Tuesday, July 5, 2011

OH...TURKEY!! (I WANT TO GO THERE...*SCREAM)


Penuh sejarah yang bisa dijelajahi



Poster promosi wisata Turki



Lebih indah dari negara lain dan menguntungkan orang Islam sendiri


The phenomenon BLUE MOSQUE...mau dong sholat jama'ah disana


Suasana Turki di waktu malam hari


Waaahhh...bersih banget airnya


Teratur dan sedap dipandang



OMG...Pantainya...


Mupeng abisss...


Ini semua bermula gara-gara Pak Ihsan, ketua humas media DPW PKS Jakarta. Pada satu pertemuan dia memperlihatkan gambar-gambar hasil dinasnya ke Turki pada saat pemilihan umum kemarin. Wahhhh...bikin aku langsung jejeritan karena pengen banget kesana. Negerinya yang bersih, masyarakatnya yang teratur, orang-orangnya yang perpaduan antara orang2 eropa sama arab ^_^ , dan sejarahnya yang bikin curious banget!

Aduh...duh...pokoknya harus berdoa sama Allah agar diberi kesempatan untuk kesana. Kalau bisa sih sekalian umroh jadi masih ada hawa-hawa islaminya gitu. Tapi....wah ngumpulin duitnya harus lebih lama lagi nih...hiks..hiks..hiks...andaikan punya pohon duit...hehehe...

Ya Allah...ini semua adalah kerajaan-Mu dan hanya Engkaulah pemilik semua ini...semoga Kau berikan aku kesempatan untuk mengunjungi negeri ini. Amiinnn...

Monday, July 4, 2011

Memory Sabtu Malam


Aku masih ingat jalan-jalan yang selalu kutapaki tiap hari sabtu malam. Rute yang selalu sama yang tak pernah aku lupa. Bergegas berangkat dengan penuh semangat membara di dada. Berharap bertemu dengan teman-teman yang selalu menyambut dengan hangat. Mendengarkan tausiyah yang cukup untuk sebagai perbekalan bertempur seminggu ke depan. Taman-taman surga yang berhiaskan keindahan.

Walaupun aku seringkali datang terlambat, tapi selalu menyempatkan diri untuk datang ke pertemuan sabtu malam ini. Wajib hukumnya bagiku untuk datang. Akan ada rasa bersalah atau penyesalan mendalam jika aku tak menghadiri pertemuan itu tanpa alasan yang kurang jelas. Bagaimanapun kondisinya, bila tidak terlalu penting maka aku akan tinggalkan demi pertemuan sabtu malam ini.

Pernah suatu saat usai rihlah ke Kebun Raya Bogor bersama adik-adik sekolahku di SMAN 43 aku tertidur hingga bangun larut malam. Aku tertinggal pertemuan sabtu malam kala itu karena kelelahan. Aku merasa menyesal sekali tidak datang pertemuan itu. Aku ketinggalan suasana hangat yang selalu kurasakan tiap sabtu malam. Aku tertinggal jadwal men "charge" imanku.

Ya, pertemuan sabtu malam itu begitu kunanti sangat. Malam berangkat usai sholat Isya, menyusuri keindahan malam kota jakarta dengan kelap-kelip lampunya yang menyala di sepanjang jalan Rasuna Said. Kadang menikmati ketoprak sekadar pengisi perut. Atau melihat tingkah polah orang lain selama perjalanan.

Sesampainya di rumah tempat pertemuan itu dilaksanakan, ucapan salam menjadi begitu berarti bila yang kau berikan adalah saudaramu sendiri. Berjabat tangan menghancurkan dosa-dosa yang tidak terlihat, lalu mereka melapangkan majelis dan memberikan sebuah tempat untuk kita duduk. Nikmat persaudaraan mana lagi yang bisa kuingkari? Tak lupa segelas air mineral kemasan disodrokan kepadaku. Betapa indahnya persaudaraan.

Tak lama surat cinta penghubung Sang Khalik dengan ciptaannya terlantumkan dengan suara-suara yang penuh kerinduan. Bila ada yang keliru membaca maka sang saudara akan membetulkannya dengan penuh perhatian tanpa rasa sombong sedikit pun. Sebait untaian kata-kata bermakna yang diucapkan kurang lebih tujuh menit kemudian membuka cakrawala berpikir ku lebih luas lagi.

Selanjutnya, Sang Penghantar kebaikan pun hadir di tengah-tengah kami. Membacakan sebuah ayat yang berkesan lalu menjelaskan maknanya. Tanpa kita sadari kata-kata yang terlontarkan dari mulut nya merasuk ke dada kami. Ada yang membekas kuat, ada yang menerimanya sebagain, ada pula yang tak mengambilnya sama sekali. Semua tergantung dengan kondisi kami pada saat itu. Tapi apapun kondisi yang terjadi sungguh kata-kata itu selanjutnya menjadi bekal kami dalam mengarungi samudra kehidupan seminggu ke depan. Mungkin ia akan menjadi penguat di kala badai menghadang, atau ia akan menjadi pengubah airmata menjadi sebuah harapan.

Dan terakhir inilah yang selanjutkan akan memadukan hati-hati kami semakin erat. Qodhoya dan rawa'i. Sebuah forum untuk menyampaikan semua kegiatan yang sudah kita lakukan. Merangkum kehidupanmu selama 7 hari dalam beberapa menit saja. Semua mendengarkan dengan seksama disertai derai tawa dan senyum lebar jika mendengar kebahagian dari saudaramu. Bercerita tentang sebuah episode hidup yang bergulir seiring berjalannya waktu. Tak terasa waktu pun terus bergulir hingga berganti hari. Kemudian kami semua kembali ke rumah dengan bekal sesuai dengan yang kami ambil hari itu. Ada yang membawa banyak, ada yang setengah, ada yang sedikit dan ada yang tak membawa sama sekali.

***

Sekarang kurasakan semuanya sangat berbeda. Tak ada lagi sabtu malam yang "menggigit". Tak ada lagi bara yang bersemanyam di dalam sekam. Aku tak merasakan kegairahan yang sama di sabtu sore.

" Biar kita bisa tahajud,"
" Biar tidak kemalaman "
" Biar punya banyak waktu bersama keluarga "
" Sudah disepakati bersama "
" Subuh takut kesiangan "

Berbagai alasan terlontarkan. Aku sangat mempermasalahkan tenggang waktu yang terlalu sempit, terlebih untuk acara Qadhaya dan Rawa'i yang bahkan juga pernah tidak ada karena over limit. Oke, materi memang tersampaikan tetapi bukankah dengan bercerita akan lebih mengakrabkan suasana? Tidak hanya sekedar mendapatkan materi saja. Oh, aku benar-benar tidak mengerti.

Dan semuanya berimbas pada diriku dan beberapa teman yang lain. Sungguh tak ada semangat yang membara seperti dulu kala. Tak ada rasa bersalah bila tak hadir. Lebih memilih acara lain bila dibenturkan dengan jadwal pertemuan rutin. Aku sudah kehilangan moment dan suasana yang kuskai tiap sabtu malam itu.

Sekarang aku tak tahu bagaimana. Rasanya seperti mau tak mau. Tapi....ah aku benar-benar merindukan suasana sabtu malam itu. Benarkah sesudah pertemuan dipindahkan sabtu sore mereka tak pernah ketinggalan sholat subuh? enarkah sesudah sabtu sore mereka selalu sholat tahajud? Ah, aku tak bisa berpikir lebih keras. Tapi...entahlah...

Dan sekarang aku sungguh kehilangan memori-memori itu.

Jalan yang kulalui....

Cahaya yang berkelap-kelip...

Kehangatan sahabat....

Kesempatan bercerita....

Sekarang semuanya hanya tinggal memori. Aku rindu pertemuan sabtu malam. Sungguh aku rindu...***(yas)

Wednesday, September 8, 2010

ANDAIKAN RAMADHAN SEBUAH GUA

Suatu hari di tengah teduhnya cahaya matahari duduk melingkar para murid di bawah pohon menghadap ke guru mereka yang duduk tenang di atas sebuah batu. Siang menjelang sore itu para murid itu merindukan sebuah petuah dari sang guru bijak yang sudah sedikit sepuh itu.

" Setelah ini, pergilah para muridku mencari sebuah dengan ciri-ciri yang kusebutkan sebangai berikut..." suara tua itu masih terdengar tegas di telinga murid-muridnya. Guru itu pun menjelaskan ciri-ciri dari gua yang harus didatangi para muridnya. Para muridnya mendengarkan dengan seksama

" Jika kau sudah berada di dalam gua itu dan mendapatkan apa yang ada di dalamnya, maka bagi kalian yang mendapatkan banyak benda akan merasa menyesal, lalu bagi yang mendapatkan sedikit juga menyesal, dan yang tidak mendapatkan apa-apa juga akan menyesal," lanjut guru itu lagi. Beberapa murid berkerut kening mendengar penjelasan itu. Tanpa menjawab pertanyaan tak terucapkan dari para muridnya guru itu segera menyuruh para muridnya untuk bergegas pergi.

" Pergilah! Dan temukan gua itu. Ambil atau tidak benda yang ada di dalamnya," ucapnya terakhir kali sebelum para muridnya segera pergi meninggalkan guru tercintanya tersebut mencari sebuah misteri.

Singkat cerita gua itu pun berhasil ditemukan oleh para murid. Segera mereka bergerak masuk ke dalam gua tersebut.

" Wah, gelap sekali! Tidak terlihat apapun disini," salah seorang murid berkata di muka gua. Tanpa rasa takut mereka segera masuk ke dalam gua tersebut sesuai dengan petuah dari guru mereka.

Semakin ke dalam gua itu semakin gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan apapun di dalam gua itu. Segalanya begitu gelap dan sunyi senyap. Mereka saling bertanya dalam hati, dimanakah gerangan benda yang dimaksud oleh sang guru itu. Semakin ke dalam yang ditemukan oleh mereka hanyalah kegelapan.

Tiba-tiba...

" Aku menginjak sesuatu!!" satu orang berteriak.

" Aku juga menginjak sesuatu!!" suara yang lainnya.

" Aku juga!!"

" Aku juga!!"

Suara-suara itu membahana saling sahut menyahut di dalam gua. Seketika gua menjadi ramai dengan teriakan-teriakan itu.

Tak lama semuanya terdiam. Berpikir sejenak apa yang mereka injak. Dan pikiran di otak mereka tergiring pada satu kesimpulan bahwa mungkin benda yang mereka injak adalah benda yang dimaksud oleh guru mereka.

Beberapa orang segera mengambil benda yang ada di bawah kaki mereka. Mereka mengambil dengan sebanyak-banyaknya. Memasukkannya ke kantong baju mereka, memasukkan ke dalam baju mereka dan menggenggam kuat di tangan mereka.

Beberapa yang lain juga mengambil benda yang tidak mereka ketahui itu. Tapi mereka hanya mengambil benda itu sekedarnya saja. Mereka mengambil yang mereka pikir perlu untuk diambil.

Beberapa orang sisanya hanya berdiam diri saja tidak mengambil apa-apa. Mereka hanya berdiri di dalam kegelapan dan enggan mengambil benda yang tidak mereka ketahui itu.

Ketika kelompok orang itu sempat berhenti seketika. Mereka teringat akan pesan dari guru mereka tentang mereka yang akan menyesal semua. Tapi pikiran itu segera ditepis oleh masing-masing.

Tak lama sesudahnya, para murid itu segera keluar dari gua. Cahaya di luar gua baru bisa memberikan kabar benda apa yang sesungguhnya mereka ambil. Benda-benda itu adalah mutiara yang tak ternilai harganya!

Melompat kegiaranganlah mereka yang mengambil mutiara itu sebanyak-banyaknya. Lalu mereka menyesal, andaikan mereka bisa mengambil mutiara itu lebih banyak lagi. Begitu juga dengan mereka yang mengambil mutiara itu secukupnya. Mereka senang tetapi juga menyesal, andaikan bisa mengambil mutiara itu dengan sebanyak-banyaknya.

Dan yang tentu saja mengalami penyesalan paling dalam adalah mereka yang tidak mengambil mutiara itu barang satu pun. Menyesali diri mereka dengan sedalam-dalamnya.

Semuanya lalu tersadar akan apa yang diucapkan oleh guru mereka. Mereka semua akan menyesal. Mereka yang mengambil benda dengan sebanyak-banyaknya, mengambil benda secukupnya, dan tak mengambil apapun semuanya berada dalam penyesalan. Ah, sekali lagi perkataan guru mereka terbukti benar. Tertatih mereka segera kembali menuju tempat guru mereka. Ingin mereka membenarkan apa yang telah dikatakan oleh sang guru.

Guru itu masih berada di tempat yang sama. Dia menanti murid-muridnya dengan penuh senyuman. Murid-murid sang guru pun segera membuat lingkaran seperti awal mereka sebelum berangkat.

" Guru, apa yang kau katakan benar adanya. Kami semua merasakan penyesalan," satu suara mengawali percakapan.

Guru itu tersenyum bijak. Dia hanya terdiam hingga suasana menjadi hening.

" Apa maksud ini semua guru?" satu suara mulai bertanya lagi. Guru itu sepertinya sudah menunggu seseorang untuk menanyakan hal yang telah mereka kerjakan.

" Maksud dari ini semua adalah tentang Ramadhan wahai muridku," sang guru memulai.

Murid-murid tercengang tak mengerti apa yang dimaksud oleh guru mereka.

" Ya, anadaikan Ramadhan itu sebuah gua. Gua yang pekat yang tak bisa terlihat. Lalu mutiara-mutiara itu adalah pahala yang bertaburan di dalam bulan Ramadhan." lanjut sang guru.

" Ketika kalian memasuki gua itu, sebagian ada yang mengambil mutiara itu sebanyak-banyaknya, sebagian ada yang mengambil secukupnya saja, dan sebagaian ada yang tidak mengambil apa-apa. Lalu pada ujungnya kalian semua merasakan penyesalan yang mendalam,".

Murid-murid mulai tertunduk mendengarkan petuah sang guru.

" Andaikan ramadhan itu sebuah gua, maka mutiara-mutiara itu adalah pahala yang bertebaran di bulan ini. Beberapa orang berupaya mengambil pahala sebanyak-banyaknya maka di akhir Ramadhan dia akan menyesal, andaikan dia bisa mengambil pahala dan beribadah lebih banyak lagi di bulan ini. Beberapa orang yang mengambil pahala sekadarnya saja di akhir Ramadhan, ketika mentari syahwal akan menjelang, dia akan menyesal, andaikan dia bisa meraih pahala lebih banyak bukan hanya sekadar saja," lanjut sang guru.

" Dan mereka yang tidak mengambil pahala apapun di bulan ini sungguh di ujung bulan ramadhan juga akan menyesal. Menyesal akan waktu yang telah mereka lewati dengan penuh kesia-siaan sehingga tidak ada pahala yang bisa mereka ambil. Mereka menyesal, andaikan mereka mendapatkan pahala walau hanya setitik saja. Dan semuanya akan mengalami penyesalan di bulan Ramadhan," pungkas sang guru.

Beberapa murid mulai meneteskan air mata mereka.

" Murid-muridku, ketika kita berada di bulan mulia ini maka manfaatkanlah bulan mulia ini dengan sebaik-baiknya. Ambillah pahala itu dengan sebanyak-banyaknya. Jangan sampai kalian menyesal di penghujungnya karena telah melewati bulan ini dengan sia-sia. Raihlah pahala yang bertebaran itu. Di setiap sudut pahala itu begitu mudah untuk kau dapatkan. Begitu banyak Allah menaruh pahala itu, semua itu disediakan untukmu. Untukmu, hamba yang paling dicinta oleh Penciptanya. Jangan sia-siakan pahala itu muridku," sebongkah kristal bening bermain di pelupuk mata sang guru.

Murid-murid menangis. Menagisi Ramadhan yang ada di hadapan mereka tetapi belum maksimal usaha yang mereka lakukan untuk meraih pahala yang begitu banyak tersedia.

Sore itu, senja lamat-lamat berubah menjadi lembayung jingga. Masih adakah kesempatan bagi hamba-Mu Ya Allah untuk meraih pahala di bulan mulia ini. Berikan kami kesempatan wahai Dzat Yang Tak Pernah Mengenal Siksa pada hamba yang dikasihi-Nya....***(yas)





Jakarta, 20 Ramadhan 1431 h / 30 Agustus 2010

@masjid Babbussalam di itikaf pertamaku

Ya Allah....kuingin selalu menjadi orang yang bersyukur

atas segala yang Kau berikan padaku....
FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us