Friday, May 1, 2009

MY MEMORY of CHAMPAIGN


PENJAGA GAWANG DPRA BERISTIRAHAT


IBU-IBU SIMPATISAN PKS MENTAS


MERANGSEK KE HADAPAN


COKLAT DENGAN LAGU BENDERA NYA


MEJENG DIKIT AH MUMPUNG 5 TAHUN SEKALI


KAMPANYE PUTARAN TERAKHIR YANG HEBOH


PADAT WALAUPUN HARI SENIN




Warnet, 1 Mei 2009
This is memory...

Wednesday, April 8, 2009

HARAPAN ITU MASIH ADA

TANGGAL 9 APRIL 2009
JANGAN LUPA....
Pojok Kanan ataS...
Untuk DPR/D lebih BERSIH...
Salah memilih akan menyesalllll...!!!!

Friday, April 3, 2009

RASULULLAH YANG TERLUPAKAN

-untaian cinta mengenangmu-


Apa kabar Ya Rasul? Berabad-abad lamanya sudah Kau meninggalkan kami disini. Hanya cerita dan riwayat hidupmu yang hingga kini tak pernah terlupakan oleh semua manusia. Selalu hidup dalam sanubari kami. Menimbulkan sebuah asa dan kerinduan yang mendalam. Sungguh, sejarahmu menimbulkan satu kerinduan yang teramat sangat. Walaupun diriku dan dirimu tidak pernah bersua. Namun dari sejarahmu saja, aku termat ingin berjumpa denganmu. Apalagi jika aku hidup di zamanmu. Mungkin kerinduan ini melebihi segalanya, ya kecuali kerinduan ku juga kepada Allah Rabbul Izzati. Jadi sangatlah wajar jika Umar bin Khatab begitu marahnya saat dia mendapatkan kabar tentang wafatnya dirimu. Hingga dia pun berteriak, "Akan kupenggal siapa saja yang mengatakan Rasulullah sudah mati!". Suatu hal yang sangat wajar ketika seseorang tidak menginginkan kehilangan sesuatu yang begitu termat dicintainya. Yaitu Engkau, Ya Rasulullah, Muhammad bin Abdullah.

Rasulullah cintaku, sebentar lagi peringatan hari kelahiranmu akan tiba. Masih teringat dengan jelas saat kubaca lembar demi lembar cerita dalam Sirah-mu kau akan terlahir di muka bumi. Bunda Aminah begitu tegarnya mengandung dirimu. Dalam kesepian sepeninggal kekasih hatinya, yaitu Ayah mu, Abdullah. Dan diapun melahirkan dirimu. Pada saat itulah segala keajaiban terjadi. Kerajaan Kisra Parsi runtuh tiba-tiba, api abadi di biara Majusi padam tiba-tiba, dan sebuah cahaya putih muncul di langit Mekkah. Itulah tanda seorang manusia besar akan tiba. Seorang pemimpin besar yang tak seorang pun mampu untuk menandinginya. Seorang pemimpin yang bisa memadukan unsur ketegasan sekaligus kasih sayang. Seorang pemimpin yang tidak pernah minta dilayani oleh ummatnya tetapi justru merasa bersalah bila tidak bisa memenuhi kebutuhan ummatnya. Ya Rasul, sumber ketaudanan kami.

Namun sungguh malang nasibmu Ya Rasul, tidak berapa lama setelah Halimah memulangkanmu kepada Ibundamu tercinta, Allah berkehendak untuk memanggilnya. Pada saat kau senang bermanja-manja dengan Ibumu tercinta, pada saat seluruh kasih sayang Aminah tercurah padamu, kau pun harus merelakan kepergian orang terkasihmu itu. Sungguh sebuah perjuangan yang sangat berat untukmu. Namun Allah telah menakdirkan cinta untukmu suatu saat nanti. Kiranya hal seperti inilah yang mungkin tak sanggup untuk aku hadapi. Berbeda denganmu yang walaupun ada air mata tapi kau tetap tegar seperti batu karang.

Ya Rasul, dimenjelang miladmu nanti aku teringat kembali akan perjuanganmu yang begitu berat dan penuh onak dan duri. Kuteringat kembali saat orang-orang kafir itu menghalang-halangimu untuk bersembahyang di Ka'bah.Saat kau dan pengikutmu menunjukkan dakwah secara terang-terangan dan bergerak menuju Ka'bah untuk menunjukkan eksistensi mereka, para orang kafir itu justru menimpukimu dengan batu. Bahkan seorang wanita begis, istri Abu Lahab membakar jalan yang akan kau lewati dengan ranting-ranting pohon. Maka abadilah wanita itu sebagai pembawa kayu bakar di neraka. Lalu apakah aku tidak menagis saat kau sedang bersujud dalam sholatmu di depan Ka'bah lalu orang-orang kafir itu menaruh kotoran dan jeroan binatang di atas punggungmu? Bahkan anakmu, Fatimah Az-Zahra yang datang dan membersihkan kotoran itu pun menangis dan sambil terisak dia mengatakan, "Wahai ayah, begitu berat perjuanganmu,". Siapa yang tega melihat ayahandanya terkasih dilecehkan oleh orang-orang kafir? Tapi kau tetap tersenyum dan tidak pernah mengeluh. Selalu saja kau katakan, "aku tidak pernah merasa terganggu dengan hal ini,".

Dan Rasulullah, kuingat juga, saat orang-orang kafir itu menimpuki mu dengan batu. Bukan batu biasa, tetapi batu gurun pasir. Mereka juga tak puas sampai disitu. Selain melempar, mereka juga meludahi dirimu. Tapi hebatnya Kau (dan aku tak yakin bisa mengikutinya), saat orang yang melempari dan meludahimu itu absen dari kegiatannya, kau malah menanyai kabarnya. Hingga kau mengetahuinya dia terbaring sakit, kau malah datang menemuinya dan mendoakannya. Subhanallah! Bukan hanya itu saja, begitu banyak deraan yang kau terima dari orang-orang kafir itu. Cercaan, makian, fisik, pengkhianatan, dan lainnya hingga membuat Malaikat penjaga gunung pun menawarkan pilihan kepadamu. " Ya Rasulullah, izinkan aku untuk menghancurkan mereka semua. Akan kuratakan gunung Uhud sebagai akibat perbuatan mereka kepadamu,". Tetapi dengan bijak dan senyummu yang sangat khas kau mengatakan, "Tidak usah kau lakukan itu, kalaupun mereka tidak bisa menerima Islam sekarang aku masih berharap anak dan cucu-cucu mereka akan mendapatkan hidayah,". Sellau tak ada amarah yang meluap-luap.

Kemudian, para kafirin yang melihat kau tidak akan tergoyahkan dengan cara apapun untuk meninggalkan Islam, menawarkan jalan keluar yang menurut mereka adil. Melalui pamanmu terkasih, Abu thalib, mereka menawarkan agar kau menyembah berhala sehari, lalu mereka di hari berikutnya mereka akan menyembah Allah. Dengan tegas tetapi santun kau pun mengatakan, "Demi Allah, paman, andaikan matahari ada di tangan kananku dan bulan ada di tangan kiriku, tak akan kutukar Islam dengan suatu apapun,". Sebuah penolakan yang amat berani disaat kondisi kekuatan kaummu yang lemah.

Sejarah pun mencatat saat kau dilanda kesedihan. Mungkin semua orang yang membaca riwayatmu pada bagian ini juga akan menitikkan air mata. Saat kau kehilangan wanita yang paling kau cintai, Bunda Khadijah. Saat istri tercintamu itu meninggal dunia karena sakit. Kau pun berduka untuk beberapa saat. Kau selalu memikirkan dia. Kau enggan untuk makan dan minum dan selalu terbayang-bayang istrimu terkasih itu. Wajar kau begitu kehilangan dirinya. Dialah sumber kekuatanmu yang lain setelah Allah. Dialah yang memelukmu dengan erat usai kau berjumpa dengan malaikat Jibril di gua Hira. Dialah yang memberikan semua hartanya untuk fisabilillah disaat yang lain justru enggan untuk berinfak. Dialah yang ada di saat hatimu berduka. Dialah yang membantumu meringankan segala beban dakwah. Dan dialah satu-satunya istrimu yang bisa memberikan keturunan untukmu. Jadi tentu saja cintamu untuk Bunda Khadijah lebih luas dari samudra di lautan.

Pada saat istrimu tercinta meninggal, kau pun harus ditinggalkan seorang paman yang selalu membela dirimu mati-matian. Dia menjadi tamengmu dari kejahatan orang-orang Quraisy. Dialah pamanmu terkasih, Abu Thalib. Kau begitu merasa kehilangan Paman terkasihmu itu. Tetapi yang menyedihkan bagimu atas kematian Abu Thalib adalah keengganan dirinya untuk bersyahadat walaupun secara penuh dia mempercayai bahwa Islam adalah agama yang benar. Dan kau pun terluka karenanya. Paman terkasihmu harus menjadi bagian penghuni neraka. Dukamu pun semakin bertambah.

Ya Rasulullah...banyak sekali kisah yang mungkin bisa kugoreskan di tulisan ini. Tentang para sahabat yang mengeluh kelaparan dan mengganjal perut mereka dengan satu batu saat sedang menggali parit dalam perang Khandaq, lalu mereka menjadi malu hati saat melihat dirimu mengganjal perut dengan dua batu. Tentang air mata Umar yang mengalir, saat melihat kondisi hidupmu yang serba kekurangan. Kau tidur beralaskan tikar sekadarnya, kau rela berpuasa berhari-hari, kau tinggal di rumah sederhana, dan Umar pun berujar, "Wahai Rasulullah, Raja Kisra tidur dengan nyaman di dalam istananya yang mewah. Kaisar Roma selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Sedangkan kau begitu sangat jauh berbeda dengan mereka. Padahal kau pemimpin yang lebih besar daripada mereka,". Dan Rasulullah pun hanya tersenyum tanpa banyak berkat-kata. Aisyah pun pernah bertanya-tanya saat dirimu sholat malam sampai kakimu bengkak-bengkak. "Ya Rasulullah, bukankah Allah sudah menjamin dirimu untuk masuk ke dalam surga, lalu untuk apa kau melakukan shalat sampai seperti itu?". Kembali tutur kata bijak terucap dari mulutmu, "Wahai Humaira, tidak bolehkah aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?". Wajar bila kemudian Allah menganjurkan semua hamba-Nya untuk mencontoh dirimu. Dia pun mematrikan anjuran itu dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 21 :

" Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Akhirnya, ada episode cinta dalam kisahmu yang selalu kukenang setiap saat. Kisahmu dengan seorang kakek Yahudi buta yang setiap hari kau datangi untuk menyuapinya. Kau kunyah makanan yang akan dimakan kakek itu hingga halus dan mudah ditelan oleh kakek itu. Tapi, kakek itu selalu bercerita hal yang sama padamu, "Tahukah Kau, ada seorang orang gila di Mekkah yang bernama Muhammad mengaku-ngaku dirinya sebagai Nabi terakhir? Sungguh tidak waras orang itu," dan caci-maki terlepas dari mulut kakek Yahudi tua itu. Tetapi kau (lagi-lagi) hanya tersenyum dan tak menanggapi omongan kakek itu. Suatu saat Abu Bakar sahabat terdekatmu datang pada Aisyah dan bertanya tentang sunnah-mu yang belum dijalaninya. "Wahai Aisyah putriku, apa hal yang sering dilaksanakan Rasulullah dan aku belum melakukannya?". Aisyah dengan sigap berkata, "Sesungguhnya, Rasulullah setiap hari selalu menyuapi seorang kakek Yahudi buta yang ada di pasar,". Abu Bakar pun bergegas untuk menjumpai kakek Yahudi tua itu. Sesampainya disana, dia menjumpai kakek itu yang sedang duduk menyendiri dan teracuhkan oleh suasana pasar. Kakek itu pun begitu bahagianya menyambut kedatangan Abu Bakar yang disangkanya Rasulullah itu. "Kemana saja kau nak, sudah beberapa hari kau tidak datang menemuiku?" ujar kakek itu dengan kerinduan yang besar. Abu Bakar tak menjawab. Dia sibuk menata hatinya. Lalu makanan yang ada di piringnya diambil dan disuapkan kepada kakek tua itu. "Puhhhh..." kakek itu memuntahkan makanan yang disuapkan Abu bakar. Abu Bakar terkejut. "Kau bukan yang seperti biasanya. Orang yang selalu menyuapiku selalu mengunyah terlebih makanan yang akn disuapkan kepadaku. Siapa kau?" Kakek tua itu marah. Abu Bakar pun tak dapat menahan tangisnya. Dengan terisak dia memaksakan diri untuk mengatakan hal yang pahit kepada kakek itu. " Orang yang selama ini menyuapi kakek sudah meninggal dunia," ujarnya berat. Kakek itu bertambah marah. "Jangan kau berbohong kepadaku. Katakan, siapa orang yang selama ini selalu menyuapiku? Yang tidak merasa jijik sedikit pun. Yang selalu kuceritakan hal yang sama tentang Muhammad si gila itu? Katakan padaku siapa orang itu?" Kakek itu menarah amarah sekaligus sesak didadanya. Dengan teramat berat Abu Bakar pun mengatakan hal yang sebenarnya. "Dialah orang gila yang selalu kau caci maki. Dialah Muhammad Rasulullah,". Dan kakek itu pun ikut menangis. Sungguh sebuah kisah dalam lembaran catatan dirimu yang begitu mulia.

Hingga pada detik-detik kematianmu pun dialog yang terucapkan olehmu dan malaikat Izrail adalah pikiranmu tentang ummat mu yang akan kau tinggalkan. Saat Izrail berkali-kali merasa tidak tega melihat kau menahan sakitnya sakratul maut. Tapi di tengah sakit yang melanda itu yang terucapkan adalah, "Bolehkah aku saja yang memanggung semua rasa sakit sakratul maut ummatku wahai Izrail. Agar ummatku tak perlu merasakan sakitnya sakratul maut?". Izrail hanya menggeleng. Dan kalimat terakhir yang kau ucapkan adalah, "Ummati...ummati...ummatku...ummatku...". Dan kau pun pergi menghadap Allah. Membuat semua makhluk di muka bumi ini menangis akan kepergian manusia mulia yang tiada duanya.

Ya Rasulullah...sungguh rindu ini membuncah saat kutulis kisah tentangmu. Betapa hamba telah lama melupakanmu. Namun begitu namamu selalu terpatri dalam hatiku. Menyisakan sebuah sudut kerinduang di relung jiwaku yang terdalam. Hingga kuinginkan suatu saat nanti rindu itu bisa tertunaikan. Saat kubisa melihat wajah Purnamamu. Saat kubisa mengecup tanganmu dan memeluk dirimu seerat-eratnya. Izinkan aku pengikutmu yang dhoif ini bertemu denganmu suatu saat nanti. Untuk saat ini biarlah kutanggung sendiri penderitaan akibat rindu yang tertahankan ini. Asalkan kubisa bertemu denganmu, apapun akan kulakukan. Tapi maafkan aku bila terlalu banyak sunnah mu yang tak bisa kulaksanakan. Maafkan aku yang begitu sulitnya mengikuti jejak langkahmu. Maafkan aku yang bisa menangis karena rindu padamu lalu setelah itu melupakanmu lagi. Maafkan aku Ya Rasulullah...

Dan di milad mu ini, hanya seuntai shalwat yang bisa kupanjatkan padamu sebagai hadiah dariku. Tetapi tetaplah kau bersemayam di hatiku. Untuk selamanya.

Ya Allah...cintaku untuk-Mu dan untuk nabi-Mu semoga tak pernah hilang dalam sanubariku...

Semoga cinta dan rindu yang terpendam itu bisa mekar menjadi bunga pada waktunya nanti...

Pada waktu kubertemu dengan-Mu dan dengan nabi-Mu...

Hingga hilang segala resah dan gundah yang selama ini mendera...

Dan semuanya menjadi indah pada waktunya...

Dialog Rasulullah dan Umar Ra. pun terputar kembali di benakku.

" Wahai Umar apakah kau mencintaiku?" tanya Rasulullah suatu ketika

" Iya wahai Rasulullah, aku mencintai dirimu melebihi aku mencintai keluargaku dan seperti aku mencintai diriku sendiri," jawab Umar.

" Wahai Umar, itu bukan bukti cinta yang benar," koreksi Rasulullah.

Umar terperanjat kaget. " Lalu bagaimana aku harus mencintaimu Ya Rasulullah?"

" Kau harus mencintai aku melebihi kau mencintai dirimu sendiri. Itulah jalan cinta padaku yang benar," senyum Rasulullah merekah.

Cintaku pada Rasulullah melebihi luasnya langit dan bumi. Tetapi bukti cintaku padanya baru sebesar sebutir pasir di pantai. Astaghfirulloh...Bantu aku mencintaimu lebih Ya Rasulullah...***(yas)


My work room, March 6, 2009

at 02.30 am

accompanied with shalawat from Winamp

Ingin kubuktikan cintaku padamu...

Buat kelas 3 SMAN 43,

SELAMAT BERJUANG!!!

Tuesday, March 17, 2009

LELAKI YANG MENGUBAH JALAN HIDUPNYA

Selasa sore itu bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1427H saat berkumpul kembali di rumah sang Murabbi ditunjukkanlah saya dan teman2 sebuah album foto. Kami sangat takjub melihat foto2 yg ada di dlm album itu. Itu merupakan foto jadul berisi ttg aktivitas SDI (studi Dasar Islam) SMA 43 angkatan saya sekitar tahun 1997-an. Saat itu saya sendiri tidak ada dalam foto itu tapi banyak teman yang sangat familiar bagi saya. Terlihatlah wajah2 para sahabat saya. Saat mereka dengan semangatnya mengikuti acara SDI dengan penuh suka cita. Saat tempat yang seadanya tak menghalangi tekad mereka untuk mengadakan perubahan diri bersama Rohis. Saat wajah-wajah itu masih murni dan sinar cahaya Ilahi akan menghampiri mereka sebentar lagi….

Lalu berbagai komentar pun meluncur dari lisan2 kami…

“ Ya Alloh, ini khan si fulan..”

“ Dia ternyata anak Rohis ya…?”

“ Ya Alloh, masa bahagia ini…”

Mungkin tak sedikit dari kami yang kemudian teringat kembali akan episode2 masa lalu kami bersama Rohis…hingga saya pun terinspirasi untuk membuat tulisan ini

yang merupakan rasa bangga saya sekaligus kehilangan saya atas teman2 yang datang dan pergi….

Lelaki itu pernah menjadi idola di sekolah. Dia juga pernah menjalani hidup sebagai model di Catwalk. Dia selalu membuat hati wanita menjadi bergetar bila berdekatan dengannya. Dia yang dulu menilai bahwa anak Rohis di zaman itu adalah “manusia aneh”. Hubungannya dengan Pembina Rohis pun tak harmonis kala itu karena masalah pelajaran yang tak disukainya. Tapi dia tetap masuk Rohis karena kakak2nya adalah aktivis Rohis. Yang disukanya dari Rohis adalah rasa ukhuwah yang dinilainya saat tinggi. Namun…. Allah lebih berkuasa atas dirinya daripada dia sendiri. Hidayah-Nya tak dapat ditolak oleh siapaun pun tak bisa sembarang orang mendapatkannya. Lelaki itu pun mengubah jalan hidupnya… Tanpa disangkanya dewan alumni memilihnya menjadi Ketua Rohis!! Dia terkejut melebihi keterkejutan teman2nya yg tak pernah menyangka dia akan menjadi Ketua Rohis. Dia tidak diprediksikan saat itu, ada calon lain yang lebih dijagokan. Tetapi sekali lagi ALLAH lah Sang Maha Berkehendak. Saat itulah mulai menjadi momen perubahan bagi dirinya. Segalanya berubah begitu drastis. Dia yang seolah terlahir kembali saat hidayah itu datang, saat menjadi orang pertama di Rohis. Diapun tak kecewa saat Pembina Rohis tak menganggapnya lagi karena kecewa dengan terpilihnya dia sebagai ketua Rohis. Dia hanya berusaha untuk ikhlas dan mengemban amanah dengan sebaiknya. Juga tak terhitung berapa banyaknya air mata yang keluar saat dirinya tak dianggap oleh para pembina, tapi dia selalu mengadukan semua masalahnya kepada sang Murabbi dan Allah saja. Hingga segalanya pun berbuah manis. Saat hidayah itu selalu dia pertahankan dari serangan kefasikan dan kemunafikan. Selepas SMA dia mulai menjadi pembicara di berbagai forum kajian Islam yang memang sudah dirintisnya dari SMA. Dia pun punya beberapa halaqoh yang dibinanya. Dan para pembina itu sampai sekarang selalu membutuhkan dirinya untuk membantu adik-adiknya di Rohis. Tetapi kesibukan kerja menjadi penghalang baginya, namun bila ada undangan dari adik2 di almamaternya unttuk mengisi suatu kajian tak akan dia menolaknya. Baginya Rohis 43 mempunyai prioritas tersendiri. Karena di Rohis 43 lah dia mendapatkan hidayah dari Allah yang sampai saat ini bisa dipertahankannya dan tak akan dia tukar dengan apapun juga…di Rohis 43 lah dia telah mengubah jalan hidupnya…Ya Allah berikanlah hidayahmu kepada kami…seperti lelaki itu…lelaki yang telah mengubah jalan hidupnya….

Lelaki yang satu ini juga begitu. Dia juga telah mengubah jalan hidupnya. Tanpa disangkanya saat dia masih duduk di kelas dua SMA dia terpilih menjadi ketua Rohis. Dia benar2 terkejut saat itu. Dan dia merasa asing. Saat dia diajak oleh alumni mengikuti sebuah rapat perdananya untuk menyusun kepengurusan dia masih merasa asing. Pikirannya masih sering bertanya-tanya, kenapa dia yang terpilih? Tetapi alumni tak bisa memberikan jawaban yang pasti. Hanya ada satu jawaban baginya, terpilihnya dia menjadi ketua Rohis merupakan hasil keputusan bersama alumni. Dan dia pun menerima saja.

Dulu mungkin tak sedikitpun terbersit dalam benaknya dia akan menjadi ketua Rohis. Mengingat masa-masa remaja yang dilaluinya dengan penuh kesia-siaan. Kongkow bersama teman-temannya merupakan suatu kepastian. Merokok sudah menjadi keseharian. Menggoda wanita, tawuran, minuman keras (walaupun dia hanya pernah meminumnya sekali), tawuran, menjadi aktivitas dia bersama teman2nya. Tapi yang selalu diingatnya, sholat tetap tak lepas juga dari kesehariannya. Hingga menjelang masuk SMA, dia bertekad akan mengadakan perubahan dan berbuat lebih baik lagi bila diterima di sebuah SMA. Dia pun diterima di SMA 43. Rohis menjadi pilihan ekskurnya saat itu, karena mengikuti ekskur di 43 menjadi suatu kewajiban dan dia menilai hanya Rohislah ekskur yang santai. Duduk, mendengarkan, lalu pulang. Maka mulailai dia bergabung dengan Rohis. Dia tetap kongkow bersama teman2nya, tapi tidak merokok lagi karena dia pernah sakit akibat rokok.

Semuanya pun berubah dan tak sama lagi sejak dia terpilih menjadi ketua Rohis. Dia telah mengubah jalan hidupnya. Dia tidak lagi kongkow bersama teman2nya, sepenuhnya dia kongkow bersama anak2 Rohis. Bila dulu jalanan yang menjadi tempat kongkownya maka sekarang Masjid yang menjadi tempat kongkownya. Semua kegiatan Rohis diikutinya dengan baik dan seiring dengan itu pula cahaya Allah semakin tertanam kuat dalam jiwanya. Hingga selepas sekolah, di kampus dia dipercayakan menjadi ketua LDK kembali. Dia juga menjadi pengurus Cabang termuda suatu Partai. Dia aktif mengikuti berbagai macam syuro dan kajian. Semua orang merasa nyaman dan asyik bila bersamanya. Semua orang merasa perlu bantuannya. Saya yang pernah melihat inbox Hp-nya pernah berkomentar, “Ya Ampun akhi, isi sms antum kalo ga dimintain bantuan pasti ada syuro,” Dan dia hanya tersenyum saja. Baginya menghadiri syuro bisa mencegah stagnanisasi pikirannya dan membantu orang lain adalah kewajibannya. Ya Allah, akhi semua saya yang sempat bekerjasama dengannya memang merasakan bahwa dia adalah orang yang baik. Dia pun berkata, “ Ya Akhi, Allah telah memberikan hidayah-Nya yang Mahal pada saya, bukankah sepatutnya saya juga harus terus berdakwah mensyiarkan agama-Nya sebagai balasan kecil dari saya?”. Tak ada lelah pada dirinya yang membuat saya semakin takjub. Seberat apapun medannya, jika suatu acara atau syuro itu dinilainya penting pasti dia akan datang. Dan dia tidak setengah2 dalam syuro ataupun mengikuti acara. Ya Akhi…hidayah itu begitu indahkah? Hingga kau tak mau menukarnya? Ya Allah berikanlah setitik hidayah dari cahaya-Mu…Seperti lelaki ini, sehingga dia telah mengubah jalan hidupnya…

Lelaki ini pun juga punya cerita. Dia juga telah mengubah jalan hidupnya. Dulu dia adalah pemuda yang sangat taat sekali kepada Allah. Semua orang mengenalnya sebagai anak yang sholeh dan alim. Setiap melihat dirinya pasti langsung membayangkan kebaikan pada dirinya. Dia yang menjauhi keharaman dengan tidak pacaran, dia yang menjauhi kemakruhan dengan tidak merokok, dan dia yang sangat bijak sekali dengan petuah-petuahnya yang selalu diberikan kepada teman-temannya. Dia juga gemar membaca Al-Qur’an. Tak jarang matanya akan berkaca-kaca bila sedang membaca Al-Qur’an. Pun sholatnya akan lama sekali karena kekhusu’annya. Tak ada rasanya yang tidak baik pada dirinya. Dia merasa Allah telah memberinya hidayah.

Tapi keputusan Alumni yang tak memilihnya menjadi ketua Rohis mengubah segalanya. Dia menjadi amat sangat kecewa. Semua teman-temannya di Rohis sudah menyangka bahwa dia yang akan menjadi ketua Rohis. Tapi alumni mempunyai keputusan lain. Dan dia merasa perbuatannya selama ini menjadi sia2. Tak lama lelaki ini mengubah jalan hidupnya. Dia tak aktif lagi di Rohis. Teman-temannya melihat dia mulai merokok terang-terangan. Dia pun mulai berpacaran. Kelakuannya menjadi semakin aneh bila ketua rohis terpilih lewat di depannya. Dia telah menghancurkan pondasi keimanannya yang selama ini telah dia bangun. Dia menghancurkannya hanya karena rasa kecewa. Hingga saat ini dia masih terus begitu. Tak ada lagi bening kaca di matanya saat dia membaca Al-Qur’an. Tak ada lagi petuah bijak yang meluncur dari lisannya. Tak ada lagi sosok sholeh dirinya yang dulu. Dan hidayah…mungkin sudah tak tahu kemana perginya. Ya Allah, kenapa hanya dengan rasa kecewa dia rela menukar hidayah yang sudah ada pada dirinya? Jangan jadikan kami seperti dirinya Ya Allah…seperti, lelaki yang telah mengubah jalan hidupnya itu.

Sama juga dengan lelaki ini. Dia dulu terkenal dengan interaksi yang sangat intens dengan Al-Qur’an. Tilawah baginya merupakan kebutuhan sehari-hari seperti layaknya makan dan minum. Dia pun mengikuti bimbingan tahsin di sebuah Masjid terkenal di daerah Bangka. Hingga lulus dia pun melanjutkannya dengan mengikuti program Tahfidz, yaitu program menghafal Al-Qur’an. Setiap ada temannya yang salah dalam membaca Al-Qur’an pasti dia akan mengkoreksinya. Dia juga menjadi orang yang paling galak terhadap teman-temannya yang terlambat datang ke pengajian. Dia yang selalu mengingatkan teman2nya untuk tetap berdoa pada Allah agar jangan menukar hidayah dengan apapun jua. Dia yang sering mengajak teman-temannya untuk sholat tepat waktu. Dia yang dianggap paling alim oleh teman-temannya…

Tak disangka dan terduga, kejumudan kemudian datang kepadanya. Dia mulai memberikan banyak alasan untuk tidak datang pengajian. Saat membaca Al-Qur’an terasa ingin selalu cepat2 selesai. Kursus tahfidznya terbengkalai sehingga terpaksa ditunda. Dia pun mulai sering terlihat memakai celana yang memperlihatkan auratnya. Dia juga pernah terpergok sedang naik motor memboncengi seorang perempuan yang sangat diyakini perempuan itu bukan muhrimnya. Hingga saat itu pun tiba juga. Saat tanpa alasan yang jelas dia tidak menghadiri pengajian lagi. Dia selalu menghindar bila bertemu dengan teman-teman satu pengajiannya. Dia tak pernah membalas sms teman2nya yang menanyakan ketidakhadirannya dalam pengajian. Dia yang tiba2 sulit untuk dihubungi. Dia yang kepergok sedang berduaan dengan perempuan di rumahnya dengan jarak yang sangat dekat. Dia yang berani memakai celana yang memperlihatkan aurat di depan umum. Dia yang…dan hidayah itu seolah menguap dari dirinya. Walaupun memang dia tidak meninggalkan sholat, tapi dia telah meninggalkan dunia dakwah yang dulu sempat dia jalani. Dia tidak ingin aktif di suatu wadah manapun juga. Dia yang berkata, “ Saya hanya ingin menjadi orang biasa saja…”. Orang biasa seperti apa? Orang biasa yang tidak mendapatkan hidayah? Ya Allah, kenapa hidayah itu bisa hilang pada dirinya? Ya Allah jangan kau ambil hidayah pada diri kami seperti lelaki yang telah mengubah jalan hidupnya itu…

Dan masih banyak lagi cerita tentang lelaki yang telah mengubah jalan hidupnya…

Lelaki yang mengubah jalan hidupnya untuk mendapatkan cahaya ataupun lelaki yang mengubah jalan hidupnya untuk meninggalkan hidayah…

Ya Akhi, semuanya adalah antum yang memutuskan. Allah telah memberi sarananya. Allah hanya menyediakan jalannya. Kita lah yang suatu saat harus menentukan dan memilihnya.

Ya akhi, janganlah kita tukar hidayah yang sudah kita dapat dengan apapun jua. Sekalipun itu dengan gunung emas. Hidayah tak ada kesempatan keduanya akhi. Hidayah terlalu mahal untuk ditukar dengan apapun. Dan Allah telah berfirman bahwa Allah hanya memberikan hidayah bagi yang Dia kehendaki saja.

“ Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah Memberi Petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. “

(QS. Al-Qashash ayat 56)

Ya Akhi, bila kita belum mendapatkan hidayah, maka berdoalah dengan sungguh2 kepada Allah. Karena hanya Dialah yang bisa memberikannya. Jika kita layak maka Dia akan memberinya tapi bila tidak semoga Allah telah menyusun rencana yang baik untuk diri kita. Pun jika hidayah sudah ada pada diri kita, pertahankanlah sekuat dan semampu dirimu. Hidayah yang telah kita dapatkan masih bisa hilang jika kita tidak menjaganya dengan baik. Hilang bila kita kembali kepada kemaksiatan yang pernah kita lakukan dulu.

Ya Akhi, dunia ini indah menipu. Semua orang memang ingin meraihnya, tetapi semua manusia yang mendapatkan dunia adalah suatu kesemuan. Seolah kita memang meraih segalanya, tapi percayalah bahwa semua itu adalah fatamorgana di mata Allah. Dunia tak lebih dari wanita tua yang berdandan dengan cantik. Jangan kita tertipu akhi.

Ya Akhi, jadilah lelaki yang mengubah jalan hidupnya. Tapi mengubahnya menuju kebaikan bukan keburukan. Tukarlah segala apa pun yang kau punya dengan hidayah Allah. Sekalipun orang2 menilai kau sudah tidak punya apa2 lagi, tapi sesungguhnya kau masih mempunyai Allah. Dialah yang Maha Mempunyai segalanya. Ya akhi jadilah lelaki itu…

Wajah2 di foto itu pun terasa memberikan sensasi lain di hati saya. Saya menghitungnya. Dari sekian banyak wajah2 penuh cahaya itu hanya segelintir orang saja yang bisa terus mempertahankan hidayahnya. Rasa itu makin menusuk hati saya. Rasa kehilangan teman seperjuangan dan rasa bangga terhadap mereka yang bisa mempertahankannya.

Ya Allah, berikanlah hidayah kepada kami yang belum mendapatkannya dan bantulah kami menjaga hidayah ini bagi kami yang telah mendapatkannya. Karena hanya Engkaulah Tuhan tempat segala pinta dan harap berkumpul……

Robbanaa La tuzigh kuluubanaa ba’da idzhadaytanaa wa hablana milladunka rohmatan innaka antal wahhaab

“ (Mereka berdoa), “Ya Tuhan Kami, jadikanlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau Beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari Sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (Karunia).”



Jakarta, 15 Jan. 06, 23.29 wib ditemani nasyid NM

Saat mengenang seorang sahabat…

LELAKI YANG TELAH MERUBAH JALAN HIDUPNYA

Selasa sore itu bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1427H saat berkumpul kembali di rumah sang Murabbi ditunjukkanlah saya dan teman2 sebuah album foto. Kami sangat takjub melihat foto2 yg ada di dlm album itu. Itu merupakan foto jadul berisi ttg aktivitas SDI (studi Dasar Islam) SMA 43 angkatan saya sekitar tahun 1997-an. Saat itu saya sendiri tidak ada dalam foto itu tapi banyak teman yang sangat familiar bagi saya. Terlihatlah wajah2 para sahabat saya. Saat mereka dengan semangatnya mengikuti acara SDI dengan penuh suka cita. Saat tempat yang seadanya tak menghalangi tekad mereka untuk mengadakan perubahan diri bersama Rohis. Saat wajah-wajah itu masih murni dan sinar cahaya Ilahi akan menghampiri mereka sebentar lagi….

Lalu berbagai komentar pun meluncur dari lisan2 kami…

“ Ya Alloh, ini khan si fulan..”

“ Dia ternyata anak Rohis ya…?”

“ Ya Alloh, masa bahagia ini…”

Mungkin tak sedikit dari kami yang kemudian teringat kembali akan episode2 masa lalu kami bersama Rohis…hingga saya pun terinspirasi untuk membuat tulisan ini

yang merupakan rasa bangga saya sekaligus kehilangan saya atas teman2 yang datang dan pergi….

Lelaki itu pernah menjadi idola di sekolah. Dia juga pernah menjalani hidup sebagai model di Catwalk. Dia selalu membuat hati wanita menjadi bergetar bila berdekatan dengannya. Dia yang dulu menilai bahwa anak Rohis di zaman itu adalah “manusia aneh”. Hubungannya dengan Pembina Rohis pun tak harmonis kala itu karena masalah pelajaran yang tak disukainya. Tapi dia tetap masuk Rohis karena kakak2nya adalah aktivis Rohis. Yang disukanya dari Rohis adalah rasa ukhuwah yang dinilainya saat tinggi. Namun…. Allah lebih berkuasa atas dirinya daripada dia sendiri. Hidayah-Nya tak dapat ditolak oleh siapaun pun tak bisa sembarang orang mendapatkannya. Lelaki itu pun mengubah jalan hidupnya… Tanpa disangkanya dewan alumni memilihnya menjadi Ketua Rohis!! Dia terkejut melebihi keterkejutan teman2nya yg tak pernah menyangka dia akan menjadi Ketua Rohis. Dia tidak diprediksikan saat itu, ada calon lain yang lebih dijagokan. Tetapi sekali lagi ALLAH lah Sang Maha Berkehendak. Saat itulah mulai menjadi momen perubahan bagi dirinya. Segalanya berubah begitu drastis. Dia yang seolah terlahir kembali saat hidayah itu datang, saat menjadi orang pertama di Rohis. Diapun tak kecewa saat Pembina Rohis tak menganggapnya lagi karena kecewa dengan terpilihnya dia sebagai ketua Rohis. Dia hanya berusaha untuk ikhlas dan mengemban amanah dengan sebaiknya. Juga tak terhitung berapa banyaknya air mata yang keluar saat dirinya tak dianggap oleh para pembina, tapi dia selalu mengadukan semua masalahnya kepada sang Murabbi dan Allah saja. Hingga segalanya pun berbuah manis. Saat hidayah itu selalu dia pertahankan dari serangan kefasikan dan kemunafikan. Selepas SMA dia mulai menjadi pembicara di berbagai forum kajian Islam yang memang sudah dirintisnya dari SMA. Dia pun punya beberapa halaqoh yang dibinanya. Dan para pembina itu sampai sekarang selalu membutuhkan dirinya untuk membantu adik-adiknya di Rohis. Tetapi kesibukan kerja menjadi penghalang baginya, namun bila ada undangan dari adik2 di almamaternya unttuk mengisi suatu kajian tak akan dia menolaknya. Baginya Rohis 43 mempunyai prioritas tersendiri. Karena di Rohis 43 lah dia mendapatkan hidayah dari Allah yang sampai saat ini bisa dipertahankannya dan tak akan dia tukar dengan apapun juga…di Rohis 43 lah dia telah mengubah jalan hidupnya…Ya Allah berikanlah hidayahmu kepada kami…seperti lelaki itu…lelaki yang telah mengubah jalan hidupnya….

Lelaki yang satu ini juga begitu. Dia juga telah mengubah jalan hidupnya. Tanpa disangkanya saat dia masih duduk di kelas dua SMA dia terpilih menjadi ketua Rohis. Dia benar2 terkejut saat itu. Dan dia merasa asing. Saat dia diajak oleh alumni mengikuti sebuah rapat perdananya untuk menyusun kepengurusan dia masih merasa asing. Pikirannya masih sering bertanya-tanya, kenapa dia yang terpilih? Tetapi alumni tak bisa memberikan jawaban yang pasti. Hanya ada satu jawaban baginya, terpilihnya dia menjadi ketua Rohis merupakan hasil keputusan bersama alumni. Dan dia pun menerima saja.

Dulu mungkin tak sedikitpun terbersit dalam benaknya dia akan menjadi ketua Rohis. Mengingat masa-masa remaja yang dilaluinya dengan penuh kesia-siaan. Kongkow bersama teman-temannya merupakan suatu kepastian. Merokok sudah menjadi keseharian. Menggoda wanita, tawuran, minuman keras (walaupun dia hanya pernah meminumnya sekali), tawuran, menjadi aktivitas dia bersama teman2nya. Tapi yang selalu diingatnya, sholat tetap tak lepas juga dari kesehariannya. Hingga menjelang masuk SMA, dia bertekad akan mengadakan perubahan dan berbuat lebih baik lagi bila diterima di sebuah SMA. Dia pun diterima di SMA 43. Rohis menjadi pilihan ekskurnya saat itu, karena mengikuti ekskur di 43 menjadi suatu kewajiban dan dia menilai hanya Rohislah ekskur yang santai. Duduk, mendengarkan, lalu pulang. Maka mulailai dia bergabung dengan Rohis. Dia tetap kongkow bersama teman2nya, tapi tidak merokok lagi karena dia pernah sakit akibat rokok.

Semuanya pun berubah dan tak sama lagi sejak dia terpilih menjadi ketua Rohis. Dia telah mengubah jalan hidupnya. Dia tidak lagi kongkow bersama teman2nya, sepenuhnya dia kongkow bersama anak2 Rohis. Bila dulu jalanan yang menjadi tempat kongkownya maka sekarang Masjid yang menjadi tempat kongkownya. Semua kegiatan Rohis diikutinya dengan baik dan seiring dengan itu pula cahaya Allah semakin tertanam kuat dalam jiwanya. Hingga selepas sekolah, di kampus dia dipercayakan menjadi ketua LDK kembali. Dia juga menjadi pengurus Cabang termuda suatu Partai. Dia aktif mengikuti berbagai macam syuro dan kajian. Semua orang merasa nyaman dan asyik bila bersamanya. Semua orang merasa perlu bantuannya. Saya yang pernah melihat inbox Hp-nya pernah berkomentar, “Ya Ampun akhi, isi sms antum kalo ga dimintain bantuan pasti ada syuro,” Dan dia hanya tersenyum saja. Baginya menghadiri syuro bisa mencegah stagnanisasi pikirannya dan membantu orang lain adalah kewajibannya. Ya Allah, akhi semua saya yang sempat bekerjasama dengannya memang merasakan bahwa dia adalah orang yang baik. Dia pun berkata, “ Ya Akhi, Allah telah memberikan hidayah-Nya yang Mahal pada saya, bukankah sepatutnya saya juga harus terus berdakwah mensyiarkan agama-Nya sebagai balasan kecil dari saya?”. Tak ada lelah pada dirinya yang membuat saya semakin takjub. Seberat apapun medannya, jika suatu acara atau syuro itu dinilainya penting pasti dia akan datang. Dan dia tidak setengah2 dalam syuro ataupun mengikuti acara. Ya Akhi…hidayah itu begitu indahkah? Hingga kau tak mau menukarnya? Ya Allah berikanlah setitik hidayah dari cahaya-Mu…Seperti lelaki ini, sehingga dia telah mengubah jalan hidupnya…

Lelaki ini pun juga punya cerita. Dia juga telah mengubah jalan hidupnya. Dulu dia adalah pemuda yang sangat taat sekali kepada Allah. Semua orang mengenalnya sebagai anak yang sholeh dan alim. Setiap melihat dirinya pasti langsung membayangkan kebaikan pada dirinya. Dia yang menjauhi keharaman dengan tidak pacaran, dia yang menjauhi kemakruhan dengan tidak merokok, dan dia yang sangat bijak sekali dengan petuah-petuahnya yang selalu diberikan kepada teman-temannya. Dia juga gemar membaca Al-Qur’an. Tak jarang matanya akan berkaca-kaca bila sedang membaca Al-Qur’an. Pun sholatnya akan lama sekali karena kekhusu’annya. Tak ada rasanya yang tidak baik pada dirinya. Dia merasa Allah telah memberinya hidayah.

Tapi keputusan Alumni yang tak memilihnya menjadi ketua Rohis mengubah segalanya. Dia menjadi amat sangat kecewa. Semua teman-temannya di Rohis sudah menyangka bahwa dia yang akan menjadi ketua Rohis. Tapi alumni mempunyai keputusan lain. Dan dia merasa perbuatannya selama ini menjadi sia2. Tak lama lelaki ini mengubah jalan hidupnya. Dia tak aktif lagi di Rohis. Teman-temannya melihat dia mulai merokok terang-terangan. Dia pun mulai berpacaran. Kelakuannya menjadi semakin aneh bila ketua rohis terpilih lewat di depannya. Dia telah menghancurkan pondasi keimanannya yang selama ini telah dia bangun. Dia menghancurkannya hanya karena rasa kecewa. Hingga saat ini dia masih terus begitu. Tak ada lagi bening kaca di matanya saat dia membaca Al-Qur’an. Tak ada lagi petuah bijak yang meluncur dari lisannya. Tak ada lagi sosok sholeh dirinya yang dulu. Dan hidayah…mungkin sudah tak tahu kemana perginya. Ya Allah, kenapa hanya dengan rasa kecewa dia rela menukar hidayah yang sudah ada pada dirinya? Jangan jadikan kami seperti dirinya Ya Allah…seperti, lelaki yang telah mengubah jalan hidupnya itu.

Sama juga dengan lelaki ini. Dia dulu terkenal dengan interaksi yang sangat intens dengan Al-Qur’an. Tilawah baginya merupakan kebutuhan sehari-hari seperti layaknya makan dan minum. Dia pun mengikuti bimbingan tahsin di sebuah Masjid terkenal di daerah Bangka. Hingga lulus dia pun melanjutkannya dengan mengikuti program Tahfidz, yaitu program menghafal Al-Qur’an. Setiap ada temannya yang salah dalam membaca Al-Qur’an pasti dia akan mengkoreksinya. Dia juga menjadi orang yang paling galak terhadap teman-temannya yang terlambat datang ke pengajian. Dia yang selalu mengingatkan teman2nya untuk tetap berdoa pada Allah agar jangan menukar hidayah dengan apapun jua. Dia yang sering mengajak teman-temannya untuk sholat tepat waktu. Dia yang dianggap paling alim oleh teman-temannya…

Tak disangka dan terduga, kejumudan kemudian datang kepadanya. Dia mulai memberikan banyak alasan untuk tidak datang pengajian. Saat membaca Al-Qur’an terasa ingin selalu cepat2 selesai. Kursus tahfidznya terbengkalai sehingga terpaksa ditunda. Dia pun mulai sering terlihat memakai celana yang memperlihatkan auratnya. Dia juga pernah terpergok sedang naik motor memboncengi seorang perempuan yang sangat diyakini perempuan itu bukan muhrimnya. Hingga saat itu pun tiba juga. Saat tanpa alasan yang jelas dia tidak menghadiri pengajian lagi. Dia selalu menghindar bila bertemu dengan teman-teman satu pengajiannya. Dia tak pernah membalas sms teman2nya yang menanyakan ketidakhadirannya dalam pengajian. Dia yang tiba2 sulit untuk dihubungi. Dia yang kepergok sedang berduaan dengan perempuan di rumahnya dengan jarak yang sangat dekat. Dia yang berani memakai celana yang memperlihatkan aurat di depan umum. Dia yang…dan hidayah itu seolah menguap dari dirinya. Walaupun memang dia tidak meninggalkan sholat, tapi dia telah meninggalkan dunia dakwah yang dulu sempat dia jalani. Dia tidak ingin aktif di suatu wadah manapun juga. Dia yang berkata, “ Saya hanya ingin menjadi orang biasa saja…”. Orang biasa seperti apa? Orang biasa yang tidak mendapatkan hidayah? Ya Allah, kenapa hidayah itu bisa hilang pada dirinya? Ya Allah jangan kau ambil hidayah pada diri kami seperti lelaki yang telah mengubah jalan hidupnya itu…

Dan masih banyak lagi cerita tentang lelaki yang telah mengubah jalan hidupnya…

Lelaki yang mengubah jalan hidupnya untuk mendapatkan cahaya ataupun lelaki yang mengubah jalan hidupnya untuk meninggalkan hidayah…

Ya Akhi, semuanya adalah antum yang memutuskan. Allah telah memberi sarananya. Allah hanya menyediakan jalannya. Kita lah yang suatu saat harus menentukan dan memilihnya.

Ya akhi, janganlah kita tukar hidayah yang sudah kita dapat dengan apapun jua. Sekalipun itu dengan gunung emas. Hidayah tak ada kesempatan keduanya akhi. Hidayah terlalu mahal untuk ditukar dengan apapun. Dan Allah telah berfirman bahwa Allah hanya memberikan hidayah bagi yang Dia kehendaki saja.

“ Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah Memberi Petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. “

(QS. Al-Qashash ayat 56)

Ya Akhi, bila kita belum mendapatkan hidayah, maka berdoalah dengan sungguh2 kepada Allah. Karena hanya Dialah yang bisa memberikannya. Jika kita layak maka Dia akan memberinya tapi bila tidak semoga Allah telah menyusun rencana yang baik untuk diri kita. Pun jika hidayah sudah ada pada diri kita, pertahankanlah sekuat dan semampu dirimu. Hidayah yang telah kita dapatkan masih bisa hilang jika kita tidak menjaganya dengan baik. Hilang bila kita kembali kepada kemaksiatan yang pernah kita lakukan dulu.

Ya Akhi, dunia ini indah menipu. Semua orang memang ingin meraihnya, tetapi semua manusia yang mendapatkan dunia adalah suatu kesemuan. Seolah kita memang meraih segalanya, tapi percayalah bahwa semua itu adalah fatamorgana di mata Allah. Dunia tak lebih dari wanita tua yang berdandan dengan cantik. Jangan kita tertipu akhi.

Ya Akhi, jadilah lelaki yang mengubah jalan hidupnya. Tapi mengubahnya menuju kebaikan bukan keburukan. Tukarlah segala apa pun yang kau punya dengan hidayah Allah. Sekalipun orang2 menilai kau sudah tidak punya apa2 lagi, tapi sesungguhnya kau masih mempunyai Allah. Dialah yang Maha Mempunyai segalanya. Ya akhi jadilah lelaki itu…

Wajah2 di foto itu pun terasa memberikan sensasi lain di hati saya. Saya menghitungnya. Dari sekian banyak wajah2 penuh cahaya itu hanya segelintir orang saja yang bisa terus mempertahankan hidayahnya. Rasa itu makin menusuk hati saya. Rasa kehilangan teman seperjuangan dan rasa bangga terhadap mereka yang bisa mempertahankannya.

Ya Allah, berikanlah hidayah kepada kami yang belum mendapatkannya dan bantulah kami menjaga hidayah ini bagi kami yang telah mendapatkannya. Karena hanya Engkaulah Tuhan tempat segala pinta dan harap berkumpul……

Robbanaa La tuzigh kuluubanaa ba’da idzhadaytanaa wa hablana milladunka rohmatan innaka antal wahhaab

“ (Mereka berdoa), “Ya Tuhan Kami, jadikanlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau Beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari Sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (Karunia).”



Jakarta, 15 Jan. 06, 23.29 wib ditemani nasyid NM

Saat mengenang seorang sahabat…

FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us