Namun begitu namamu selalu terpatri dalam hatiku. Menyisakan sebuah sudut kerinduang di relung jiwaku yang terdalam. Hingga kuinginkan suatu saat nanti rindu itu bisa tertunaikan. Saat kubisa melihat wajah Purnamamu. Saat kubisa mengecup tanganmu dan memeluk dirimu seerat-eratnya. Izinkan aku pengikutmu yang dhoif ini bertemu denganmu suatu saat nanti. Untuk saat ini biarlah kutanggung sendiri penderitaan akibat rindu yang tertahankan ini. Asalkan kubisa bertemu denganmu, apapun akan kulakukan. Tapi maafkan aku bila terlalu banyak sunnah mu yang tak bisa kulaksanakan. Maafkan aku yang begitu sulitnya mengikuti jejak langkahmu. Maafkan aku yang bisa menangis karena rindu padamu lalu setelah itu melupakanmu lagi. Maafkan aku Ya Rasulullah...

Dan di milad mu ini, hanya seuntai shalwat yang bisa kupanjatkan padamu sebagai hadiah dariku. Tetapi tetaplah kau bersemayam di hatiku. Untuk selamanya.

Ya Allah...cintaku untuk-Mu dan untuk nabi-Mu semoga tak pernah hilang dalam sanubariku...

Semoga cinta dan rindu yang terpendam itu bisa mekar menjadi bunga pada waktunya nanti...

Pada waktu kubertemu dengan-Mu dan dengan nabi-Mu...

Hingga hilang segala resah dan gundah yang selama ini mendera...

Dan semuanya menjadi indah pada waktunya...

Dialog Rasulullah dan Umar Ra. pun terputar kembali di benakku.

" Wahai Umar apakah kau mencintaiku?" tanya Rasulullah suatu ketika

" Iya wahai Rasulullah, aku mencintai dirimu melebihi aku mencintai keluargaku dan seperti aku mencintai diriku sendiri," jawab Umar.

" Wahai Umar, itu bukan bukti cinta yang benar," koreksi Rasulullah.

Umar terperanjat kaget. " Lalu bagaimana aku harus mencintaimu Ya Rasulullah?"

" Kau harus mencintai aku melebihi kau mencintai dirimu sendiri. Itulah jalan cinta padaku yang benar," senyum Rasulullah merekah.

Cintaku pada Rasulullah melebihi luasnya langit dan bumi. Tetapi bukti cintaku padanya baru sebesar sebutir pasir di pantai. Astaghfirulloh...Bantu aku mencintaimu lebih Ya Rasulullah...***(yas)


My work room, March 6, 2009

at 02.30 am

accompanied with shalawat from Winamp

Ingin kubuktikan cintaku padamu...

Buat kelas 3 SMAN 43,

SELAMAT BERJUANG!!!

FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us