Tuesday, March 17, 2009

MASA BAHAGIA

Minggu pagi itu dalam tenangnya suasana alam dan semilirnya angin bertiup, munculah kata2 yg meluncur dari seorang Murabbi…

“ Ya akhi,untuk mengembalikan kekuatan dakwah kita lagi maka kenanglah masa2 kejayaan kita dulu. Masa2 kalian merenda kebersamaan di dalam Rohis. Ingatlah saat susah payahnya kita mengadakan acara di Rohis.Ingatlah masa2 di mana semangat kita begitu menggebu2 untuk menegakkan dien ALLAH…”

Mata saya yang menatap lekat dua bola mata Murobbi saya mulai terasa berair. Kata2 Sang Murabbi masuk ke dalam gendang telinga saya dan terpatri disana. Teman-teman saya yang lain juga menatap lekat Murabbi dengan nanar. Otak saya pun memutar ulang peristiwa2 indah yang pernah saya alami beberapa tahun silam…

Satu malam sebelum “bundaran” ini berlangsung tepatnya malam Sabtu,23/12/05 saya sedang berpikir tentang Rohis almamater SMA saya dulu. Tentang mentoring yang kerap dihadiri oleh segelintir orang saja. “Ya ALLAH saya merasa gagal. Adakah rencana indah yang tengah Kau susun…?” bisik hati saya saat itu. Hingga esoknya mentoring saya hanya dihadiri 2 orang personil kls X saja, saya bisa maklum karena beberapa orang yg lain sedang ada keperluan. Dan setelah itu saya “curhat” dengan teman saya, “Gimana nih Mal,ane kok makin pesimis ya?” teman saya hanya terdiam.Lalu hadirlah diskusi dan rencana2 yang mungkin akan kita lakukan untuk merekrut kembali anak2 kls X,termasuk dengan rencana “gila” meneleponi mereka 1 per 1. Berapa pulsa yang akan habis….

Malam sebelum “bundaran” berlangsung saya sempatkan diri untuk mabid bersama di SMAN 3 bersama mentor2 saya yg kls3. Dlm QL saya sempatkan diri untuk berdoa pada ALLAH agar hati2 anak kls X “dilumerkan” untuk aktif di Rohis dan mentoring khususnya. Berdoa pada-Nya agar hati saya dan para binaan saya diikatkan dalam satu ikatan cinta yang dilandasi oleh kepatuhan pada diri-Nya. Saat muhasabah sebelum saya juga terisak merasa perjuangan saya untuk mengajak anak2 kls X belum maksimal…

Dan pagi ini saat “bundaran” sedang berlangsung memori tentang masa indah itu terputar kembali….

Saat saya dan teman2 (kita) mengikuti LDK Rohis yang dipenuhi dengan diskusi dan argumen2 untuk memenangkan masing2 tim. Ukhuwah menjalar di sanubari kita masing2…

Saat kita bertujuh (Saya,Aris,Camal,Fauzan,Iwan,Win,&Suprianudin) ditambah dengan 3 orang akhwatnya (Tia,Eshie,&Zakiah) tiba2 disuruh presentasi saat acara ekskur Rohis sedang berlangsung, menjadi wakil dari teman2 calon pengurus yang lain. Tanpa persiapan sama sekali,kecuali beberapa lembar proposal yang dibuat secara ngawur,para alumni saat itu (Bang Hakim,Bang Arif,Bang Yessi,Bang Irfani,Bang Firman,dll) “membantai” kami di depan para anggota Rohis.Tapi berkat kekompakan kami,pertanyaan alumni berhasil kami jawab dengan “sempurna” (aduh malunya saya saat itu yang pake baju jangkis dan ga’ pake soft lens,turun deh pamor Rohis ^_^). Kami pun mulai merasakan bahwa dengan adanya kebersamaan maka segala rintangan akan dapat kami hadapi…

Saat mulai menjadi pengurus Rohis dan mengatur acara2 Rohis dengan tekad mengembalikan predikat bahwa 43 adalah sekolah pesantren…

Saat rihlah bersama para alumni yang tanpa persiapan apapun dan tanpa banyak alasan kita langsung menuruti ajakan alumni…karena yang kita cari adalah taliful qulub (keterikatan hati anatar sesama pengurus Rohis)…

Saat beberapa bulan sebelum memasuki bulan Ramadhan, rapat menjadi sebuah keharusan. Tiada hari tanpa rapat (BT Bo’). Tapi tetap diikuti semua personil Rohis dengan suka cita…

Saat mencari dana beberapa hari sebelum ramadhan menjelang. Datang ke rumah kakak kelas dan dikasih uang Rp.20ribu yang langsung membuat kita jejingkrakan…^_^ bahkan sampai sujud syukur…sehingga menambah semangat untuk mencari dana dan membuncah keyakinan pada diri bahwa ALLAH ga’ akan membiarkan hamba-Nya berjuang tanpa kesia-siaan….(Loves ALLAH…)

Saat dengan teganya sang bendahara GEMA memodali Rp.5ribu per kelompok (1 kelompok 3 orang) untuk mencari dana ke 10 donatur yang rumahnya jauh2,dan dana itu untuk satu minggu…!!! Teganya….^_^ Tapi semngat tetap membara di dada kita…

Saat ramadhan tiba,mulailah kenal dengan yang namanya makan di warteg (first moment) berbekal lauk seadanya saat saur. Piket bergantian dan mengambil makanan di rumah Pak Asmit (thank you) sampai sempat dimarahi Pak Asmit karena yang namanya nampan,piring,dan teko nggak pernah dipulangin tepat waktu…^_^ saat saur kedapatan kecoa dalam nasi yang dipesan…(ih jijay) bela2in syuro sampai tengah malam untuk nyusun rencana cari dana sampai pas pulang kepergok sama gerombolan anak2 muda yang bawa parang,clurit,dorlop (ih tatut) yang mau tawuran,tapi saat bilang anak Rohis langsung aman….

Saat sebelum SWARA, Yadi nelepon saya untuk ikut survey villa SWARA.Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya,saya bolos sekolah!! ^_^ Dari rumah izin berangkat sekolah tapi ngumpet di gang samping 43 dekat malino tungguin anak2 yang juga mau bolos and ikut survey bareng (nakal ya!) sampai disana diceritain kejadian menyeramkan sama penjaga vilanya dan melihat ular mati di atas batu saat mau ke sungai. Yang paling heboh saat saya dan yadi digosipin kecelakaan saat survey oleh penelepon gelap. Sampai Bu Imas marahin Camal (emang enak ya Mal),anak2 rohis pd cemas,di rumah udah dibacain yasin dan dibayangin yang ngak2,eh tau2nya muncul saat usai taraweh dengan keadaan yang segar bugar yang bikin teman2 pd melongo dan ga’ yakin bhw kita mash idup…alangkah lucunya….

Saat SWARA menjelang yang mulai perang urat syaraf dengan sesama pengurus karena perbedaan pendapat…jalan ke villa kira2 dari 43 ke guntur (jauh banget bo’) mana harus bawa peralatan yang segede2 alaihim. Tapi tetep dijalani dengan ikhlas. Trus panitia kehabisan makan saur dan buka yang terpaksa saur dan buka dengan ciki,wafer,dan kacang (ga’ akan terlupakan) gara2 kompornya dipinjem buat jualan Pop Mie ^_^ jatah jagung buat kesejahteraan panitia juga dilahap abiz sama alumni….aduh makin tambah gondok…sampai2 ada kejadian mistis saat ada seorang peserta yang kerasukan jin dan teriak2. Sampe bu Imas bilang “Jin nya susah keluar nih,” Trus karena ga ada azan tiba2 buka aja eh ga’ taunya setelah makan azan baru kedengeran….cuci piring yang bertumpuk-tumpuk yang serasa ga ada abiz2nya….sampe sempet ngomel2…. “akhwat jangan ngerjain kita dong….” Semuanya ga’ akan pernah terlupakan.

Saat seusai SWARA Pas evaluasi….”Afwan ane keilangan tutup termos”, “sendok ane selusin ilang”. “wajan ane masih cemong”. “Tutup panci ane ga’ ada…” Ah adah2 aja…Kalo inget ini jadi ketawa sendiri…

Saat mabit bareng di alhikmah untuk pertama kalinya yang ga’ tau kalo bacaan sholatnya puuuuaaaaannnnnjaaaaaaanngggg daaaannnn lllaaaaaaaamaaaaaa…..^_^ sampe ga’ tahan….tapi itu jadi awal momen untuk terus QL di Alhikmah…

Saat muqoyam di Javanaspa dan harus jalan sendirian di tengah hutan belantara malam harinya….(ih syeereem). Ngeliat lampu badai jalan sendiri…dan salah jalur….Tapi menanamkan syaja’ah (keberanian) pd diri ini…

Saat setelah Ebtanas hari terakhir usai…semua pengurus yang masih aktif dan nggak kumpul dulu untuk memberikan tausiyah dan kesan terhadap Rohis untuk terakhir kalinya…diakhiri dengan makan nasi warteg bareng2….betapa ukhuwahnya….

Saat rihlah ke KRB dan di puncak acara sebelum pulang saat games tatapan wajah akhwatnya saling menangis karena nggak ingin kehilangan ukhuwah ini dan sahabat yang ada di Rohis…Hiks…hiks…hiks…

Saat mabid bareng di rumah Fauzan…

Saat gagal bersama di UMPTN…

Saat disidang alumni karena ketahuan ikhwan dan akhwat foto bareng…

Saat jadi panitia dauroh di sekolah alam dan bawa jaket almamater sendiri2…

Saat mendirikan TPA dengan biaya yang kolekan…

Saat jualan baju2 bekas yang hasilnya ditujukan untuk mujahidin di Afghanista….

Saat….saat….saat….saat….

Ah betapa banyak kenangan indah di Masa bahagia itu…mungkin dengan sedikit mengingat masa bahagia itu sejenak jejak langkah kaki kita yang rapuh di jalan dakwah saat ini bisa kuat kembali….

Dengan mengingat masa bahagia itu azzam kita semakin kuat untuk membuat masa2 bahagia itu terulang kembali….

Ya ALLAH bantulah hamba-Mu….dan jadilah saksi atas tekad hamba-Mu ini….

Saksikanlah Ya ALLAH………….


Jakarta,28 Des. 05

05.50 am bada sholat subuh

dan saat denger Opick feat Amanda…

Alangkah indahnya….

I JUST WANNA BE AN ORDINARY PEOPLE

“ I just wanna be an ordinary people…”

Kalimat itu sempat saya tulis besar-besar di sebuah buku ukuran setengah halaman A4 dengan kover berwarna biru. Buku yang selalu menemani kegiatan sehari-hari saya. Tempat menumpahkan segala hal tentang diri saya. Tempat “curhat” teraman bagi diri saya.

Why? Saya benar-benar merasa capek dan lelah dalam berdakwah. Saya merasa gagal. Segala usaha yang selalu saya rancang dengan penuh pertimbangan selalu tidak membuahkan hasil. Segala rencana yang berujung indah ternyata hanya berujung kegagalan. Hingga saya merasa bersalah, kecewa, dan gagal.

“ Gimana nih Bang, anak kelas X nya nggak ada yang mau ikut dauroh?”

“ Bang kok acara yang udah kita konsep bareng peminatnya sedikit ya?”

“ Yass, Ibu dapat teguran dari guru-guru yang lain kalau pengajar Bina Rohis guru-gurunya sering nggak datang,”

“ Afwan Akh, antum sudah gagal total,”

Ya Allah!

Belum lagi permasalahan saya dengan dakwah selesai, datang lagi tuntutan dari orang tua kepada saya. Saya mendapatkan teguran karena dianggap terlalu mementingkan orang lain sehingga tidak mengurus diri sendiri. Tuntutan ekonomi dari orang tua pun juga mendera saya.

“ Jangan terlalu banyak kegiatan mending kamu cari kerja,”

“ Bantu Ibu bayar telepon dong,”

“ Seharusnya kamu di usia seperti ini sudah kerja, lihat tuh teman kamu itu.”

“ Cepat kerja, setelah itu pergi dari rumah ini segera, jangan seperti benalu pada orang tua,”

Ya Allah! Ya Karim!

Masalah seolah tak mau lepas dari diri saya untuk saat ini. Saat saya berharap “lingkaran kecil” yang sudah saya ikuti sejak zaman putih abu-abu dapat memberikan sedikit pencerahan pada diri saya, malah membuat hati saya semakin gundah…

“ Afwan akhi, acaranya ditunda nggak sekarang,”

“ Afwan akhi, MR kita lagi ke luar kota jadi pekan ini nggak ada acara,”

“ Kayaknya minggu ini nggak acara lagi deh akh,”

Hati saya pun semakin terasa parah bak terkena sembilu. Kalaupun acara pekanan ada hanya dihadiri segelintir orang saja, itu juga dengan waktu yang sudah tidak sesuai janji. Dan berkali-kali acara pekanan dibatalkan atau sekadar bincang-bincang saja karena kuota personilnya yang tak lengkap.

Ya Rahman! La Hawla Wala Quwwta Ila Billah…

Berikan hamba ketabahan Ya Allah…

Lalu munculah ide itu. Just wanna be an ordinary people. Saya ingin menjadi seperti orang kebanyakan. Menjalani hidup sehari-hari tanpa perlu memikirkan dakwah. Tanpa pernah merasa bersalah bila dakwah tak berhasil ditegakkan. Setelah itu fokus mencari pekerjaan dan konsentrasi penuh dengan pekerjaan yang sudah didapatkan. Terakhir berhenti total dari “lingkaran kecil” dan menjadi anggota majelis taklim saja.

Saya hanya ingin menjadi orang yang biasa saja. Seperti teman-teman biasa saya yang lain. Selesai sekolah lalu kuliah, bekerja dan menikah. Juga teman Rohis saya kebanyakan, cukup dakwah saat di Rohis atau LDK saja setelah itu konsentrasi penuh dengan dunia kerja dan mengumpulkan materi untuk masa depan. Melihat mereka yang terasa tanpa beban menjalani hari-hari mereka. Tak akan merasa bersalah bila tak ada kader dakwah yang lain lagi. Tak merasa terbebani bila acara Muharam tak berjalan dengan sukses. Tak merasa bersalah bila tak datang mengajar kajian Islam di alamamaternya dulu. Ya Allah berdosakah saya dengan timbulnya pikiran seperti itu?

Tak lama saya pun segera menemui-Nya untuk berkonsultasi juga berkeluh kesah. Saat rembulan bersinar Purnama dan suasanan hening, sejuk, dan langit ditaburi berjuta bintang. Berbekal sebuah sajadah saya pun segera menunaikan shalat sunnah dua rakaat dalam kesendirian. Memori-memori yang melatasi kegundahan saya pun terputar ulang…

Untuk dakwah di almamater SMA saya yang terasa gagal. Usaha saya untuk menhgubungi adik-adik ikhwan di kelas satu untuk ikut kegiatan mentoring ternyata nihil belaka. Berkali-kali saya teleponi mereka, dan berkali-kali nihil. Juga saat mengkonsep acara kajian semenarik mungkin dengan target peserta yang ikut seratus ternyata hanya diikuti seperduapuluhnya saja. Tak terhitung lagi berapa banyak pulsa, tenaga, dan waktu yang saya keluarkan yang terasa dalam kesiaan belaka dan berujung pada keluhan saja. Seperti apakah perasaan Nabi Nuh saat bertahun-tahun berdakwah hanya diikuti empat puluh orang saja?

Juga untuk umur saya yang semakin meningkat tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Saat tuntutan ekonomi didera oleh orang tua. Saat melihat teman-teman yang lain sudah mendapatkan gelar kesarjanaan sedangkan saya harus memulai perkuliahan dari awal lagi karena sempat drop-out. Saat teman-teman dengan mudah membeli benda-benda yang mereka inginkan, sedangkan saya harus mengumpulkan uang mati-matian untuk membayar kuliah. Saat teman-teman sudah mulai saling membanggakan dirinya dengan karier yang telah mereka dapatkan sedangkan saya selalu malu bila ditanya kegiatan yang dilakukan saat ini. Saat kakak-kakak saya memberikan tenggang waktu untuk keluar dari rumah. Saat yang lain memandang jelas masa depannya sedangkan saya terasa buram memandang hal yang bernama masa depan.

Terakhir untuk tarbiyah saya yang belum benar. Saat teman-teman yang lain berlomba-lomba menggapai tingkatan marhalah dalam tarbiyah, saya seperti berjalan di tempat. Saat teman satu lingkaran sudah sukses dengan karier mereka masing-masing, hanya saya yang tertinggal sendirian. Tinggal saya yang mengasihani diri saya sendiri.

Ya Allah…kenapa kau buat segalanya jadi begini? Bukankah Engkau Maha Berkehendak? Kenapa hamba selalu merasa kekurangan rezeki? Bukankah Engkau Maha Pemberi Rezeki? Mengapa tidak segera kau bukakan pintu-pintu hati adik-adik kelasku? Bukankah Engkau Yang Maha Membolak-balikkan Hati? Kenapa lamaran kerja hamba selalu berujung pada penolakan? Bukankah Engkau akan selalu menolong hamba-Nya yang membutuhkan? Kenapa kau bedakan hamba dengan teman hamba yang lain? Kenapa Ya Allah…? Kenapa dakwah terasa berat? Kenapa hidup terasa sempit?

Saya pun hanya bisa menagis sejadi-jadinya layaknya seorang anak kecil. Bertanya terus kepada Allah atas segala hal yang terjadi pada saya saat ini. Atas gundah yang melekat di hati saya.

Pertanyaan saya pun menguap begitu saja tanpa terjawab. Saya segera bangkit kembali untuk mengakhiri qiyam saya dengan tiga rakaat witir.

Ya Allah Maafkan hamba-Mu yang Maha Dhoif ini, yang hanya bisa berkeluh kesah, yang hanya bisa menyalahkan diri-Mu. Maafkan hamba-Mu yang tak pernah sabar, yang selalu terburu-buru, dan yang selalu menginginkan sesuatu dengan cepat. Maafkanlah Ya Allah…atas segala kelancangan diri hamba…

Terasa sekali ada perbedaan setelah kewajiban sunnah yang utama setelah sholat fardhu itu saya laksanakan. Gundah saya perlahan terasa mengikis. Rasa cemas dan pesimis seolah mulai menghilang. Lumbung resah saya pun mulai berkurang dengan pasti. Di pembaringan saya merenung sejenak.

“ Bang, saya pilih ekskul Rohis saja deh, abis lebih menentramkan jiwa.”

“ Sejak ikut mentoring, alhamdulillah saya sudah mulai bisa mengontrol kelakuan buruk saya Bang,”

“ Rohis memberikan kedamaian kepada saya Bang,”

Suara-suara adik-adik kelas saya terngiang kembali. Saya pun teringat kepada mereka yang beralih ekskur ke Rohis. Yang meninggalkan kehidupan gelap mereka dan mencoba menemukan sedikit cahaya di Rohis.

Suara-suara teman-teman saya juga terngiang dengan jelas.

“ Aduh akh, semenjak kerja saya sudah nggak bisa dakwah lagi nih, terasa ada yang kurang,”

“ Akh, ana ingin dakwah lagi. Ana merasa hidup ana stagnan.”

“ Akh, ana bosan dengan rutinitas kantor, ana ingin kembali ke dakwah seperti dulu lagi.”

Mereka yang merasa kehilangan “jiwa” mereka di dalam dakwah. Mereka yang ingin kembali berdakwah kembali.

Juga komentar beberapa tetangga sebelah rumah.

“ Ibu mah beruntung banget ya punya anak yang nggak macam-macam. Nggak terjebak narkoba seperti anak saya,”

“ Untung banget ya Bu punya anak yang nggak ngelawan sama orang tuanya, nggak kayak anak saya yang sering banget ngelawan orang tua,”

Alhamdulillah…! Sgala puji hanya milikmu Ya Allah.

Saya lalu seolah menemukan kekuatan baru lagi. Secercah harapan menghampiri relung jiwa saya lagi.

Harapan untuk tetap berdakwah di SMA saya dulu.

Saya akan terus menghubungi terus adik-adik kelas saya untuk ikut mentoring. Seperduapuluh anak yang mulai komitmen akan mulai saya bina. Mungkin mereka adalah yang telah dipilih oleh Allah. Saya pun tak akan jera untuk mengkonsep acara-acara kajian semenarik mungkin walaupun hasilnya akan tetap sama. Saya yakin Allah akan bersama saya dan membantu saya. Saya harus terus optimis.

Saya juga akan mencoba setiap kesempatan kerja yang datang pada saya. Berapa lamaran pun akan terus saya buat dan kirim. Saya akan menunggu masa itu. Masa Allah menentukan waktunya untuk saya. Saya harus yakin bahwa Allah tak akan menyusahkan saya diluar kemampuan diri saya. Dan janji Allah untuk manusia yang berjalan di jalan-Nya pasti akan dipenuhi. Karena hanya Dialah yang Maha Menepati Janji.

Juga di “lingkaran kecil” saya akan berbuat yang terbaik. Mencoba memberikan tausiyah kepada mereka yang sudah mulai “menyimpang” dan saling tauladan mentauladani. Mencerahkan kembali “lingkaran” itu seperti sedia kala.

Hati saya pun berbunga-bunga kembali. Optimis menyemai kembali. Semangat tersedia lagi berjuta-juta ton. Segera saya mengambil diary biru saya. Membuka halaman terakhir yang saya tulis. Menyilangkan kalimat I just wanna be an ordinary people dan disampingnya menulis… I JUST WANNA BE A DIFFERENT PEOPLE!!

Saksikan Ya Allah…atas tekad hamba-Mu ini…***(YAS)

“ Tak ada yang lebih baik di mata Allah selain para da’i yang bertaqwa dan ikhlas hanya karena-Nya,”


Wednesday, February 22nd, 2006

Thursday, March 5, 2009

MY DAMAGE COMPUTER...(SUCKS!!!)

Aduh...duh...sebenarnya pengen banget nih bulan Maret lebih banyak nulis lagi but monitor komputer aye totally quit alias gak nyala. Digebrak dulu atasnya, nyala sebentar kemudian mati lagi. Mana inspirasi lagi banyak banget lagi nih. Akses ke komputer emang disitu doang. Mau ke rental, kadang kalo udah sampe di rental mood susah banget diciptain. So...aduh...gimana ya?? It suckss!!

Wednesday, February 18, 2009

MY PHOTOGRAPH (PART 2)


Desa Caringin yang mempesona


Dari atas bukit


Hamparan hijau yang luas..subhanallah..


lorong sepi koridor busway


menjelang maghrib di Rasuna Sahid



Lokasi : Desa Caringin, Rasuna Sahid
Tahun : 2007-2008

CINTA YANG MENGALAHKAN TARBIYAH

Seseorang baru saja berbicara kepada saya tentang sikap yang dilakukan temannya. Temannya dia secara diam-diam menjalin "persahabatan" dengan seorang pria yang belum terikat dalam tarbiyah dan bisa digolongkan sebagai sang hanif.

" Loh, dia bilang sudah nggak berhubungan lagi dengan dia?" tanyaku.

" Nggak tau juga deh. Dia bilang sih emang begitu. Tapi ada info dari sumber yang terpercaya kalau dia masih sering chatting lewat YM and fesbuk dengan pake emoticon yang..." seseorang itu menghentikan pembicaraan karena merasa tidak enak.

Ya, kabar ini kudapat jauh beberapa bulan yang lalu. Saat itu akhwat ini meminta pendapatku tentang seorang hanif tadi. Awal mulanya mereka berua adalah hanyalah aktivis kampus yang kemudian menjadi suka pada pandangan pertama. Tapi yang menjadi problem adalah sang hanif ini bukanlah orang pergerakan dan belum tarbiyah. Lalu kuberikan pendapat ada baikknya bagi dia untuk memilih pasangan hidup dari kalangan tarbiyah saja karena mungkin cara ini bisa dikatakan lebih aman. Bila dua orang yang sudah tarbiyah dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan maka Insya Allah visi dan misi mereka dalam membangun rumah tangga yang Islami sudah jelas.

" Tapi Bang, ikhwan ini mau kok aku suruh ngaji.Dan sekarang dia juga sudah mulai ngaji," akhwat itu mencoba memberikan argumennya.

" Ukhti, akan lebih aman bila antum mendapatkan ikhwan yang tarbiyah sama seperti antum. Bukankah itu bisa menjadi satu pilihan yang mungkin lebih aman ketimbang antum memilih ikhwan yang baru. Bila mendapatkan ikhwan yang dalam pergerakan yang sama dengan kita Insya Allah segala masalah bisa diselesaikan dengan baik," ujarku memberikan saran.

Dan setelah itu memang akhwat itu memutuskan untuk tidak meneruskan "persahabatan" nya dengan sang hanif. Hingga kuterima kabar yang kutulis di kalimat awal.

Fenomena seperti ini memang sudah sering kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Banyak sekali ikhwan dan akhwat yang dengan alasan mengikuti perkembangan mode, mencoba untuk menghias dirinya (gapura kali dihias...hehehe). Aku sendiri tidak mempermasalahkan itu karena menurutku sih sah-sah saja mempercantik diri. Tapi akhirnya ada beberapa orang yang kebablasan. Terjebak dalam tabarruj yang berlebihan. Mungkin istilah anak sekarang adalah "lebay". Dengan dalih sekarang sudah zaman terbuka, berjalan berdua antara sesama aktivis ikhwan dan akhwat sudahlah menjadi lumrah. Menggulung-gulung jilbab (ngapain juga jilbab digulung ya?) sesuai mode menjadi syar'i dalam pandangan mereka. Hingga semula kulihat seorang akhwat yang berjilbab panjang dan anti celana panjang maka secara drastis memperpendek jilbabnya dan tak canggung lagi memakai celana panjang, baik itu celana bahan maupun jeans.

Terlepas dari itu semua, yang paling mengkhawatirkan bagiku adalah fenomena pacaran yang mulai menjangkiti para aktivis. Aku pernah memergoki seorang ikhwan dan akhwat berjalan bergandengan tangan di sebuah pusat perbelanjaan. Segera aku tabayyun ke teman alumni di almamaterku, mungkin saja mereka berdua sudah menikah. Tapi jawaban yang kudapati adalah sebaliknya. Atau kali lain aku pernah bertemu seorang akhwat yang sedang jalan bareng dengan seorang teman laki-lakinya yang bukan orang tarbiyah maupun pergerakan. Hingga akhirnya ujung-ujungnya mereka berdua menikah. Atau ada juga yang saking bebasnya pergaulan, pergi ke tempat-tempat yang dulu adalah tabu bagi aktivis sekarang menjadi lumrah. Aku pun tak memungkiri sering pergi ke bioskop bila ingin menonton film yang bagus, atau pergi foodcourt, dll. Tapi aku sering memilih bioskop yang jaraknya sangat jauh dri pusat aktivitasku. Misal, aku yang tinggal di Jakarta, memilih untuk pergi ke depok hanya sekedar penasaran ingin memonton film. Masih tersisa sedikit malu di hatiku bila aku bertemu dengan teman-temanku. (^__^)

Kembali lagi ke persoalan sang akhwat dan sang hanif, lalu dimana hasil tarbiyah yang telah tertempa selama beberapa tahun? Apakah dengan mudah cinta mengalahkan tarbiyah kita yang sudah kita pupuk selama bertahun-tahun. Ingatkah saat kita pertama kali memilih jalan yang berbeda dengan kebanyakan orang, yaitu jalan dakwah. Memutuskan untuk memakai jilbab, menutup aurat kita dan mengabdikan diri kita hanya untuk berjuang di jalan penuh rintangan ini. Kita mungkin pernah juga, baik secara ekstrim maupun persuasif, memperingati orang untuk tidak melakukan sesuatu hal yang tidak berguna dan laghwi, seperti pacaran, merayakan valentin, dll. Hingga kita pun bertekad ingin membentuk sesuatunya serba islami. Rumah tangga Islami, masyarakat islami dan negara Islami.

Lalu datanglah sepotong cinta di hati kita. Sepotong cinta yang menguji kematangan tarbiyah kita. Yang bisa menghasilkan dua pilihan bagi diri kita, cinta yang mengalahkan tarbiyah atau justru kematangan tarbiyah yang memendam perkembangan cinta. Semuanya pun memilih. Memilih dengan mengedepankan hujjah tarbiyah atau mengedepankan nafsu semata. Bagi mereka yang memilih mengedepankan tarbiyah ketimbang cinta semu semata, meyakinkan diri sendiri bahwa semua proses apapun itu harus mengedepankan redho Allah SWT. Hingga menemukan cinta pun memakai jalur yang benar. Menggunakan fasilitas tarbiyah untuk menemukan cinta yang sejati. Menjadikan tarbiyah sebagi pondasi dalam membangun cinta. Karena diri ini yakin bahwa Allah memilihkan jodoh untuknya. Hingga virus bernama cinta pun tak mampu untuk merobohkan dinding tarbiyah yang menghujam kuat.

Tapi bagi mereka yang memenangkan cinta atas tarbiyah, sesungguhnya seperti membangun tembok tinggi lalu menghancurkannya sendiri. Sebuah hasil jerih payah yang beberapa lama diusahakan lalu tiba-tiba seperti hilang tanpa bekas. Perasaan sedih sang Murobbi pun pasti ada untuk kita. Kemudian karena perasaan tidak enak perlahan-lahan mulai jarang datang tarbiyah. Sampai ujung terjadi pembiasaan untuk tidak tarbiyah hingga akhirnya dulu kita yang menginginkan berbeda dengan yang lain sekarang kita tak ada bedanya orang lain. Dan cinta pun mengalahkan tarbiyah. Tarbiyah kita. Tarbiyah yang menjadikan kita berbeda dengan orang lain pada umumnya.

Sekarang bila itu terjadi pada kita, seperti yang terjadi pada sang akhwat, akan memilih yang manakah kita? Maukah kita kembali menjadi kecil lagi dengan meninggalkan tarbiyah? Atau menjadi semakin besar dengan tidak terpengaruh sedikit pun dengan hal yang remeh temeh seperti cinta? Walaupun cinta anugerah tetapi bukankah lebih baik bila dia didatangkan pada waktunya nanti? Pada saat cinta itu sudah menjadi indah dan halal untuk dinikmati. Semua pilihan ada di dalam hati wahai akhi dan ukhti. Pilihan untuk menentukan jalan cinta kita. Menyemai cinta itu dengan penuh keredhoan Allah atau mulai memetik cinta itu hingga akhirnya dia akan menjadi layu pada saat seharusnya dinikmati? Wallahu'alam Bishowab.

Teringatlah aku akan sebuah keluhan seorang teman ketika dia menasehati saya tentang pernikahan. Dia seorang ikhwan, yang mempunyai istri "orang biasa" bukan akhwat. Dia menikahi istrinya tersebut pada saat dia dalam kondisi futur. Padahal ikhwan tersebut bisa dikatakan sebagai orang-orang yang paling awal dalam tarbiyah. Dia berpesan sedikit kepadaku.

" Lebih baik nanti antum mencari istri yang akhwat saja. Yang sama-sama tarbiyah. Jangan seperti ane. Sekarang ane kesulitan mengurus anak karena kita nggak satu visi,".

Aku hanya mengangguk dan menyimpan perkataan itu dalam hati.

Ya Allah, bila saatnya nanti kuinginkan pendamping hidup dari hasil tarbiyahku selama ini..

Jagalah hamba Ya Allah agar tidak mengorbankan tarbiyah ini hanya karena cinta sesaat...

Sesungguhnya, aku hanyalah hamba-Mu yang dhoif dan selalu salah jalan...

Bait lagu "Mengemis Kasih"nya The Zikr seolah terdengar lagi di diriku.

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati

Kepada manusia yang alpa juga buta

Lalu terhiritlah aku di lorong gelisah

Luka Hati yang berdarah kini jadi kian parah

Semoga, aku, kamu, dan kita semua selalu istiqomah dengan tarbiyah ini. Amiinnn***(yas)



My work room, February 18, 2009

at 18.05 pm

Salam hormat untuk para Murobbiku

FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us