Monday, May 31, 2010

Gaza Tidak Membutuhkanmu! (Santi Soekanto, dari Freedom Flotilla, 30 Mei 2010)

Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.
Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.
Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.
Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.

Activism
Ada begitu banyak activism, heroism…Bahkan ada seorang peserta kafilah yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala.
Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.
Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.

Mengerem
Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.
Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

Gaza Tak Butuh Aku
Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.
Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.
Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!
Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.

Cara Allah Mengingatkan
Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku.
Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku.
Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung-jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?
Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.
Masih ndableg.
Kucoba lagi menyiram…
Masih ndableg.
Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…
Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet…
Blus!
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj’alni minat tawwabiin…
Allahumaj’alni minal mutatahirin…
Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…

29 Mei 2010, 22:20
Santi Soekanto
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010.

dari Blog:
http://wisat.multiply.com/journal/item/315/Gaza_Tidak_Membutuhkanmu_Santi_Soekanto_dari_Freedom_Flotilla_30_Mei_2010?utm_source=cp&utm_medium=twitter-cp&utm_campaign=wisat

Friday, May 21, 2010

SORE DI DALAM BIS KOTA (bekasi-cililitan)

hmmm...begitu panas dan sumpek di dlm bis kota.Mana menjelang pintu tol tiba2 macet.Mana aku ngantuk.Ya udah tidur dlu aj deh...

Friday, August 14, 2009

HIDAYAH UNTUK DELLA, FETY DAN DINDA

Malam itu sebuah pesan masuk ke HP Nokia 7610 milikku. Tapi untuk beberapa saat aku tidak mengindahkannya karena HP itu kuletakkan di kantongku dalam keadaan silent tanpa getar. Tak berapa lama kemudian saat kubaca isi pesan itu, sungguh sangat menggetarkan diriku. Seorang muridku yang cantik dan cerdas dan menjadi salah satu primadona di sekolah bercerita padaku bahwa tepat di usianya yang ke-17 tahun dia memutuskan untuk berjilbab. Subhanallah…sungguh syukur yang tidak terkira kupanjatkan kepada Allah pemilik semesta alam dan Sang Pembolak-balik hati manusia. Aku tidak pernah menyangka dia akan menutup auratnya secepat itu. Malah salah seorang temannya yang kuanggap akan menutup auratnya terlebih dahulu ketimbang dia. Tapi sungguh, Allah adalah pemilik rahasia setiap ummatnya. Tak terasa kegembiraan itu bergelora di dalam hatiku. Hingga tak terasa air mata haru menggenangi kedua bola mataku.
Beberapa bulan dan hari sebelumnya aku juga sudah mendapatkan kabar dari kedua muridku yang lain, bahwa mereka sudah memakai jilbab juga. Dia seperti yang sekarang, dua muridku yang sebelumnya, kuketahui mereka memakai jilbab dari foto yang mereka pajang di situs jejaring sosial Facebook. Saat kutanyakan apakah mereka berjilbab? Keduanya mengkonfirmasi padaku dengan mengatakan iya. Aku senang sekali. Persamaan yang kudapati dari ketiga muridku itu adalah mereka semua adalah anak-anak yang cerdas, aktif, dan nyaris tidak mempunyai masalah selama berada di sekolah. Mereka adalah Della Afnita si Aktif, Dinda Nurul Maulida si Pintar, dan Siti Fatimah yang biasa dipanggil Fety si Cantik. Selanjutnya akan kuceritakan bagaimana kepribadian dan kisah mereka.
***
Della adalah gadis yang sangat aktif sekali. Pertama kali aku mengenalnya saat aku mengajar di kelasnya, XI IPA 3. Waktu itu dia duduk di depan tak jauh dari meja guru. Aku tertarik padanya karena dia begitu antusias saat kuterangkan pelajaranku. Sholatnya yang seringkali kutanyakan juga tidak pernah ada yang bolong. Dia begitu tertarik dengan masalah agama. Tapi hal itu tidak membuatnya menjadi orang yang kuper, justru Della adalah anak yang mudah bergaul, vokal dan sangat aktif sekali. Belakangan aku tahu, kalau dia juga aktif di Remaja Masjid Sunda Kelapa. Pokoknya yang namanya Della setahuku adalah anak yang tidak pernah merasa lelah. Dia begitu berwarna hidupnya. Jalan kesana, jalan kesini, dan yang membuatku bangga, dia selalu ceria setiap saat. Della juga anak yang pintar, hormat pada guru dan percaya diri. Della memang tidak seperti gadis remaja pada umumnya yang gemar berdandan, yang kuperhatikan Della hanya tampil sederhana dan biasa-biasa saja. Tidak pernah mengenakan sesuatu yang aneh-aneh. Tapi dia begitu lepas dan tidak terkekang. Dengan anak-anak Rohis dia bergaul baik, dengan anak-anak gaul pun dia juga berteman dengan baik Seringkali dia bertanya saat aku menjelaskan pelajaranku. Nilainya di pelajaranku juga selalu bagus. Intinya Della adalah anak yang begitu menikmati masa remaja dan sekolahnya.
Hingga seuatu saat, aku membaca status di facebooknya yang menyatakan bahwa dia sedang memutuskan untuk segera berjilbab atau menundanya dulu. Banyak sekali comment yang berada di bawah statusnya. Salah satunya adalah comment yang mengatakan “ lebih baik jilbabi hati dulu aja del, baru nanti jilbabi rambut. Daripada berjilbab tapi gak bener,” . Duh ingin kujewer si pemberi komentar ini. Temanmu lagi punya niat baik malah di suruh ditunda sih? Lalu kutulis sebuah comment di status Della, “Lebih baik kalo sudah punya niat langsung dikerjain aja Del daripada ditunda-tunda. Yang penting jilbabin dulu, baru nanti perlahan-lahan Della memperbaiki diri Della. Daripada Cuma sekedar niat, ntar keburu dijemput Malaikat Maut loh…hehehehe..” . Dan setelah itu ada pembicaraan mengenai jilbab antara aku dan Della. Sampai akhirnya saat kupantau melalui Facebook Della belum juga berjilbab dan lama kemudian aku sudah tidak pernah memantaunya lagi. Hingga suatu hari, saat aku melihat pic profilenya di facebook aku melihat dia sedang berdiri mengenakan jilbab bersama dengan temannya yang bernama Tyas, salah seorang muridku yang lain yang sudah berjilbab terlebih dahulu. Lalu saat kukirimkan pertanyaan melalui wall-nya, dia pun mengatakan bahwa dia Alhamdulillah sudah berjilbab. Senang rasanya melihat Della menepis semua keraguannya dan akhirnya berjilbab. Aku sudah tahu sedari dulu kalau Della adalah salah satu muridku yang cerdas, yang suatu saat pasti akan memutuskan akan memutup auratnya. Dan itu terbukti sekarang. Semoga kau istiqomah ya Del…
***
Kalau muridku yang ini namanya Dinda Nurul Maulida. Aku juga baru mengenal Dinda saat mengajar di kelas XI A1. Gadis bermata sipit ini mempunyai kesamaan denganku, sama-sama menyenangi bahasa Inggris. Wajar saja Dinda menyenangi bahasa Inggris, karena dia adalah gadis yang pintar di kelas. Dinda pun aktif di kepengurusan kelas sebagai sekretaris atau bendahara. Dia juga tercatat sebagai anak OSIS di sekolah. Selain pintar Dinda juga termasuk aktif di sekolah. Di luar sekolah yang kutahu dia mengaji dengan guru privat atau guru yang berada di lingkungan rumahnya. Dinda juga selalu kritis bertanya tentang berbagai masalah agama saat pelajaranku berlangsung. Tapi dia tidak pernah menyinggung masalah jilbab. Tidak pernah kami berdialog tentang jilbab. Justru dia berdialog denganku tentang adiknya yang austis (apa kabar Aziz sayang?). Aku bangga sekali dengan sikap Dinda sebagai seorang kakak yang menerima adikknya apa adanya dan tidak malu mempunyai adik yang autis. Ya aku pernah melihat seorang Ibu yang punya anak autis yang aktifnya bukan main pada saat aku sedang berada di puskesmas. Sungguh aku terenyuh melihat perjuangan Ibu itu, hingga aku begitu berempati pada mereka yang menderita autis ataupun keluarga yang mempunyai anggota autis. Ingin sekali suatu waktu aku mengajar anak-anak autis seperti pengarang favoritku, Torrey Hayden. Sehingga jika melihat sesuatu atau anak autis aku selalu teringat dengan adik Dinda. Bagaimanapun juga aku ingin terus memotivasi Dinda untuk selalu menjadi kakak yang sabar dan sayang kepada adiknya.
Dan lama kami tidak saling bertemu setelah dia mulai belajar intensif di sekolah dengan konsekuensinya pelajaran yang tidak diujikan dalam UN (seperti pelajaranku) tidak dimasukkan lagi dalam jadwal rutin, maka aku pun tidak bertemunya lagi. Lama sekali aku tidak bertemu hingga suatu saat seorang yang bernama Adinda Nurum Maulida meng-add facebook ku. Dari namanya aku pun sudah tahu kalau itu adalah si Dinda. Tanpa ragu langsung aku mengkonfirmnya. Dia memang Dinda, muridku yang cerdas. Waktu itu di pic profile nya dia belum mengenakan jilbab. Dan memang aku tidak pernah mengira dia akan segera memutuskan untuk berjilbab. Tapi tak lama kemudian, aku melihat pemberitahuan yang mengatakan, “Adinda Nurum Maulida menambahkan 5 foto baru”. Di foto-foto itu aku melihat Dinda mengenakan jilbab. Penasaran, aku langsung meng-klik profil Dinda, dan disitu seorang muridku yang cerdas terpampang dengan mengenakan jilbab. Langsung saja kukirim wall menanyakan jilbab yang dia kenakan. Lalu saat aku sedang berada di busway menuju kampung rambutan, kubaca wall balasan darinya, “Iya Kak, Alhamdulillah…abis ikut ujian kemana-mana gak lulus-lulus ya udah akhirnya pake jilbab ajah…hehehe…”. Aku senyum sendiri membaca wall balasan darinya. Memang kalau Allah sudah berkehendak untuk membuka hati seseorang pasti tak akan ada yang mampu menolaknya. Dan itu juga yang terjadi pada si cerdas Dinda. Walaupun mungkin alasannya tidak masuk akal, tapi gadis secerdas dia pasti tak akan gegabah untuk sekedar saja memakai jilbab. Ada gerimis lagi di hatiku saat mengetahui si cerdas itu berjilbab. Sungguh, tak ada kata yang mampu kuucapkan selain memuji kebesaran-Nya. Semoga dirimu istiqomah untuk terus mempertahankan hijabmu ya din…
***
Lain lagi dengan seorang muridku yang cantik bernama Siti Fatimah. Gadis tinggi berkulit putih ini akrab dipanggil dengan Fety. Dialah gadis yang mengirim SMS padaku malam itu. Tepat di ulang tahunnya yang ke-17 dia memutuskan untuk menutup auratnya. Sungguh tak terkiranya aku bahagia. Bahkan sempat kuingin melakukan sujud syukur atas kabar itu. Tak pernah terkirakan olehku sebelumnya. Aku malah cenderung berpikir kalau Fety adalah gadis yang lebih mementingkan tingkah laku ketimbang jilbab. Maksudku, asalkan tingkah lakunya baik baginya tak berjilbab pun tak masalah. Tetapi dugaanku salah sama sekali.
Aku mengenal Fety saat dia masih duduk di kelas 1 SMA. Waktu itu aku kebagian mengajar Pembinaan Rohani di kelas XF. Kelasnya Fety. Dia adalah sosok gadis yang cerdas, ceria, mudah berkawan, dan tidak sombong. Waktu itu dia duduk bersama Winda, murid kebanggaanku lainnya. Semua orang di sekolah tahu kalau Fety adalah murid yang cantik, tak lama dia pun menjadi primadona di sekolah. Banyak sekali yang menitip salam lewatku untuknya. Tapi waktu itu aku belum begitu akrab dengannya.
Saat kelas 2, secara kebetulan aku juga mendapat kesempatan mengajar di kelasnya. Di sinilah interaksi diriku dengannya yang akrab mulai terbangun. Yang kuingat pertama kali dia mengirim sms padaku menanyakan suatu hal. Dan dari situlah kemudian aku mulai akrab dengannya. Seringlah saya dan Fety saling ber SMS. Banyak topik yang kami bicarakan. Mulai dari peristiwa pembunuhan di sekitar rumahnya, pertanyaan dirinya tentang agama, sampai aku yang bertanya padanya tentang kisah Cinta Fitri (hehehe). Terkadang dia juga sering mengingatkan jam tayang sinetron kesukaannya itu. Di kelas pun banyak pertanyaan yang juga sering diajukan padaku. Setiap kali memeriksa lembar jawaban di ulangan Fety, aku pasti langsung mencari lembar krtik dan saran yang biasanya selalu diisinya dengan penuh kata-kata yang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Hobinya menulis, kuharapkan suatu waktu bisa terwujudkan dalam sebuah karangan atau buku. Karena kutahu tulisannya begitu bagus. Fety juga senang sekali dengan anak-anak kecil, wajar kalau kemudian dia bercita-cita menjadi guru TK.
Dia pulalah yang pertama kali langsung protes kepadaku saat pelajaran yang kuajarkan akan dihapuskan oleh pihak sekolah. Tak lama sesudah memasuki semester 2 di kelas 3, interaksiku dengannya menjadi berkurang. SMS yang dia kirimkan rata-rata hanya berkenaan agar aku mendoakan dirinya untuk lulus dari UN. Oiya, satu juga yang masih aku ingat sampai sekarang (dan menjadi hutangku), terakhir dia bertanya padaku, mengapa Nabi itu tidak ada yang perempuan? Sebuah pertanyaan yang belum sempat kujawab karena aku tidak yakin bisa menjelaskannya secara gamblang melalui SMS dan aku tidak tahu kapan bisa bertemu dengannya lagi. Hingga datanglah berita itu. Berita yang mengabarkan bahwa diri sudah berhijab. Subhanallah…Sungguh Fety adalah murid yang cerdas yang kuyakin tidak sembarangan membuat suatu keputusan. Semoga keputusanmu itu mendapatkan Ridho dari Allah ya Fety…
***
Malam ini sebelum aku memejamkan mata, ingin kupanjatkan sebait doa hanya unutuk kalian, murid-muridku yang telah memutuskan berjilbab Insya Allah dengan penuh kesadaran…

Ya Allah, kabulkanlah apa yang menjadi pengharapan mereka saat mereka memutuskan untuk memenuhi kewajiban-Mu…
Sayangilah mereka dengan setulus cinta dan kasih sayang-Mu…
Jadikanlah mereka selalu istiqomah di jalan-Mu dan dalam menutup aurat mereka…
Jadikanlah mereka cinta terhadap jilbab yang mereka kenakan hingga dengan penuh kesadaran mereka akan terus menjaga sampai akhir hayat mereka…
Ya Allah, lapangkanlah rezki mereka, permudahlah hidup mereka dan ridhoilah mereka…
Semoga jilbab yang hari ini mereka kenakan bisa menjadi penghalang api neraka untuk menyentuh kulit kepala mereka, menjadi saksi di hari kiamat akan keistiqomahan mereka, dan menjadi pelindung mereka…
Pertemukanlah mereka dengan Bunda Khadijah, Bunda Aisyah, bunda Asiah, di sebuah tempat terindah di dalam surga-Mu…
Dan jadikanlah mereka sebagai wanita yang mendapatkan syafa’at dari Rasulullah SAW…
Kabulkanlah doa hamba Ya Allah…untuk mereka, adik-adik hamba yang sudah memutuskan mengubah jalan hidup mereka…
Amiin Ya Rabbal Alamiin…..

Semoga dirimu istiqomah ya dek…^__^***(yas)




My work room, July 31, 2009
at 03.35 am
kutulis penuh cinta untuk murid-muridku tercinta
Siti Fatimah dan Dinda Nurul Maulida.
B’Yass bener2 terharu nih…:,)

SELAMAT JALAN BU USTADZAH...

“ Malam minggu kok masih ngaji sih, jang?”
Suara Bu Ustadzah itu terngiang lagi di telingaku. Pada malam itu aku sedang menyampar temanku untuk berangkat halaqoh bersama. Saat itu Bu Ustadzah sedang ada di dalam rumah karibku, bertemu dengan ibu temanku. Aku hanya menjawab pertanyaan Bu Ustadzah itu dengan seulas senyum.
Kuteringat lagi episode malam minggu itu. Sungguh tidak kusangka dan kuduga, siang tadi saat kumenulis catatan ini, Bu Ustadzah shalihah itu sudah pergi meninggalkan semuanya. Kembali kepada Allah SWT. Ada sebait kenangan yang ingin kutulis untuk mengenang beliau. Walaupun aku tidak pernah secara akrab mengenalnya tetapi ada sedikit kenangan yang mungkin bisa membuat kita semua teringat akan suatu pelajaran berharga yang selalu diingatkan oleh Rasulullah SAW, yaitu KEMATIAN.
“ Dan ingatlah pada penghancur segala kenikmatan dunia, yaitu kematian”
Malam itu, hari Kamis 6 Agustus 2009, seusai pulang mengajar privat dan mampir sebentar ke warnet, Aku berjalan menyusuri gang sempit menuju rumah teman akrabku. Pada saat aku ingin berbelok, di muka gang tampak banyak orang yang sedang berkerumul yang awalnya kumelihat tidak jelas apa yang mereka lakukan. Aku sempat menggerutu dalam hati pada orang-orang ini yang menurutku menghalangi jalanku saja (Astagfirulloh!). Namun setelah semakin mendekat pada pusat keramaian itu, aku baru menyadari bahwa keramaian itu tercipta karena ada seseorang yang sedang digotong menuju dokter umum yang memang letaknya tak jauh dari situ. Dua lelaki berbadan cukup besar itu tampak kewalahan menggotong orang itu. Beberapa Ibu-ibu mencoba untuk membantu dua laki-laki tersebut. Sekilas aku langsung melihat wajah orang yang digotong itu. Dia Bu Ustadzah. Tampak sekali tubuhnya lunglai dan tak berdaya. Dua lelaki itu memegang bagian bawah dan atas Bu Ustadzah. Anak perempuannya menemani di sampingnya.
“ Habis Isya tadi, Emak sesak nafas,” ujar anak perempuan Bu Ustadzah memberikan informasi pada para tetangga yang bertanya.
Sambil terus berjalan menuju rumah temanku yang letaknya bersebelahan dengan rumah Bu Ustadzah, aku ingat akan penyakit Bu Ustadzah itu. Pada waktu, aku dan teman-teman PKS DPRa Menteng Atas mengadakan Baksos dan pelayanan kesehatan di lapangan RW 013, tempat di mana Bu Ustadzah dan temanku berdomisili. Aku bertugas menjadi sie pendaftaran sekaligus pemeriksa tekanan darah. Saat itu di tengah keramaian para pengantri pelayanan kesehatan, dengan ditemani putrinya Bu Ustadzah datang dengan mulut yang terengap-engap. Temanku lalu menyampaikan pesan padaku bahwa putri Bu Ustadzah itu meminta izin agar ibunya diperiksa terlebih dahulu. Aku pun mempersilakannya. Karena kebanyakan para pengantri adalah murid-murid Bu Ustadzah, maka tidak ada yang protes akan keputusanku ini. Itulah yang kuingat tentang penyakit Bu Ustadzah.
Sesampainya di rumah temanku, aku menceritakan kejadian yang barusan kulihat. Setelah itu kami pun sibuk dengan pembicaraan yang lain.
Paginya, sekitar pukul 8, aku menerima SMS dari temanku yang mengabarkan bahwa Bu Ustadzah telah meninggal dunia! Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un. Rasa tak percaya menyergapi diriku. Rasanya baru saja semalam aku masih melihat wajahnya, dan sekarang sudah meninggal dunia. Ya Allah, itukah rahasia ajal yang tidak pernah bisa ditebak-tebak? Sebuah misteri yang hanya diri-Mu yang mengetahuinya? Maha Suci Engkau Ya Allah, Tuhan Pemilik setiap nyawa manusia.
Aku sengaja menyempatkan diri untuk sholat Jum’at di Masjid dekat rumah temanku hari itu. Seusai sholat Jum’at, beramai-ramai jenazah Bu Ustadzah disholatkan oleh para jama’ah. Dan setelah itu beramai-ramai kami mengantarkan Bu Ustadzah menuju ke peristirahatan terakhirnya. Aku pun sempat mendapatkan kesempatan untuk mengusung kerandanya. Setelah tanah kering itu ditaburi bunga dan dibacakan doa, maka perlahan orang-orang beranjak pergi meninggalkan makam Bu Ustadzah dalam kesendirian. Sedih rasanya aku melihat. Mungkin kemarin, atau seminggu yang lalu Bu Ustadzah masih bisa bersenda gurau, beraktivitas, dan lainnya maka sekarang yang ada hanyalah keheningan dalam keabadian. Sungguh jalan hidup anak manusia tidak ada yang pernah terkira.
Sepanjang perjalanan pulang yang kukenang bersama dengan temanku hanyalah kenangan baik dari Bu Ustadzah. Seorang wanita yang berumur 60 tahunan. Seorang yang bila dalam keadaan sehat sangat enerjik dan ramah terhadap tetangganya. Seorang yang menangani pengajian ibu-ibu 2 RT sekaligus. Seorang simpatisan Partai Dakwah, yang tak pernah absen untuk ikut setiap kampanye ataupun acara aksi lainnya. Seorang yang ketika bertemu dengan temanku selalu menanyakan, “kapan Partai Dakwah mengadakan kampanye?” (akan selalu terkenang sekali perkataan itu ustadzah). Seseorang yang walaupun sudah ditinggal suaminya bertahun-tahun yang lalu tetapi tidak pernah bergantung kepada orang lain. Seseorang yang sangat mencintai Al-Qur’an dan tidak mau masyarakatnya buta oleh Al-Qur’an. Seseorang yang......Ah, masih banyak sekali Bu Ustadzah kebaikan yang bisa kukenang. Mungkin kata-kata di tulisan ini akan penuh dengan kebaikanmu jika aku menuliskannya.
Kematian adalah sesuatu yang pasti akan kita hadapi. Dimanapun dan kapanpun bisa saja terjadi. Tapi tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi. Semuanya adalah kembali pada Allah. Jujur saja, aku pun takut mati. Bukan hanya takut pada proses kematiannya itu sendiri, juga pada dosa-dosaku yang menggunung tinggi. Pada dosa yang selalu kulakukan setiap hari dan terus menerus. Ya Allah adakah kesempatan bagi hamba untuk menggerus semua dosa itu sebelum aku berpulang ke pangkuan-Mu? Hanya peristiwa Husnul Khatimah saja yang kuinginkan pada saat aku mengalami proses kematian. Lalu dalam kesendiranku di pusara bertanah merah basah, kuingin hanya kebaikan ku saja yang dikenang oleh orang-orang yang mengenalku. Tapi, kebaikan apa yang telah kuperbuat? Sepertinya kebaikan itu tersembunyi di antara tumpukan keburukan yang mendominasi hidupku. Ya Allah, hanya kepada-Mu lah aku berharap dosa dan keburukanku hanya Engkau dan diriku saja yang tahu. Ya Allah, selamatkanlah hidupku.

Selamat tinggal pada semua, berpisah kita selamanya
Kita tak sama nasib disana, baikkah atau sebaliknya
Berpisah sudah segalanya, yang tinggal hanyalah kenangan
Diiring doa dan air mata, yang pergi tak akan kembali lagi

Selamat jalan Bu Ustadzah. Simpatisan Partai Dakwah yang sangat disayangi para kader dan masyarakat. Semoga Allah melapangkan jalanmu untuk bertemu dengan-Nya. Semoga Allah juga mempermudah urusanmu di kehidupan setelah mati ini. Selamat jalan Bu Ustadzah…***(yas)


Jakarta, My Room, August 8, 2009
03.25 am
Semoga hanya kebaikan yang dikenang…

UKHUWAH (PUISI)

Pagi ini dalam taman surgawi
Kulihat pucuk-pucuk ukhuwah mulai bermekaran
Rona cinta terpancarkan dari beningnya hati
Hasrat jiwa yang menggelora tak tertahankan
Untuk mengatakan cinta
Terbingkai indah dalam kasih sayang Ilahi Robbi

Siang ini pucuknya sudah mulai merekah
Menerbarkan aroma cinta yang terlihat indah
Membuat setiap mata ingin menatapnya penuh kasih
Menelusuri ruang jiwa terdalam dan mengisi kekosongan jiwa

Sorenya ukhuwah sudah menjadi bunga
Dengan balutan ketaatan dan ketaqwaan
Dihiasi rasa takut dan keimanan yang suci
Terangkai di dalam sanubari akan ketulusan fitri
Hingga detik pun tersa tak bertepi

Dan selepas malam dia sudah berdiri sendiri
Memasuki hati-hati setiap insan yang kering
Dan menyiramkannya dengan kasih
Hingga masanya diri ini
Pantas untuk disebut insan beriman


Jakarta, 11 Desember 2003
FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us