Friday, August 14, 2009

HIDAYAH UNTUK DELLA, FETY DAN DINDA

Malam itu sebuah pesan masuk ke HP Nokia 7610 milikku. Tapi untuk beberapa saat aku tidak mengindahkannya karena HP itu kuletakkan di kantongku dalam keadaan silent tanpa getar. Tak berapa lama kemudian saat kubaca isi pesan itu, sungguh sangat menggetarkan diriku. Seorang muridku yang cantik dan cerdas dan menjadi salah satu primadona di sekolah bercerita padaku bahwa tepat di usianya yang ke-17 tahun dia memutuskan untuk berjilbab. Subhanallah…sungguh syukur yang tidak terkira kupanjatkan kepada Allah pemilik semesta alam dan Sang Pembolak-balik hati manusia. Aku tidak pernah menyangka dia akan menutup auratnya secepat itu. Malah salah seorang temannya yang kuanggap akan menutup auratnya terlebih dahulu ketimbang dia. Tapi sungguh, Allah adalah pemilik rahasia setiap ummatnya. Tak terasa kegembiraan itu bergelora di dalam hatiku. Hingga tak terasa air mata haru menggenangi kedua bola mataku.
Beberapa bulan dan hari sebelumnya aku juga sudah mendapatkan kabar dari kedua muridku yang lain, bahwa mereka sudah memakai jilbab juga. Dia seperti yang sekarang, dua muridku yang sebelumnya, kuketahui mereka memakai jilbab dari foto yang mereka pajang di situs jejaring sosial Facebook. Saat kutanyakan apakah mereka berjilbab? Keduanya mengkonfirmasi padaku dengan mengatakan iya. Aku senang sekali. Persamaan yang kudapati dari ketiga muridku itu adalah mereka semua adalah anak-anak yang cerdas, aktif, dan nyaris tidak mempunyai masalah selama berada di sekolah. Mereka adalah Della Afnita si Aktif, Dinda Nurul Maulida si Pintar, dan Siti Fatimah yang biasa dipanggil Fety si Cantik. Selanjutnya akan kuceritakan bagaimana kepribadian dan kisah mereka.
***
Della adalah gadis yang sangat aktif sekali. Pertama kali aku mengenalnya saat aku mengajar di kelasnya, XI IPA 3. Waktu itu dia duduk di depan tak jauh dari meja guru. Aku tertarik padanya karena dia begitu antusias saat kuterangkan pelajaranku. Sholatnya yang seringkali kutanyakan juga tidak pernah ada yang bolong. Dia begitu tertarik dengan masalah agama. Tapi hal itu tidak membuatnya menjadi orang yang kuper, justru Della adalah anak yang mudah bergaul, vokal dan sangat aktif sekali. Belakangan aku tahu, kalau dia juga aktif di Remaja Masjid Sunda Kelapa. Pokoknya yang namanya Della setahuku adalah anak yang tidak pernah merasa lelah. Dia begitu berwarna hidupnya. Jalan kesana, jalan kesini, dan yang membuatku bangga, dia selalu ceria setiap saat. Della juga anak yang pintar, hormat pada guru dan percaya diri. Della memang tidak seperti gadis remaja pada umumnya yang gemar berdandan, yang kuperhatikan Della hanya tampil sederhana dan biasa-biasa saja. Tidak pernah mengenakan sesuatu yang aneh-aneh. Tapi dia begitu lepas dan tidak terkekang. Dengan anak-anak Rohis dia bergaul baik, dengan anak-anak gaul pun dia juga berteman dengan baik Seringkali dia bertanya saat aku menjelaskan pelajaranku. Nilainya di pelajaranku juga selalu bagus. Intinya Della adalah anak yang begitu menikmati masa remaja dan sekolahnya.
Hingga seuatu saat, aku membaca status di facebooknya yang menyatakan bahwa dia sedang memutuskan untuk segera berjilbab atau menundanya dulu. Banyak sekali comment yang berada di bawah statusnya. Salah satunya adalah comment yang mengatakan “ lebih baik jilbabi hati dulu aja del, baru nanti jilbabi rambut. Daripada berjilbab tapi gak bener,” . Duh ingin kujewer si pemberi komentar ini. Temanmu lagi punya niat baik malah di suruh ditunda sih? Lalu kutulis sebuah comment di status Della, “Lebih baik kalo sudah punya niat langsung dikerjain aja Del daripada ditunda-tunda. Yang penting jilbabin dulu, baru nanti perlahan-lahan Della memperbaiki diri Della. Daripada Cuma sekedar niat, ntar keburu dijemput Malaikat Maut loh…hehehehe..” . Dan setelah itu ada pembicaraan mengenai jilbab antara aku dan Della. Sampai akhirnya saat kupantau melalui Facebook Della belum juga berjilbab dan lama kemudian aku sudah tidak pernah memantaunya lagi. Hingga suatu hari, saat aku melihat pic profilenya di facebook aku melihat dia sedang berdiri mengenakan jilbab bersama dengan temannya yang bernama Tyas, salah seorang muridku yang lain yang sudah berjilbab terlebih dahulu. Lalu saat kukirimkan pertanyaan melalui wall-nya, dia pun mengatakan bahwa dia Alhamdulillah sudah berjilbab. Senang rasanya melihat Della menepis semua keraguannya dan akhirnya berjilbab. Aku sudah tahu sedari dulu kalau Della adalah salah satu muridku yang cerdas, yang suatu saat pasti akan memutuskan akan memutup auratnya. Dan itu terbukti sekarang. Semoga kau istiqomah ya Del…
***
Kalau muridku yang ini namanya Dinda Nurul Maulida. Aku juga baru mengenal Dinda saat mengajar di kelas XI A1. Gadis bermata sipit ini mempunyai kesamaan denganku, sama-sama menyenangi bahasa Inggris. Wajar saja Dinda menyenangi bahasa Inggris, karena dia adalah gadis yang pintar di kelas. Dinda pun aktif di kepengurusan kelas sebagai sekretaris atau bendahara. Dia juga tercatat sebagai anak OSIS di sekolah. Selain pintar Dinda juga termasuk aktif di sekolah. Di luar sekolah yang kutahu dia mengaji dengan guru privat atau guru yang berada di lingkungan rumahnya. Dinda juga selalu kritis bertanya tentang berbagai masalah agama saat pelajaranku berlangsung. Tapi dia tidak pernah menyinggung masalah jilbab. Tidak pernah kami berdialog tentang jilbab. Justru dia berdialog denganku tentang adiknya yang austis (apa kabar Aziz sayang?). Aku bangga sekali dengan sikap Dinda sebagai seorang kakak yang menerima adikknya apa adanya dan tidak malu mempunyai adik yang autis. Ya aku pernah melihat seorang Ibu yang punya anak autis yang aktifnya bukan main pada saat aku sedang berada di puskesmas. Sungguh aku terenyuh melihat perjuangan Ibu itu, hingga aku begitu berempati pada mereka yang menderita autis ataupun keluarga yang mempunyai anggota autis. Ingin sekali suatu waktu aku mengajar anak-anak autis seperti pengarang favoritku, Torrey Hayden. Sehingga jika melihat sesuatu atau anak autis aku selalu teringat dengan adik Dinda. Bagaimanapun juga aku ingin terus memotivasi Dinda untuk selalu menjadi kakak yang sabar dan sayang kepada adiknya.
Dan lama kami tidak saling bertemu setelah dia mulai belajar intensif di sekolah dengan konsekuensinya pelajaran yang tidak diujikan dalam UN (seperti pelajaranku) tidak dimasukkan lagi dalam jadwal rutin, maka aku pun tidak bertemunya lagi. Lama sekali aku tidak bertemu hingga suatu saat seorang yang bernama Adinda Nurum Maulida meng-add facebook ku. Dari namanya aku pun sudah tahu kalau itu adalah si Dinda. Tanpa ragu langsung aku mengkonfirmnya. Dia memang Dinda, muridku yang cerdas. Waktu itu di pic profile nya dia belum mengenakan jilbab. Dan memang aku tidak pernah mengira dia akan segera memutuskan untuk berjilbab. Tapi tak lama kemudian, aku melihat pemberitahuan yang mengatakan, “Adinda Nurum Maulida menambahkan 5 foto baru”. Di foto-foto itu aku melihat Dinda mengenakan jilbab. Penasaran, aku langsung meng-klik profil Dinda, dan disitu seorang muridku yang cerdas terpampang dengan mengenakan jilbab. Langsung saja kukirim wall menanyakan jilbab yang dia kenakan. Lalu saat aku sedang berada di busway menuju kampung rambutan, kubaca wall balasan darinya, “Iya Kak, Alhamdulillah…abis ikut ujian kemana-mana gak lulus-lulus ya udah akhirnya pake jilbab ajah…hehehe…”. Aku senyum sendiri membaca wall balasan darinya. Memang kalau Allah sudah berkehendak untuk membuka hati seseorang pasti tak akan ada yang mampu menolaknya. Dan itu juga yang terjadi pada si cerdas Dinda. Walaupun mungkin alasannya tidak masuk akal, tapi gadis secerdas dia pasti tak akan gegabah untuk sekedar saja memakai jilbab. Ada gerimis lagi di hatiku saat mengetahui si cerdas itu berjilbab. Sungguh, tak ada kata yang mampu kuucapkan selain memuji kebesaran-Nya. Semoga dirimu istiqomah untuk terus mempertahankan hijabmu ya din…
***
Lain lagi dengan seorang muridku yang cantik bernama Siti Fatimah. Gadis tinggi berkulit putih ini akrab dipanggil dengan Fety. Dialah gadis yang mengirim SMS padaku malam itu. Tepat di ulang tahunnya yang ke-17 dia memutuskan untuk menutup auratnya. Sungguh tak terkiranya aku bahagia. Bahkan sempat kuingin melakukan sujud syukur atas kabar itu. Tak pernah terkirakan olehku sebelumnya. Aku malah cenderung berpikir kalau Fety adalah gadis yang lebih mementingkan tingkah laku ketimbang jilbab. Maksudku, asalkan tingkah lakunya baik baginya tak berjilbab pun tak masalah. Tetapi dugaanku salah sama sekali.
Aku mengenal Fety saat dia masih duduk di kelas 1 SMA. Waktu itu aku kebagian mengajar Pembinaan Rohani di kelas XF. Kelasnya Fety. Dia adalah sosok gadis yang cerdas, ceria, mudah berkawan, dan tidak sombong. Waktu itu dia duduk bersama Winda, murid kebanggaanku lainnya. Semua orang di sekolah tahu kalau Fety adalah murid yang cantik, tak lama dia pun menjadi primadona di sekolah. Banyak sekali yang menitip salam lewatku untuknya. Tapi waktu itu aku belum begitu akrab dengannya.
Saat kelas 2, secara kebetulan aku juga mendapat kesempatan mengajar di kelasnya. Di sinilah interaksi diriku dengannya yang akrab mulai terbangun. Yang kuingat pertama kali dia mengirim sms padaku menanyakan suatu hal. Dan dari situlah kemudian aku mulai akrab dengannya. Seringlah saya dan Fety saling ber SMS. Banyak topik yang kami bicarakan. Mulai dari peristiwa pembunuhan di sekitar rumahnya, pertanyaan dirinya tentang agama, sampai aku yang bertanya padanya tentang kisah Cinta Fitri (hehehe). Terkadang dia juga sering mengingatkan jam tayang sinetron kesukaannya itu. Di kelas pun banyak pertanyaan yang juga sering diajukan padaku. Setiap kali memeriksa lembar jawaban di ulangan Fety, aku pasti langsung mencari lembar krtik dan saran yang biasanya selalu diisinya dengan penuh kata-kata yang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Hobinya menulis, kuharapkan suatu waktu bisa terwujudkan dalam sebuah karangan atau buku. Karena kutahu tulisannya begitu bagus. Fety juga senang sekali dengan anak-anak kecil, wajar kalau kemudian dia bercita-cita menjadi guru TK.
Dia pulalah yang pertama kali langsung protes kepadaku saat pelajaran yang kuajarkan akan dihapuskan oleh pihak sekolah. Tak lama sesudah memasuki semester 2 di kelas 3, interaksiku dengannya menjadi berkurang. SMS yang dia kirimkan rata-rata hanya berkenaan agar aku mendoakan dirinya untuk lulus dari UN. Oiya, satu juga yang masih aku ingat sampai sekarang (dan menjadi hutangku), terakhir dia bertanya padaku, mengapa Nabi itu tidak ada yang perempuan? Sebuah pertanyaan yang belum sempat kujawab karena aku tidak yakin bisa menjelaskannya secara gamblang melalui SMS dan aku tidak tahu kapan bisa bertemu dengannya lagi. Hingga datanglah berita itu. Berita yang mengabarkan bahwa diri sudah berhijab. Subhanallah…Sungguh Fety adalah murid yang cerdas yang kuyakin tidak sembarangan membuat suatu keputusan. Semoga keputusanmu itu mendapatkan Ridho dari Allah ya Fety…
***
Malam ini sebelum aku memejamkan mata, ingin kupanjatkan sebait doa hanya unutuk kalian, murid-muridku yang telah memutuskan berjilbab Insya Allah dengan penuh kesadaran…

Ya Allah, kabulkanlah apa yang menjadi pengharapan mereka saat mereka memutuskan untuk memenuhi kewajiban-Mu…
Sayangilah mereka dengan setulus cinta dan kasih sayang-Mu…
Jadikanlah mereka selalu istiqomah di jalan-Mu dan dalam menutup aurat mereka…
Jadikanlah mereka cinta terhadap jilbab yang mereka kenakan hingga dengan penuh kesadaran mereka akan terus menjaga sampai akhir hayat mereka…
Ya Allah, lapangkanlah rezki mereka, permudahlah hidup mereka dan ridhoilah mereka…
Semoga jilbab yang hari ini mereka kenakan bisa menjadi penghalang api neraka untuk menyentuh kulit kepala mereka, menjadi saksi di hari kiamat akan keistiqomahan mereka, dan menjadi pelindung mereka…
Pertemukanlah mereka dengan Bunda Khadijah, Bunda Aisyah, bunda Asiah, di sebuah tempat terindah di dalam surga-Mu…
Dan jadikanlah mereka sebagai wanita yang mendapatkan syafa’at dari Rasulullah SAW…
Kabulkanlah doa hamba Ya Allah…untuk mereka, adik-adik hamba yang sudah memutuskan mengubah jalan hidup mereka…
Amiin Ya Rabbal Alamiin…..

Semoga dirimu istiqomah ya dek…^__^***(yas)




My work room, July 31, 2009
at 03.35 am
kutulis penuh cinta untuk murid-muridku tercinta
Siti Fatimah dan Dinda Nurul Maulida.
B’Yass bener2 terharu nih…:,)

SELAMAT JALAN BU USTADZAH...

“ Malam minggu kok masih ngaji sih, jang?”
Suara Bu Ustadzah itu terngiang lagi di telingaku. Pada malam itu aku sedang menyampar temanku untuk berangkat halaqoh bersama. Saat itu Bu Ustadzah sedang ada di dalam rumah karibku, bertemu dengan ibu temanku. Aku hanya menjawab pertanyaan Bu Ustadzah itu dengan seulas senyum.
Kuteringat lagi episode malam minggu itu. Sungguh tidak kusangka dan kuduga, siang tadi saat kumenulis catatan ini, Bu Ustadzah shalihah itu sudah pergi meninggalkan semuanya. Kembali kepada Allah SWT. Ada sebait kenangan yang ingin kutulis untuk mengenang beliau. Walaupun aku tidak pernah secara akrab mengenalnya tetapi ada sedikit kenangan yang mungkin bisa membuat kita semua teringat akan suatu pelajaran berharga yang selalu diingatkan oleh Rasulullah SAW, yaitu KEMATIAN.
“ Dan ingatlah pada penghancur segala kenikmatan dunia, yaitu kematian”
Malam itu, hari Kamis 6 Agustus 2009, seusai pulang mengajar privat dan mampir sebentar ke warnet, Aku berjalan menyusuri gang sempit menuju rumah teman akrabku. Pada saat aku ingin berbelok, di muka gang tampak banyak orang yang sedang berkerumul yang awalnya kumelihat tidak jelas apa yang mereka lakukan. Aku sempat menggerutu dalam hati pada orang-orang ini yang menurutku menghalangi jalanku saja (Astagfirulloh!). Namun setelah semakin mendekat pada pusat keramaian itu, aku baru menyadari bahwa keramaian itu tercipta karena ada seseorang yang sedang digotong menuju dokter umum yang memang letaknya tak jauh dari situ. Dua lelaki berbadan cukup besar itu tampak kewalahan menggotong orang itu. Beberapa Ibu-ibu mencoba untuk membantu dua laki-laki tersebut. Sekilas aku langsung melihat wajah orang yang digotong itu. Dia Bu Ustadzah. Tampak sekali tubuhnya lunglai dan tak berdaya. Dua lelaki itu memegang bagian bawah dan atas Bu Ustadzah. Anak perempuannya menemani di sampingnya.
“ Habis Isya tadi, Emak sesak nafas,” ujar anak perempuan Bu Ustadzah memberikan informasi pada para tetangga yang bertanya.
Sambil terus berjalan menuju rumah temanku yang letaknya bersebelahan dengan rumah Bu Ustadzah, aku ingat akan penyakit Bu Ustadzah itu. Pada waktu, aku dan teman-teman PKS DPRa Menteng Atas mengadakan Baksos dan pelayanan kesehatan di lapangan RW 013, tempat di mana Bu Ustadzah dan temanku berdomisili. Aku bertugas menjadi sie pendaftaran sekaligus pemeriksa tekanan darah. Saat itu di tengah keramaian para pengantri pelayanan kesehatan, dengan ditemani putrinya Bu Ustadzah datang dengan mulut yang terengap-engap. Temanku lalu menyampaikan pesan padaku bahwa putri Bu Ustadzah itu meminta izin agar ibunya diperiksa terlebih dahulu. Aku pun mempersilakannya. Karena kebanyakan para pengantri adalah murid-murid Bu Ustadzah, maka tidak ada yang protes akan keputusanku ini. Itulah yang kuingat tentang penyakit Bu Ustadzah.
Sesampainya di rumah temanku, aku menceritakan kejadian yang barusan kulihat. Setelah itu kami pun sibuk dengan pembicaraan yang lain.
Paginya, sekitar pukul 8, aku menerima SMS dari temanku yang mengabarkan bahwa Bu Ustadzah telah meninggal dunia! Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un. Rasa tak percaya menyergapi diriku. Rasanya baru saja semalam aku masih melihat wajahnya, dan sekarang sudah meninggal dunia. Ya Allah, itukah rahasia ajal yang tidak pernah bisa ditebak-tebak? Sebuah misteri yang hanya diri-Mu yang mengetahuinya? Maha Suci Engkau Ya Allah, Tuhan Pemilik setiap nyawa manusia.
Aku sengaja menyempatkan diri untuk sholat Jum’at di Masjid dekat rumah temanku hari itu. Seusai sholat Jum’at, beramai-ramai jenazah Bu Ustadzah disholatkan oleh para jama’ah. Dan setelah itu beramai-ramai kami mengantarkan Bu Ustadzah menuju ke peristirahatan terakhirnya. Aku pun sempat mendapatkan kesempatan untuk mengusung kerandanya. Setelah tanah kering itu ditaburi bunga dan dibacakan doa, maka perlahan orang-orang beranjak pergi meninggalkan makam Bu Ustadzah dalam kesendirian. Sedih rasanya aku melihat. Mungkin kemarin, atau seminggu yang lalu Bu Ustadzah masih bisa bersenda gurau, beraktivitas, dan lainnya maka sekarang yang ada hanyalah keheningan dalam keabadian. Sungguh jalan hidup anak manusia tidak ada yang pernah terkira.
Sepanjang perjalanan pulang yang kukenang bersama dengan temanku hanyalah kenangan baik dari Bu Ustadzah. Seorang wanita yang berumur 60 tahunan. Seorang yang bila dalam keadaan sehat sangat enerjik dan ramah terhadap tetangganya. Seorang yang menangani pengajian ibu-ibu 2 RT sekaligus. Seorang simpatisan Partai Dakwah, yang tak pernah absen untuk ikut setiap kampanye ataupun acara aksi lainnya. Seorang yang ketika bertemu dengan temanku selalu menanyakan, “kapan Partai Dakwah mengadakan kampanye?” (akan selalu terkenang sekali perkataan itu ustadzah). Seseorang yang walaupun sudah ditinggal suaminya bertahun-tahun yang lalu tetapi tidak pernah bergantung kepada orang lain. Seseorang yang sangat mencintai Al-Qur’an dan tidak mau masyarakatnya buta oleh Al-Qur’an. Seseorang yang......Ah, masih banyak sekali Bu Ustadzah kebaikan yang bisa kukenang. Mungkin kata-kata di tulisan ini akan penuh dengan kebaikanmu jika aku menuliskannya.
Kematian adalah sesuatu yang pasti akan kita hadapi. Dimanapun dan kapanpun bisa saja terjadi. Tapi tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi. Semuanya adalah kembali pada Allah. Jujur saja, aku pun takut mati. Bukan hanya takut pada proses kematiannya itu sendiri, juga pada dosa-dosaku yang menggunung tinggi. Pada dosa yang selalu kulakukan setiap hari dan terus menerus. Ya Allah adakah kesempatan bagi hamba untuk menggerus semua dosa itu sebelum aku berpulang ke pangkuan-Mu? Hanya peristiwa Husnul Khatimah saja yang kuinginkan pada saat aku mengalami proses kematian. Lalu dalam kesendiranku di pusara bertanah merah basah, kuingin hanya kebaikan ku saja yang dikenang oleh orang-orang yang mengenalku. Tapi, kebaikan apa yang telah kuperbuat? Sepertinya kebaikan itu tersembunyi di antara tumpukan keburukan yang mendominasi hidupku. Ya Allah, hanya kepada-Mu lah aku berharap dosa dan keburukanku hanya Engkau dan diriku saja yang tahu. Ya Allah, selamatkanlah hidupku.

Selamat tinggal pada semua, berpisah kita selamanya
Kita tak sama nasib disana, baikkah atau sebaliknya
Berpisah sudah segalanya, yang tinggal hanyalah kenangan
Diiring doa dan air mata, yang pergi tak akan kembali lagi

Selamat jalan Bu Ustadzah. Simpatisan Partai Dakwah yang sangat disayangi para kader dan masyarakat. Semoga Allah melapangkan jalanmu untuk bertemu dengan-Nya. Semoga Allah juga mempermudah urusanmu di kehidupan setelah mati ini. Selamat jalan Bu Ustadzah…***(yas)


Jakarta, My Room, August 8, 2009
03.25 am
Semoga hanya kebaikan yang dikenang…

UKHUWAH (PUISI)

Pagi ini dalam taman surgawi
Kulihat pucuk-pucuk ukhuwah mulai bermekaran
Rona cinta terpancarkan dari beningnya hati
Hasrat jiwa yang menggelora tak tertahankan
Untuk mengatakan cinta
Terbingkai indah dalam kasih sayang Ilahi Robbi

Siang ini pucuknya sudah mulai merekah
Menerbarkan aroma cinta yang terlihat indah
Membuat setiap mata ingin menatapnya penuh kasih
Menelusuri ruang jiwa terdalam dan mengisi kekosongan jiwa

Sorenya ukhuwah sudah menjadi bunga
Dengan balutan ketaatan dan ketaqwaan
Dihiasi rasa takut dan keimanan yang suci
Terangkai di dalam sanubari akan ketulusan fitri
Hingga detik pun tersa tak bertepi

Dan selepas malam dia sudah berdiri sendiri
Memasuki hati-hati setiap insan yang kering
Dan menyiramkannya dengan kasih
Hingga masanya diri ini
Pantas untuk disebut insan beriman


Jakarta, 11 Desember 2003

CERPEN : SENJA DI TEPI DANAU MICHIGAN

“ Duduk di sini saja Sarah, ” Pamela Lee-Haughton berhenti berjalan. Di hadapannya sekarang telah ada sebuah bangku panjang bercat putih berdiri kokoh di tengah rerumputan yang menghadap ke tepi Danau Michigan. Sore itu dia dan pasiennya, Sarah Brightman, tengah berjalan-jalan di Michigan Park yang berada di tepi Danau Michigan.
Sarah duduk perlahan di bangku panjang itu. Penampilannya sederhana sekali. Dia memakai rok panjang bermotif bunga-bunga coklat dipadu dengan atasan kaus turtle neck. Sebuah scarf berbahan licin dengan motif bunga-bunga menutupi kepalanya. Sebuah syal wool melingkar di lehernya.
Pamela hanya bisa menatapnya saja. Sarah merupakan pasien baru di tempatnya bekerja, Germaine Nichols Rehabilitation, sebuah tempat untuk orang-orang yang kecanduan drugs. Dua hari yang lalu orang tua Sarah membawanya kesini. Lalu Mrs. Elaine Joyner, kepala di rehabilitasi itu menyuruh Pamela merawatnya. Mrs. Joyner hanya memberikan data yang sedikit tentang Sarah. Dia berasal dari keluarga kaya di Boston. Seorang mahasiswi sophomore di Harvard University jurusan Astronomi. Gadis yang cemerlang. Tapi sayang dia harus mengalami kecanduan. Mrs. Joyner hanya mengatakan bahwa Sarah hanya kecanduan. Dan Mr dan Mrs Brightman membayar mahal perawat yang akan menjaganya.
“ Kau suka suasana hari ini Sarah? “ Pamela memulai pembicaraan. Dua hari belakangan ini dia tidak pernah mendengar Sarah berbicara. Kecuali kalimat “ Dia mencintaiku,” yang sering sekali diucapkannya.
Sarah tak bergeming. Dia masih menatap lurus ke depan. Ke tepi tanpa batas di Danau Michigan. Ada sinar di kedua bola matanya.
“ Kau tidak suka padaku Sarah? “ Pamela berusaha menggali pertanyaan lagi. Tapi yang didapatinya lagi-lagi sebuah kenihilan. Sarah masih tetap tak bergeming.
“ Baiklah, mungkin kau sedang menikmati suasana senja ini. Memang sangat indah. Michigan memang satu tempat terindah di negara ini. ” kata Pamela. Dia pura-pura menghirup udara senja hari. Matanya masih mengawasi Sarah.
“ Dia mencintaiku,” setelah beberapa saat Sarah berkata. Sangat pelan. Tetapi untuk suasana hening di tepi danau, suaranya bisa terdengar oleh Pamela.
Pamela tersedak. Itu lagi yang dikatakannya. Selalu begitu sejak awal dia masuk ke tempat ini. Kalimatnya selalu sama, He does love me. Tanpa sedikit pun Pamela tahu apa maksudnya. Sore ini dia tergelitik untuk bertanya, setelah selama ini dia tak pernah menghiraukannya.
“ Who does love you Sarah? “ tanya Pamela sembari memalingkan wajah ke arah Sarah. Menatapnya lekat.
Sarah tetap terdiam. Mulutnya berkomat-kamit sendiri. Like a spell! Pikir Pamela. Tapi dia tak tahu apa yang diucapkannya.
“ Siapa Sarah? “ desak Pamela pada akhirnya.
Sarah mulai memalingkan wajahnya. Tersenyum tipis ke arah Pamela masih dengan matanya yang bersinar. Sebait kata kemudian terlantun dari bibirnya yang mungil.
“ He, “ hanya itu tak lebih. Dia lalu berpaling lagi.
He? Dia? Siapa dia? Kening Pamela berkerut. Dia tersesat pada sebuah jawaban yang membingungkan. Dia siapa yang dimaksud Sarah?
“ Dia siapa maksudmu? “ tanya Pamela lagi. Dia tak ingin tersesat pada sebuah jawaban yang membingungkan.
“ Dia saja,” Sarah tidak berpaling.
“ Kekasihmu? Temanmu? Siapa dia? Can you give some explain, please? “ bujuk Pamela.
“ More than lovers…more than friends…Dia saja,” tak lebih keterangan yang diberikan Sarah. Membuat Pamela semakin tersesat pada sebuah jawaban.
Lebih dari kekasih? Lebih dari teman? Suamikah? Anakkah? Atau apakah Sarah sudah tidak perawan lagi. Lalu sang kekasih meninggalkannya pergi. Atau kekasihnya sudah meninggal dunia dan meninggalkannya sendiri? Ah, Pamela menjadi pusing sendiri.
“ Besok Mrs. Joyner akan meminta laporan tentang kau dariku. Apakah kau punya ide apa yang harus kukatakan Sarah? “ Pamela mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin lebih tersesat lagi. Dia tahu, Sarah tak akan memberikan jawaban yang lebih jelas lagi.
Sarah masih terdiam. Matanya memandangi ketenangan air yang berkilauan diterpa cahaya matahari. Sesekali dia juga melihat ke arah gugusan angsa yang terbang ke selatan. Seukir senyuman menghiasi bibirnya. Hembusan angin memainkan scarf di kepalanya.
“ Katakan apa yang kau mau, “ jawab Sarah pada akhirnya.
Pamela mengangguk pelan. Dia senang Sarah akhirnya mau berbicara, walaupun hanya sebentar. Selama dua tahun bekerja di tempat ini tak pernah dia mendapatkan pasien setenang Sarah dan sehemat Sarah dalam berbicara.
“ Ok, akan kukatakan sesuai dengan realita. Kau sudah tidak kecanduan lagi. Mungkin Mrs. Joyner akan memperbolehkanmu pulang. Hanya saja akan kukatakan juga padanya bahwa kau terlalu hemat dalam berkata-kata.” Pamela mencoba untuk bergurau. Dia tertawa kecil. Hanya saja Sarah tidak meresponnya. Dia berhenti tertawa.
“ Tapi aku masih kecanduan. Mrs. Joyner pasti tidak akan memperbolehkan aku pulang. Dan kurasa aku tak ingin pulang. Akan ada masanya aku pergi dari tempat ini. Tapi bukan pulang, melainkan pergi ke suatu tempat untuk bertemu yang mencintaiku,”
Pamela sedikit terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Sarah. Jawaban terpanjang yang diterimanya selama ini. Tapi? Masih kecanduan? Bahkan Pamela bisa menjamin seratus persen, sejak datang ke sini hingga saat ini dia tidak pernah melihat Sarah menggunakan obat-obatan terlarang. Kecuali memang hanya melakukan gerakan-gerakan aneh yang rutin sambil menutupi hampir semua bagian tubuhnya. Tapi menurut Pamela hal itu tidak membahayakan.
“ What do you mean with still addicted? I don’t understand. I never watched you use some drugs since you came in here.” Tanya Pamela lagi. Tapi dia baru menyadari bahwa Sarah kemungkinan besar tak akan menjawab pertanyaannya.
Tetapi Pamela keliru.
Sarah tersenyum. Dia balas menatap wajah Pamela yang terlihat bingung dengan pakaian seragam terusannya berwarna hijau pastel.
“ You so innoncent Pam. Mrs. Joyner tidak memberitahumu. Kau tidak pernah heran kenapa orangtuaku mau memberikan bayaran tinggi untuk menjagaku? Aku bukan kecanduan hal-hal seperti itu. Aku kecanduan sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa membuatku berpikir bahwa aku rela mati untuk candu itu. Sesuatu yang sangat ditakuti orangtuaku. Some other things.” Jelas Sarah.
Pamela terkejut untuk kedua kalinya untuk jawaban yang tak dikiranya. Dia lalu berpikir cepat.
Candu yang lain? Mrs. Joyner tidak berkata apa-apa selain mengatakan bahwa Sarah Brightman kecanduan. Setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi. Lalu Mr dan Mrs. Brightman hanya mengatakan jaga Sarah dan keduanya akan membayar Sarah mahal. Tak lebih. Lalu apa yang dimaksud Sarah? Apakah dia kecanduan hal yang lain? Yang lebih membayahakan? Sex? Sarah tak bisa membayangkan. Untuk kedua kalinya pikirannya tersesat..
“ Lalu apa? “ tanya Pamela semakin antusias. Hari ini ia ingin menuntaskan rasa ingin tahunya.
Sarah kembali diam. Pamela rasa dia berpikir. Suasana di Michigan Park masih tetap tenang dan damai. Di ufuk Barat matahari mulai menurun. Pamela ingin jawabannya tuntas sebelum malam tiba.
“ Kau pernah berpikir untuk apa kau hidup Pam? “ tanya Sarah dalam.
Pamela terdiam sesaat kemudian, “ untuk bekerja dan meneruskan keturunan. Membahagiakan sesama dan orang-orang yang kau cintai.”
“ Kau pernah berpikir untuk meninggalkan dan mengabaikan orang yang memberikan segalanya padamu? Orang yang saat kau menghianatinya dia dengan mudahnya memaafkanmu dan bahkan menambahkan kecintaannya? Orang yang setiap hari rasa cintanya bertambah untukmu? Pernah Pam? “ seperti pisau kalimat yang dilontarkan Sarah pada Pamela.
“ Tak mungkin. Aku tak akan mungkin pernah bisa meninggalkan orang seperti itu ! ” jawab Pamela. “ Tapi apakah orang seperti yang kau maksud ada? Apakah dia yang selalu kau katakan ‘mencintaimu’ ? “
Sarah membeku kembali. Membuat suasana hening dan tak bergeming. Hanya ada suara tiupan angin. Pamela menunggu dengan tidak sabar.
“ Ada sesuatu yang seperti itu. Bahkan melebihi itu. Dan aku kecanduan hal tersebut. Yang menurut orangtuaku lebih parah daripada sekedar kecanduan drugs. Yang membuat mereka risau. Karena mereka tahu, candu ini yang akan bisa membuatku berpisah dari mereka.” pelan Sarah berkata. Matanya tertuju ke langit jingga di angkasa raya.
“ Candu apa itu? “ tanya Pamela. Dia tahu Sarah adalah anak satu-satunya dari keluarga Bright. Hingga wajar bila karena candu ini Mr dan Mrs Bright takut berpisah dengannya.
Sarah tak segera memberi jawaban. Matanya tak lepas memandang alam sekitar. Lalu sebulir air jatuh dari matanya yang bersinar.
Pamela takjub. Sarah menangis. Apa yang membuatnya menangis? Candu itukah?
“ Pam, kau yakin ada kehidupan setelah kau meninggalkan dunia ini? “ satu pertanyaan lagi dilontarkan Sarah. Pamela tersentak. Sangat filsafat sekali.
“ I’m not really sure. Mungkin setelah mati kita hanya menjadi bangkai saja. Setelah itu melebur bersama tanah. No more life again. Tinggal ruh kita berada di tangan Tuhan. Tapi aku tak sepenuhnya percaya Tuhan. Bagiku hal-hal seperti itu sangat absurd dan nol besar.” Jawab Pamela. Dia memang seorang Katholik, tetapi selama di Germaine Nicols dia mencoba untuk menjadi Atheis sepenuhnya.
“ Jawaban yang tidak bijak.” Sarah berpaling ke arah Pamela. “ Siapa yang menciptakanmu dengan begitu sempurna? Kau mau karya lukisanmu yang bagus diberikan percuma tanpa bayaran? “ Sarah terlihat sedikit ketus. Pamela tak tahu harus berbuat apa.
“ Aku tidak naif Sarah. Im just like an ordinary girl in America. Agama adalah sesuatu yang tidak begitu penting.” Jawab Pamela pada akhirnya.
“ Tapi pernahkah kau berpikir tentang surga dan neraka ? “ tanya Sarah lagi. Pamela hampir tak percaya saat Sarah mencecarnya terus.
“ Tergantung pribadi masing-masing Sarah. Tapi bagiku,….” Kata-kata Pamela terhenti. Kenapa dia jadi ragu untuk mengatakan bahwa neraka dan surga memang tidak ada?
“ Kau orang yang nol besar Pam! “ kata-kata Sarah menyerang Pamela yang terlihat sedang kebingungan. Lalu dia terdiam.
Pamela nyaris tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Sarah memang gadis yang cerdas. Dia tidak mungkin meneruskan perbincangan tentang keyakinan tadi. Lalu suasana hening untuk sesaat.
“ Lalu candu apa yang membawamu ke sini ? “ Pamela bertanya lagi pada akhirnya. Dia ingin menggali informasi lebih banyak dari Sarah sore ini.
Sarah kembali terdiam. Wajahnya masih lurus memandang Danau Michigan. Butir-butir bening semakin banyak berloncatan dari mata beningnya.
“ Apa kau akan percaya padaku setelah aku mengatakan apa yang menjadi canduku? “ tanya Sarah tanpa menoleh. Pamela hanya mengangguk, tapi dia segera tersadar bahwa Sarah tak akan melihat anggukannya.
“ Eh, ya. I try.” Jawab Pamela.
Sarah terdiam lagi beberapa saat. Pandangan matanya lalu dialihkan ke atas mega jingga yang memenuhi hampir sebagian langit. Haruskah dia berkata pada Pamela? Seorang perawat yang belum terlalu lama dikenalnya? Mungkinkah Pamela bisa membantunya? Ada segudang pertanyaan timbul di benak Sarah. Tapi langit jingga menjadi jawaban untuknya.
“ Aku kecanduan Rindu akan sebuah Dzat, ” Sarah berkata pada akhirnya. Tak lebih. Dia lalu kembali terdiam. Sekarang dia menyerahkan sepenuhnya penafsiran kepada Pamela.
Pamela mengerutkan keningnya. Rindu Dzat? Apa yang dimaksud Sarah? Dzat apa? Apakah dia termasuk pemuja sesuatu dzat? Pengikut suatu sekte? Pamela semakin tak mengerti dengan yang terjadi pada Sarah. She so complicated. Pamela bertambah runyam.
“ Satu saat kau juga akan mengerti Pam. Aku percaya pada gadis cerdas sepertimu. Hanya saja kau tinggal menunggu waktu yang tepat. Kau juga akan mengalami candu itu. Karena itu adalah candu yang memang harus diderita oleh semua manusia. Semua orang yang berakal akan mengalami kecanduan seperti yang kualami. ” Sarah seolah membaca kebingungan Pamela. Tapi alih-alih menjawab kebingungan Pamela, Pamela bertambah bingung dengan kalimat terakhir yang dikatakan Sarah.
Sarah lalu bangkit. Dia sedikit merapikan busananya. Dia menatap Pamela sekali lagi lalu berpaling.
Pamela mengikutinya. Dia melirik ke arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Enam lima belas menit.. Dia tahu sebentar lagi, sesampainya di panti, Sarah akan melakukan gerakan-gerakan yang aneh lagi. Tapi itu sudah biasa baginya. Dia masih ingin tahu tentang Sarah lebih banyak. Mungkin kali lain. Dia akan mengajak Sarah berbicara lebih banyak. Awal pembicaraan saat senja di tepi Danau Michigan baginya sudah menjadi awal yang baik. Masih banyak waktu untuk kembali lagi ke sini.
“ Baiklah Sarah, sudah saatnya kita kembali ke panti. “ ujar Pamela pada Sarah yang memang sudah bersiap untuk kembali.
Lalu dalam hening keduanya berjalan beriringan. Matahari sudah semakin tenggelam. Bunyi suara angSa terdengar samar-samar di angkasa. Jingga hampir sepenuhnya berubah menjadi abu-abu. Beberapa anak muda yang ingin berkemah terlihat sudah mulai memasang tendanya. Keduanya masih berjalan dalam diam dengan Pamela masih menyimpan seribu tanya yang ingin dikatakannya kepada Sarah.
***
Pamela Lee-Haughton berjalan gontai memasuki sebuah ruangan yang terletak di sudut panti. Hari ini dia akan berpamitan dengan Mrs. Joyner. Dua hari yang lalu dia sudah mengajukan surat pengunduran diri sebagai perawat di Germaine Nichols. Alasan yang diberikannya pada Mrs. Joyner hanyalah dia ingin mencari suasana baru. Dan seperti biasa, tanpa banyak tanya Mrs. Joyner memperbolehkannya. Walaupun sebenarnya Mrs. Joyner tak ingin kehilangan perawat sehebat Pamela, tapi dia harus profesional. Dan hari ini Pamela sudah harus pergi.
“ Silakan masuk Ms. Haughton, ” suara parau Mrs. Joyner terdengar dari balik pintu. Wanita tua itu terlihat sedang duduk membelakangi meja kerjanya. Sebuah kacamata bertengger di hidungnya. Rambutnya yang dulu hitam sekarang sudah sebagian memutih. Tapi guratan ketegasannya masih sangat terlihat jelas di mata Pamela.
Pamela tersenyum kecil. Dia lalu duduk di kursi yang ditunjuk oleh Mrs. Joyner. Memang sulit baginya untuk berpisah dengan Germaine Nichols termasuk dengan Mrs. Joyner. Tapi ada satu hal yang menyebabkan dia harus pergi dari sini.
“ Baiklah, kau harus pergi sekarang. Kuharap kau bisa menemukan tempat yang lebih baik dari sini. Sayang, Germaine Nichols akhirnya harus kehilangan seorang nurse sehebat kau. Beruntung sekali tempatmu nanti bekerja mendapat orang sehebat kau. “ untuk pertama kalinya Mrs. Joyner tersenyum pada Pamela.
Pamela memerhatikan dengan seksama setiap air muka Mrs. Joyner. Dia ingat kejadian dua tahun yang lalu saat Mrs. Joyner memarahinya habis-habisan.
Ketika itu Pamela baru saja membuka mata di kamarnya saat Mrs. Joyner berteriak padanya. Dia sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Lalu seorang rekan perawat memberitahunya bahwa pasien Pamela, Sarah Brightman telah melarikan diri! Pamela terkejut bukan main. Padahal hari itu dia sudah berencana untuk bertanya lebih banyak pada Sarah setelah kemarin harinya mereka berdua berbincang-bincang di tepi Danau Michigan. Tapi…… Bukan hanya Mrs. Joyner yang memarahinya, Mr dan Mrs. Brightman juga langsung mendampratnya. Pamela sungguh tak mengerti apa maksud Sarah melarikan diri. Di kamarnya, Pamela menemukan surat yang ditulis khusus untuknya :
Dear Pam,
Maafkan aku sebelumnya. Aku tak ingin menyusahkanmu sebenarnya, tapi candu itu membuatku harus melarikan diri. Kau tak perlu takut dengan keadaanku nanti karena ada yang mencintaiku akan selalu bersamaku. Maaf Pam.
Pam, aku tahu kau pasti ingin tahu apa candu yang membuatku jadi begini. Maaf kalau sebelumnya tak pernah bicara denganmu. Tapi hari ini akan kusebutkan candu itu.
Semoga kau bisa mengerti dan senja di tepi Danau Michigan bisa menjadi awal jalan untuk kau mengikuti jejak langkahku.
Yours truly,
Sarah
Pamela saat itu sangat terkejut luar biasa. Sarah menyimpan harapan padanya. Lalu selembar lagi kertas jatuh, dan disitu tertera sebuah coret-coretan dan kata yang menjadi candu bagi Sarah selama ini. Akhirnya Pamela pun mengetahuinya.
Dan sejak itulah Pamela mulai mencari informasi lebih banyak tentang candu tersebut. Hingga akhirnya, dia menemukannya. Dan sekarang dia baru merasakan hal seperti yang dialami Sarah. Dia juga sudah menjadi pecandu!
“ Pam,”
Pamela tersentak. Dia tersadar dari lamunannya. Mrs. Joyner menatapnya lagi.
“ Kau baik-baik saja Pam? “ Mrs. Joyner terlihat sedikit khawatir.
“ Eh, ya, aku baik-baik saja. Don’t worry.” Kata Pamela gelagapan.
Setengah tidak yakin Mrs. Joyner memperhatikan wajah tirus Pamela. Gadis itu baginya terlihat kurang sehat. Sepertinya pelarian Sarah Brightman berdampak juga baginya.
“ Baiklah, jika kau baik-baik saja. Ini Pam, uang gajimu yang terakhir. Kuberikan dua kali lipat untukmu. Ini juga ada kiriman dari Pendeta Samuel Brightman dan istrinya Sharon, sebagai tip untuk dirimu dulu saat menjaga Sarah. Maaf kalau aku menyebutkan namanya lagi. Mungkin kau berusaha untuk melupakannya. Maaf.” Mrs. Joyner memberikan dua amplop putih kepada Pamela, sedikit penyesalan terlihat di wajah tuanya.
Pamela agak ragu untuk menerimanya. Tapi dia memang butuh uang yang sudah menjadi haknya.
“ Aku terima gajiku saja. Saat ini aku tidak butuh banyak uang. Uang dari Mr dan Mrs. Brightman kusumbangkan saja semuanya untuk panti ini.” Agak ragu Pamela mengambil satu amplop putih.
“ Terserah kau Pam. Kuharap selepas dari sini kau menemukan tempat bekerja terbaik bagimu. Aku berdoa untukmu. Satu hal lagi, aku minta maaf untuk masalah Sarah Brightman tempo hari. Aku dalam kondisi yang panik dan tidak rasional. Tolong maafkan aku. “ Mrs. Joyner terlihat sedikit memelas.
Pamela hanya tersenyum. Baginya Sarah Brightman memberikan kesan yang tersendiri untuknya. Kesan yang membantu dia menemukan jalan kedamaian pada akhirnya setelah dua tahun dia mencari candu itu. “ Doesn’t really matters Madame,”.
Lalu Pamela pamit pada Mrs. Joyner. Untuk pertama kalinya Pamela melihat Mrs. Joyner menangis. Setelah keduanya berpelukan, Pamela segera pergi.
Suasana di alam Michigan terlihat begitu sejuk. Sebentar lagi malam akan menjelang. Saat winter begini Pamela berharap bisa menemukan kehangatan dengan segera. Dia berjalan perlahan menuju halte bis yang tak jauh dari Michigan Park. Saat melihat tempat tersebut ada berjuta kenangan tentang Sarah menyeruak kembali. Sebuah skenario yang menuntunnya untuk menuju ke jalan kedamaian.
Pamela merapikan lagi topi woolnya. Sebentar lagi dia akan menemukan kehangatan. Sore itu dia memakai jas, sepatu boot, wool dan topi kupluk. Dia akan segera ke Illinois. Menemui rekannya, calon keluarganya, kehangatan, dan orang sudah lama dia rindukan. Setelah itu dia akan menemui keluarga besarnya di Chicago untuk berpamitan.
Pamela mengeluarkan sebuah surat yang diterimanya tiga hari yang lalu…
Akan menikah Aisha Kabeer (Sarah Brightman) dengan Muhammad Ramadhan (Alexander Creek) di Hall Islamic Center Illinois tanggal 9 November.
Akan ada tangis bahagia untuk Sarah dan dirinya. Tentang sebuah candu kerinduan akan sebuah Dzat. Dia ingat pembicaraan di telepon tadi pagi dengan Sarah.
“ Aku ingin datang ke pesta pernikahanmu,”
“ Aku menunggumu,”
“ Tapi aku ingin menjadi seperti dirimu terlebih dahulu. Aku sudah menjadi pecandu…”
“ Pam? You? Subhanallah!!! Allahu Akbar!!! “
Keduanya lalu sesegukan.
Bis yang menuju Illinois tiba di halte Michigan. Dengan sigap Pamela dan beberapa orang lain naik ke dalam bis itu. Selamat tinggal Michigan. Sebuah memori indah tentang hidayah tak akan terlupakan di sanubari Pamela.
Sebuah kertas terjatuh dari tas Pamela yang tak tertutup dengan sempurna. Bis lalu berangkat. Kertas itu melayang tertiup angin Danau Michigan. Kertas itu yang dulu menjadi jawaban Sarah akan candunya. Disitu tertera sebuah nama yang sekarang tak asing bagi Pamela. Sebuah Dzat yang dirindui dan menjadi candunya. Di situ tertulis : ALLAH dan satu ayat surat Ali-Imron.
Semilir angin Michigan lalu bertiup menerbangkan kertas itu semakin jauh.***(YAS)



12 Ramadhan 1425 H
Tuk seseorang atas perhatiannya

CINTA YANG MENGALAHKAN TARBIYAH

Seseorang baru saja berbicara kepada saya tentang sikap yang dilakukan temannya. Temannya dia secara diam-diam menjalin "persahabatan" dengan seorang pria yang belum terikat dalam tarbiyah dan bisa digolongkan sebagai sang hanif.
" Loh, dia bilang sudah nggak berhubungan lagi dengan dia?" tanyaku.
" Nggak tau juga deh. Dia bilang sih emang begitu. Tapi ada info dari sumber yang terpercaya kalau dia masih sering chatting lewat YM and fesbuk dengan pake emoticon yang..." seseorang itu menghentikan pembicaraan karena merasa tidak enak.
Ya, kabar ini kudapat jauh beberapa bulan yang lalu. Saat itu akhwat ini meminta pendapatku tentang seorang hanif tadi. Awal mulanya mereka berua adalah hanyalah aktivis kampus yang kemudian menjadi suka pada pandangan pertama. Tapi yang menjadi problem adalah sang hanif ini bukanlah orang pergerakan dan belum tarbiyah. Lalu kuberikan pendapat ada baikknya bagi dia untuk memilih pasangan hidup dari kalangan tarbiyah saja karena mungkin cara ini bisa dikatakan lebih aman. Bila dua orang yang sudah tarbiyah dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan maka Insya Allah visi dan misi mereka dalam membangun rumah tangga yang Islami sudah jelas.
" Tapi Bang, ikhwan ini mau kok aku suruh ngaji.Dan sekarang dia juga sudah mulai ngaji," akhwat itu mencoba memberikan argumennya.
" Ukhti, akan lebih aman bila antum mendapatkan ikhwan yang tarbiyah sama seperti antum. Bukankah itu bisa menjadi satu pilihan yang mungkin lebih aman ketimbang antum memilih ikhwan yang baru. Bila mendapatkan ikhwan yang dalam pergerakan yang sama dengan kita Insya Allah segala masalah bisa diselesaikan dengan baik," ujarku memberikan saran.
Dan setelah itu memang akhwat itu memutuskan untuk tidak meneruskan "persahabatan" nya dengan sang hanif. Hingga kuterima kabar yang kutulis di kalimat awal.
Fenomena seperti ini memang sudah sering kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Banyak sekali ikhwan dan akhwat yang dengan alasan mengikuti perkembangan mode, mencoba untuk menghias dirinya (gapura kali dihias...hehehe). Aku sendiri tidak mempermasalahkan itu karena menurutku sih sah-sah saja mempercantik diri. Tapi akhirnya ada beberapa orang yang kebablasan. Terjebak dalam tabarruj yang berlebihan. Mungkin istilah anak sekarang adalah "lebay". Dengan dalih sekarang sudah zaman terbuka, berjalan berdua antara sesama aktivis ikhwan dan akhwat sudahlah menjadi lumrah. Menggulung-gulung jilbab (ngapain juga jilbab digulung ya?) sesuai mode menjadi syar'i dalam pandangan mereka. Hingga semula kulihat seorang akhwat yang berjilbab panjang dan anti celana panjang maka secara drastis memperpendek jilbabnya dan tak canggung lagi memakai celana panjang, baik itu celana bahan maupun jeans.
Terlepas dari itu semua, yang paling mengkhawatirkan bagiku adalah fenomena pacaran yang mulai menjangkiti para aktivis. Aku pernah memergoki seorang ikhwan dan akhwat berjalan bergandengan tangan di sebuah pusat perbelanjaan. Segera aku tabayyun ke teman alumni di almamaterku, mungkin saja mereka berdua sudah menikah. Tapi jawaban yang kudapati adalah sebaliknya. Atau kali lain aku pernah bertemu seorang akhwat yang sedang jalan bareng dengan seorang teman laki-lakinya yang bukan orang tarbiyah maupun pergerakan. Hingga akhirnya ujung-ujungnya mereka berdua menikah. Atau ada juga yang saking bebasnya pergaulan, pergi ke tempat-tempat yang dulu adalah tabu bagi aktivis sekarang menjadi lumrah. Aku pun tak memungkiri sering pergi ke bioskop bila ingin menonton film yang bagus, atau pergi foodcourt, dll. Tapi aku sering memilih bioskop yang jaraknya sangat jauh dri pusat aktivitasku. Misal, aku yang tinggal di Jakarta, memilih untuk pergi ke depok hanya sekedar penasaran ingin memonton film. Masih tersisa sedikit malu di hatiku bila aku bertemu dengan teman-temanku. (^__^)
Kembali lagi ke persoalan sang akhwat dan sang hanif, lalu dimana hasil tarbiyah yang telah tertempa selama beberapa tahun? Apakah dengan mudah cinta mengalahkan tarbiyah kita yang sudah kita pupuk selama bertahun-tahun. Ingatkah saat kita pertama kali memilih jalan yang berbeda dengan kebanyakan orang, yaitu jalan dakwah. Memutuskan untuk memakai jilbab, menutup aurat kita dan mengabdikan diri kita hanya untuk berjuang di jalan penuh rintangan ini. Kita mungkin pernah juga, baik secara ekstrim maupun persuasif, memperingati orang untuk tidak melakukan sesuatu hal yang tidak berguna dan laghwi, seperti pacaran, merayakan valentin, dll. Hingga kita pun bertekad ingin membentuk sesuatunya serba islami. Rumah tangga Islami, masyarakat islami dan negara Islami.
Lalu datanglah sepotong cinta di hati kita. Sepotong cinta yang menguji kematangan tarbiyah kita. Yang bisa menghasilkan dua pilihan bagi diri kita, cinta yang mengalahkan tarbiyah atau justru kematangan tarbiyah yang memendam perkembangan cinta. Semuanya pun memilih. Memilih dengan mengedepankan hujjah tarbiyah atau mengedepankan nafsu semata. Bagi mereka yang memilih mengedepankan tarbiyah ketimbang cinta semu semata, meyakinkan diri sendiri bahwa semua proses apapun itu harus mengedepankan redho Allah SWT. Hingga menemukan cinta pun memakai jalur yang benar. Menggunakan fasilitas tarbiyah untuk menemukan cinta yang sejati. Menjadikan tarbiyah sebagi pondasi dalam membangun cinta. Karena diri ini yakin bahwa Allah memilihkan jodoh untuknya. Hingga virus bernama cinta pun tak mampu untuk merobohkan dinding tarbiyah yang menghujam kuat.
Tapi bagi mereka yang memenangkan cinta atas tarbiyah, sesungguhnya seperti membangun tembok tinggi lalu menghancurkannya sendiri. Sebuah hasil jerih payah yang beberapa lama diusahakan lalu tiba-tiba seperti hilang tanpa bekas. Perasaan sedih sang Murobbi pun pasti ada untuk kita. Kemudian karena perasaan tidak enak perlahan-lahan mulai jarang datang tarbiyah. Sampai ujung terjadi pembiasaan untuk tidak tarbiyah hingga akhirnya dulu kita yang menginginkan berbeda dengan yang lain sekarang kita tak ada bedanya orang lain. Dan cinta pun mengalahkan tarbiyah. Tarbiyah kita. Tarbiyah yang menjadikan kita berbeda dengan orang lain pada umumnya.
Sekarang bila itu terjadi pada kita, seperti yang terjadi pada sang akhwat, akan memilih yang manakah kita? Maukah kita kembali menjadi kecil lagi dengan meninggalkan tarbiyah? Atau menjadi semakin besar dengan tidak terpengaruh sedikit pun dengan hal yang remeh temeh seperti cinta? Walaupun cinta anugerah tetapi bukankah lebih baik bila dia didatangkan pada waktunya nanti? Pada saat cinta itu sudah menjadi indah dan halal untuk dinikmati. Semua pilihan ada di dalam hati wahai akhi dan ukhti. Pilihan untuk menentukan jalan cinta kita. Menyemai cinta itu dengan penuh keredhoan Allah atau mulai memetik cinta itu hingga akhirnya dia akan menjadi layu pada saat seharusnya dinikmati? Wallahu'alam Bishowab.
Teringatlah aku akan sebuah keluhan seorang teman ketika dia menasehati saya tentang pernikahan. Dia seorang ikhwan, yang mempunyai istri "orang biasa" bukan akhwat. Dia menikahi istrinya tersebut pada saat dia dalam kondisi futur. Padahal ikhwan tersebut bisa dikatakan sebagai orang-orang yang paling awal dalam tarbiyah. Dia berpesan sedikit kepadaku.
" Lebih baik nanti antum mencari istri yang akhwat saja. Yang sama-sama tarbiyah. Jangan seperti ane. Sekarang ane kesulitan mengurus anak karena kita nggak satu visi,".
Aku hanya mengangguk dan menyimpan perkataan itu dalam hati.
Ya Allah, bila saatnya nanti kuinginkan pendamping hidup dari hasil tarbiyahku selama ini..
Jagalah hamba Ya Allah agar tidak mengorbankan tarbiyah ini hanya karena cinta sesaat...
Sesungguhnya, aku hanyalah hamba-Mu yang dhoif dan selalu salah jalan...
Bait lagu "Mengemis Kasih"nya The Zikr seolah terdengar lagi di diriku.

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati
Kepada manusia yang alpa juga buta
Lalu terhiritlah aku di lorong gelisah
Luka Hati yang berdarah kini jadi kian parah

Semoga, aku, kamu, dan kita semua selalu istiqomah dengan tarbiyah ini. Amiinnn***(yas)

My work room, February 18, 2009
at 18.05 pm
Salam hormat untuk para Murobbiku

SELAMAT DATANG BULAN RAMADHAN

SELAMAT DATANG BULAN SUCI MULIA
Selamat datang...selamat datang....
SELAMAT DATANG BULAN RAMADHAN...!!!

Ramadhan sudah dekat bersukacitalah
Menyambut puasa bulan penuh kurnia
Puasa ayo puasa...Allah sayangi kita
Suci lahir serta batin, terbukalah pintu surga

SELAMAT MENYAMBUT BULAN RAMADHAN 1430 H

FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us