Friday, August 14, 2009

HIDAYAH UNTUK DELLA, FETY DAN DINDA

Malam itu sebuah pesan masuk ke HP Nokia 7610 milikku. Tapi untuk beberapa saat aku tidak mengindahkannya karena HP itu kuletakkan di kantongku dalam keadaan silent tanpa getar. Tak berapa lama kemudian saat kubaca isi pesan itu, sungguh sangat menggetarkan diriku. Seorang muridku yang cantik dan cerdas dan menjadi salah satu primadona di sekolah bercerita padaku bahwa tepat di usianya yang ke-17 tahun dia memutuskan untuk berjilbab. Subhanallah…sungguh syukur yang tidak terkira kupanjatkan kepada Allah pemilik semesta alam dan Sang Pembolak-balik hati manusia. Aku tidak pernah menyangka dia akan menutup auratnya secepat itu. Malah salah seorang temannya yang kuanggap akan menutup auratnya terlebih dahulu ketimbang dia. Tapi sungguh, Allah adalah pemilik rahasia setiap ummatnya. Tak terasa kegembiraan itu bergelora di dalam hatiku. Hingga tak terasa air mata haru menggenangi kedua bola mataku.
Beberapa bulan dan hari sebelumnya aku juga sudah mendapatkan kabar dari kedua muridku yang lain, bahwa mereka sudah memakai jilbab juga. Dia seperti yang sekarang, dua muridku yang sebelumnya, kuketahui mereka memakai jilbab dari foto yang mereka pajang di situs jejaring sosial Facebook. Saat kutanyakan apakah mereka berjilbab? Keduanya mengkonfirmasi padaku dengan mengatakan iya. Aku senang sekali. Persamaan yang kudapati dari ketiga muridku itu adalah mereka semua adalah anak-anak yang cerdas, aktif, dan nyaris tidak mempunyai masalah selama berada di sekolah. Mereka adalah Della Afnita si Aktif, Dinda Nurul Maulida si Pintar, dan Siti Fatimah yang biasa dipanggil Fety si Cantik. Selanjutnya akan kuceritakan bagaimana kepribadian dan kisah mereka.
***
Della adalah gadis yang sangat aktif sekali. Pertama kali aku mengenalnya saat aku mengajar di kelasnya, XI IPA 3. Waktu itu dia duduk di depan tak jauh dari meja guru. Aku tertarik padanya karena dia begitu antusias saat kuterangkan pelajaranku. Sholatnya yang seringkali kutanyakan juga tidak pernah ada yang bolong. Dia begitu tertarik dengan masalah agama. Tapi hal itu tidak membuatnya menjadi orang yang kuper, justru Della adalah anak yang mudah bergaul, vokal dan sangat aktif sekali. Belakangan aku tahu, kalau dia juga aktif di Remaja Masjid Sunda Kelapa. Pokoknya yang namanya Della setahuku adalah anak yang tidak pernah merasa lelah. Dia begitu berwarna hidupnya. Jalan kesana, jalan kesini, dan yang membuatku bangga, dia selalu ceria setiap saat. Della juga anak yang pintar, hormat pada guru dan percaya diri. Della memang tidak seperti gadis remaja pada umumnya yang gemar berdandan, yang kuperhatikan Della hanya tampil sederhana dan biasa-biasa saja. Tidak pernah mengenakan sesuatu yang aneh-aneh. Tapi dia begitu lepas dan tidak terkekang. Dengan anak-anak Rohis dia bergaul baik, dengan anak-anak gaul pun dia juga berteman dengan baik Seringkali dia bertanya saat aku menjelaskan pelajaranku. Nilainya di pelajaranku juga selalu bagus. Intinya Della adalah anak yang begitu menikmati masa remaja dan sekolahnya.
Hingga seuatu saat, aku membaca status di facebooknya yang menyatakan bahwa dia sedang memutuskan untuk segera berjilbab atau menundanya dulu. Banyak sekali comment yang berada di bawah statusnya. Salah satunya adalah comment yang mengatakan “ lebih baik jilbabi hati dulu aja del, baru nanti jilbabi rambut. Daripada berjilbab tapi gak bener,” . Duh ingin kujewer si pemberi komentar ini. Temanmu lagi punya niat baik malah di suruh ditunda sih? Lalu kutulis sebuah comment di status Della, “Lebih baik kalo sudah punya niat langsung dikerjain aja Del daripada ditunda-tunda. Yang penting jilbabin dulu, baru nanti perlahan-lahan Della memperbaiki diri Della. Daripada Cuma sekedar niat, ntar keburu dijemput Malaikat Maut loh…hehehehe..” . Dan setelah itu ada pembicaraan mengenai jilbab antara aku dan Della. Sampai akhirnya saat kupantau melalui Facebook Della belum juga berjilbab dan lama kemudian aku sudah tidak pernah memantaunya lagi. Hingga suatu hari, saat aku melihat pic profilenya di facebook aku melihat dia sedang berdiri mengenakan jilbab bersama dengan temannya yang bernama Tyas, salah seorang muridku yang lain yang sudah berjilbab terlebih dahulu. Lalu saat kukirimkan pertanyaan melalui wall-nya, dia pun mengatakan bahwa dia Alhamdulillah sudah berjilbab. Senang rasanya melihat Della menepis semua keraguannya dan akhirnya berjilbab. Aku sudah tahu sedari dulu kalau Della adalah salah satu muridku yang cerdas, yang suatu saat pasti akan memutuskan akan memutup auratnya. Dan itu terbukti sekarang. Semoga kau istiqomah ya Del…
***
Kalau muridku yang ini namanya Dinda Nurul Maulida. Aku juga baru mengenal Dinda saat mengajar di kelas XI A1. Gadis bermata sipit ini mempunyai kesamaan denganku, sama-sama menyenangi bahasa Inggris. Wajar saja Dinda menyenangi bahasa Inggris, karena dia adalah gadis yang pintar di kelas. Dinda pun aktif di kepengurusan kelas sebagai sekretaris atau bendahara. Dia juga tercatat sebagai anak OSIS di sekolah. Selain pintar Dinda juga termasuk aktif di sekolah. Di luar sekolah yang kutahu dia mengaji dengan guru privat atau guru yang berada di lingkungan rumahnya. Dinda juga selalu kritis bertanya tentang berbagai masalah agama saat pelajaranku berlangsung. Tapi dia tidak pernah menyinggung masalah jilbab. Tidak pernah kami berdialog tentang jilbab. Justru dia berdialog denganku tentang adiknya yang austis (apa kabar Aziz sayang?). Aku bangga sekali dengan sikap Dinda sebagai seorang kakak yang menerima adikknya apa adanya dan tidak malu mempunyai adik yang autis. Ya aku pernah melihat seorang Ibu yang punya anak autis yang aktifnya bukan main pada saat aku sedang berada di puskesmas. Sungguh aku terenyuh melihat perjuangan Ibu itu, hingga aku begitu berempati pada mereka yang menderita autis ataupun keluarga yang mempunyai anggota autis. Ingin sekali suatu waktu aku mengajar anak-anak autis seperti pengarang favoritku, Torrey Hayden. Sehingga jika melihat sesuatu atau anak autis aku selalu teringat dengan adik Dinda. Bagaimanapun juga aku ingin terus memotivasi Dinda untuk selalu menjadi kakak yang sabar dan sayang kepada adiknya.
Dan lama kami tidak saling bertemu setelah dia mulai belajar intensif di sekolah dengan konsekuensinya pelajaran yang tidak diujikan dalam UN (seperti pelajaranku) tidak dimasukkan lagi dalam jadwal rutin, maka aku pun tidak bertemunya lagi. Lama sekali aku tidak bertemu hingga suatu saat seorang yang bernama Adinda Nurum Maulida meng-add facebook ku. Dari namanya aku pun sudah tahu kalau itu adalah si Dinda. Tanpa ragu langsung aku mengkonfirmnya. Dia memang Dinda, muridku yang cerdas. Waktu itu di pic profile nya dia belum mengenakan jilbab. Dan memang aku tidak pernah mengira dia akan segera memutuskan untuk berjilbab. Tapi tak lama kemudian, aku melihat pemberitahuan yang mengatakan, “Adinda Nurum Maulida menambahkan 5 foto baru”. Di foto-foto itu aku melihat Dinda mengenakan jilbab. Penasaran, aku langsung meng-klik profil Dinda, dan disitu seorang muridku yang cerdas terpampang dengan mengenakan jilbab. Langsung saja kukirim wall menanyakan jilbab yang dia kenakan. Lalu saat aku sedang berada di busway menuju kampung rambutan, kubaca wall balasan darinya, “Iya Kak, Alhamdulillah…abis ikut ujian kemana-mana gak lulus-lulus ya udah akhirnya pake jilbab ajah…hehehe…”. Aku senyum sendiri membaca wall balasan darinya. Memang kalau Allah sudah berkehendak untuk membuka hati seseorang pasti tak akan ada yang mampu menolaknya. Dan itu juga yang terjadi pada si cerdas Dinda. Walaupun mungkin alasannya tidak masuk akal, tapi gadis secerdas dia pasti tak akan gegabah untuk sekedar saja memakai jilbab. Ada gerimis lagi di hatiku saat mengetahui si cerdas itu berjilbab. Sungguh, tak ada kata yang mampu kuucapkan selain memuji kebesaran-Nya. Semoga dirimu istiqomah untuk terus mempertahankan hijabmu ya din…
***
Lain lagi dengan seorang muridku yang cantik bernama Siti Fatimah. Gadis tinggi berkulit putih ini akrab dipanggil dengan Fety. Dialah gadis yang mengirim SMS padaku malam itu. Tepat di ulang tahunnya yang ke-17 dia memutuskan untuk menutup auratnya. Sungguh tak terkiranya aku bahagia. Bahkan sempat kuingin melakukan sujud syukur atas kabar itu. Tak pernah terkirakan olehku sebelumnya. Aku malah cenderung berpikir kalau Fety adalah gadis yang lebih mementingkan tingkah laku ketimbang jilbab. Maksudku, asalkan tingkah lakunya baik baginya tak berjilbab pun tak masalah. Tetapi dugaanku salah sama sekali.
Aku mengenal Fety saat dia masih duduk di kelas 1 SMA. Waktu itu aku kebagian mengajar Pembinaan Rohani di kelas XF. Kelasnya Fety. Dia adalah sosok gadis yang cerdas, ceria, mudah berkawan, dan tidak sombong. Waktu itu dia duduk bersama Winda, murid kebanggaanku lainnya. Semua orang di sekolah tahu kalau Fety adalah murid yang cantik, tak lama dia pun menjadi primadona di sekolah. Banyak sekali yang menitip salam lewatku untuknya. Tapi waktu itu aku belum begitu akrab dengannya.
Saat kelas 2, secara kebetulan aku juga mendapat kesempatan mengajar di kelasnya. Di sinilah interaksi diriku dengannya yang akrab mulai terbangun. Yang kuingat pertama kali dia mengirim sms padaku menanyakan suatu hal. Dan dari situlah kemudian aku mulai akrab dengannya. Seringlah saya dan Fety saling ber SMS. Banyak topik yang kami bicarakan. Mulai dari peristiwa pembunuhan di sekitar rumahnya, pertanyaan dirinya tentang agama, sampai aku yang bertanya padanya tentang kisah Cinta Fitri (hehehe). Terkadang dia juga sering mengingatkan jam tayang sinetron kesukaannya itu. Di kelas pun banyak pertanyaan yang juga sering diajukan padaku. Setiap kali memeriksa lembar jawaban di ulangan Fety, aku pasti langsung mencari lembar krtik dan saran yang biasanya selalu diisinya dengan penuh kata-kata yang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Hobinya menulis, kuharapkan suatu waktu bisa terwujudkan dalam sebuah karangan atau buku. Karena kutahu tulisannya begitu bagus. Fety juga senang sekali dengan anak-anak kecil, wajar kalau kemudian dia bercita-cita menjadi guru TK.
Dia pulalah yang pertama kali langsung protes kepadaku saat pelajaran yang kuajarkan akan dihapuskan oleh pihak sekolah. Tak lama sesudah memasuki semester 2 di kelas 3, interaksiku dengannya menjadi berkurang. SMS yang dia kirimkan rata-rata hanya berkenaan agar aku mendoakan dirinya untuk lulus dari UN. Oiya, satu juga yang masih aku ingat sampai sekarang (dan menjadi hutangku), terakhir dia bertanya padaku, mengapa Nabi itu tidak ada yang perempuan? Sebuah pertanyaan yang belum sempat kujawab karena aku tidak yakin bisa menjelaskannya secara gamblang melalui SMS dan aku tidak tahu kapan bisa bertemu dengannya lagi. Hingga datanglah berita itu. Berita yang mengabarkan bahwa diri sudah berhijab. Subhanallah…Sungguh Fety adalah murid yang cerdas yang kuyakin tidak sembarangan membuat suatu keputusan. Semoga keputusanmu itu mendapatkan Ridho dari Allah ya Fety…
***
Malam ini sebelum aku memejamkan mata, ingin kupanjatkan sebait doa hanya unutuk kalian, murid-muridku yang telah memutuskan berjilbab Insya Allah dengan penuh kesadaran…

Ya Allah, kabulkanlah apa yang menjadi pengharapan mereka saat mereka memutuskan untuk memenuhi kewajiban-Mu…
Sayangilah mereka dengan setulus cinta dan kasih sayang-Mu…
Jadikanlah mereka selalu istiqomah di jalan-Mu dan dalam menutup aurat mereka…
Jadikanlah mereka cinta terhadap jilbab yang mereka kenakan hingga dengan penuh kesadaran mereka akan terus menjaga sampai akhir hayat mereka…
Ya Allah, lapangkanlah rezki mereka, permudahlah hidup mereka dan ridhoilah mereka…
Semoga jilbab yang hari ini mereka kenakan bisa menjadi penghalang api neraka untuk menyentuh kulit kepala mereka, menjadi saksi di hari kiamat akan keistiqomahan mereka, dan menjadi pelindung mereka…
Pertemukanlah mereka dengan Bunda Khadijah, Bunda Aisyah, bunda Asiah, di sebuah tempat terindah di dalam surga-Mu…
Dan jadikanlah mereka sebagai wanita yang mendapatkan syafa’at dari Rasulullah SAW…
Kabulkanlah doa hamba Ya Allah…untuk mereka, adik-adik hamba yang sudah memutuskan mengubah jalan hidup mereka…
Amiin Ya Rabbal Alamiin…..

Semoga dirimu istiqomah ya dek…^__^***(yas)




My work room, July 31, 2009
at 03.35 am
kutulis penuh cinta untuk murid-muridku tercinta
Siti Fatimah dan Dinda Nurul Maulida.
B’Yass bener2 terharu nih…:,)

5 comments:

Fakhri Mohamad said...

nanti kalo udah saatnya, ta'arufin ane sama salah satu dari mereka yaa..bangg :P

diupdate donk bang,

io frasio said...

hi bro ur write so good

io frasio said...

hi bro ur write so good

just4yass said...

Thanks io...nice to know you... ^__^
Mind to contact :p

just4yass said...

Wah ri, ngpain nunggu entar...sekarang ajah... :p

FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us