Wednesday, February 18, 2009

MY PHOTOGRAPH (PART 2)


Desa Caringin yang mempesona


Dari atas bukit


Hamparan hijau yang luas..subhanallah..


lorong sepi koridor busway


menjelang maghrib di Rasuna Sahid



Lokasi : Desa Caringin, Rasuna Sahid
Tahun : 2007-2008

CINTA YANG MENGALAHKAN TARBIYAH

Seseorang baru saja berbicara kepada saya tentang sikap yang dilakukan temannya. Temannya dia secara diam-diam menjalin "persahabatan" dengan seorang pria yang belum terikat dalam tarbiyah dan bisa digolongkan sebagai sang hanif.

" Loh, dia bilang sudah nggak berhubungan lagi dengan dia?" tanyaku.

" Nggak tau juga deh. Dia bilang sih emang begitu. Tapi ada info dari sumber yang terpercaya kalau dia masih sering chatting lewat YM and fesbuk dengan pake emoticon yang..." seseorang itu menghentikan pembicaraan karena merasa tidak enak.

Ya, kabar ini kudapat jauh beberapa bulan yang lalu. Saat itu akhwat ini meminta pendapatku tentang seorang hanif tadi. Awal mulanya mereka berua adalah hanyalah aktivis kampus yang kemudian menjadi suka pada pandangan pertama. Tapi yang menjadi problem adalah sang hanif ini bukanlah orang pergerakan dan belum tarbiyah. Lalu kuberikan pendapat ada baikknya bagi dia untuk memilih pasangan hidup dari kalangan tarbiyah saja karena mungkin cara ini bisa dikatakan lebih aman. Bila dua orang yang sudah tarbiyah dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan maka Insya Allah visi dan misi mereka dalam membangun rumah tangga yang Islami sudah jelas.

" Tapi Bang, ikhwan ini mau kok aku suruh ngaji.Dan sekarang dia juga sudah mulai ngaji," akhwat itu mencoba memberikan argumennya.

" Ukhti, akan lebih aman bila antum mendapatkan ikhwan yang tarbiyah sama seperti antum. Bukankah itu bisa menjadi satu pilihan yang mungkin lebih aman ketimbang antum memilih ikhwan yang baru. Bila mendapatkan ikhwan yang dalam pergerakan yang sama dengan kita Insya Allah segala masalah bisa diselesaikan dengan baik," ujarku memberikan saran.

Dan setelah itu memang akhwat itu memutuskan untuk tidak meneruskan "persahabatan" nya dengan sang hanif. Hingga kuterima kabar yang kutulis di kalimat awal.

Fenomena seperti ini memang sudah sering kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Banyak sekali ikhwan dan akhwat yang dengan alasan mengikuti perkembangan mode, mencoba untuk menghias dirinya (gapura kali dihias...hehehe). Aku sendiri tidak mempermasalahkan itu karena menurutku sih sah-sah saja mempercantik diri. Tapi akhirnya ada beberapa orang yang kebablasan. Terjebak dalam tabarruj yang berlebihan. Mungkin istilah anak sekarang adalah "lebay". Dengan dalih sekarang sudah zaman terbuka, berjalan berdua antara sesama aktivis ikhwan dan akhwat sudahlah menjadi lumrah. Menggulung-gulung jilbab (ngapain juga jilbab digulung ya?) sesuai mode menjadi syar'i dalam pandangan mereka. Hingga semula kulihat seorang akhwat yang berjilbab panjang dan anti celana panjang maka secara drastis memperpendek jilbabnya dan tak canggung lagi memakai celana panjang, baik itu celana bahan maupun jeans.

Terlepas dari itu semua, yang paling mengkhawatirkan bagiku adalah fenomena pacaran yang mulai menjangkiti para aktivis. Aku pernah memergoki seorang ikhwan dan akhwat berjalan bergandengan tangan di sebuah pusat perbelanjaan. Segera aku tabayyun ke teman alumni di almamaterku, mungkin saja mereka berdua sudah menikah. Tapi jawaban yang kudapati adalah sebaliknya. Atau kali lain aku pernah bertemu seorang akhwat yang sedang jalan bareng dengan seorang teman laki-lakinya yang bukan orang tarbiyah maupun pergerakan. Hingga akhirnya ujung-ujungnya mereka berdua menikah. Atau ada juga yang saking bebasnya pergaulan, pergi ke tempat-tempat yang dulu adalah tabu bagi aktivis sekarang menjadi lumrah. Aku pun tak memungkiri sering pergi ke bioskop bila ingin menonton film yang bagus, atau pergi foodcourt, dll. Tapi aku sering memilih bioskop yang jaraknya sangat jauh dri pusat aktivitasku. Misal, aku yang tinggal di Jakarta, memilih untuk pergi ke depok hanya sekedar penasaran ingin memonton film. Masih tersisa sedikit malu di hatiku bila aku bertemu dengan teman-temanku. (^__^)

Kembali lagi ke persoalan sang akhwat dan sang hanif, lalu dimana hasil tarbiyah yang telah tertempa selama beberapa tahun? Apakah dengan mudah cinta mengalahkan tarbiyah kita yang sudah kita pupuk selama bertahun-tahun. Ingatkah saat kita pertama kali memilih jalan yang berbeda dengan kebanyakan orang, yaitu jalan dakwah. Memutuskan untuk memakai jilbab, menutup aurat kita dan mengabdikan diri kita hanya untuk berjuang di jalan penuh rintangan ini. Kita mungkin pernah juga, baik secara ekstrim maupun persuasif, memperingati orang untuk tidak melakukan sesuatu hal yang tidak berguna dan laghwi, seperti pacaran, merayakan valentin, dll. Hingga kita pun bertekad ingin membentuk sesuatunya serba islami. Rumah tangga Islami, masyarakat islami dan negara Islami.

Lalu datanglah sepotong cinta di hati kita. Sepotong cinta yang menguji kematangan tarbiyah kita. Yang bisa menghasilkan dua pilihan bagi diri kita, cinta yang mengalahkan tarbiyah atau justru kematangan tarbiyah yang memendam perkembangan cinta. Semuanya pun memilih. Memilih dengan mengedepankan hujjah tarbiyah atau mengedepankan nafsu semata. Bagi mereka yang memilih mengedepankan tarbiyah ketimbang cinta semu semata, meyakinkan diri sendiri bahwa semua proses apapun itu harus mengedepankan redho Allah SWT. Hingga menemukan cinta pun memakai jalur yang benar. Menggunakan fasilitas tarbiyah untuk menemukan cinta yang sejati. Menjadikan tarbiyah sebagi pondasi dalam membangun cinta. Karena diri ini yakin bahwa Allah memilihkan jodoh untuknya. Hingga virus bernama cinta pun tak mampu untuk merobohkan dinding tarbiyah yang menghujam kuat.

Tapi bagi mereka yang memenangkan cinta atas tarbiyah, sesungguhnya seperti membangun tembok tinggi lalu menghancurkannya sendiri. Sebuah hasil jerih payah yang beberapa lama diusahakan lalu tiba-tiba seperti hilang tanpa bekas. Perasaan sedih sang Murobbi pun pasti ada untuk kita. Kemudian karena perasaan tidak enak perlahan-lahan mulai jarang datang tarbiyah. Sampai ujung terjadi pembiasaan untuk tidak tarbiyah hingga akhirnya dulu kita yang menginginkan berbeda dengan yang lain sekarang kita tak ada bedanya orang lain. Dan cinta pun mengalahkan tarbiyah. Tarbiyah kita. Tarbiyah yang menjadikan kita berbeda dengan orang lain pada umumnya.

Sekarang bila itu terjadi pada kita, seperti yang terjadi pada sang akhwat, akan memilih yang manakah kita? Maukah kita kembali menjadi kecil lagi dengan meninggalkan tarbiyah? Atau menjadi semakin besar dengan tidak terpengaruh sedikit pun dengan hal yang remeh temeh seperti cinta? Walaupun cinta anugerah tetapi bukankah lebih baik bila dia didatangkan pada waktunya nanti? Pada saat cinta itu sudah menjadi indah dan halal untuk dinikmati. Semua pilihan ada di dalam hati wahai akhi dan ukhti. Pilihan untuk menentukan jalan cinta kita. Menyemai cinta itu dengan penuh keredhoan Allah atau mulai memetik cinta itu hingga akhirnya dia akan menjadi layu pada saat seharusnya dinikmati? Wallahu'alam Bishowab.

Teringatlah aku akan sebuah keluhan seorang teman ketika dia menasehati saya tentang pernikahan. Dia seorang ikhwan, yang mempunyai istri "orang biasa" bukan akhwat. Dia menikahi istrinya tersebut pada saat dia dalam kondisi futur. Padahal ikhwan tersebut bisa dikatakan sebagai orang-orang yang paling awal dalam tarbiyah. Dia berpesan sedikit kepadaku.

" Lebih baik nanti antum mencari istri yang akhwat saja. Yang sama-sama tarbiyah. Jangan seperti ane. Sekarang ane kesulitan mengurus anak karena kita nggak satu visi,".

Aku hanya mengangguk dan menyimpan perkataan itu dalam hati.

Ya Allah, bila saatnya nanti kuinginkan pendamping hidup dari hasil tarbiyahku selama ini..

Jagalah hamba Ya Allah agar tidak mengorbankan tarbiyah ini hanya karena cinta sesaat...

Sesungguhnya, aku hanyalah hamba-Mu yang dhoif dan selalu salah jalan...

Bait lagu "Mengemis Kasih"nya The Zikr seolah terdengar lagi di diriku.

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati

Kepada manusia yang alpa juga buta

Lalu terhiritlah aku di lorong gelisah

Luka Hati yang berdarah kini jadi kian parah

Semoga, aku, kamu, dan kita semua selalu istiqomah dengan tarbiyah ini. Amiinnn***(yas)



My work room, February 18, 2009

at 18.05 pm

Salam hormat untuk para Murobbiku

Tuesday, February 17, 2009

KUKATAKAN DENGAN CINTA

(sebuah Puisi)


Ya akhi……

Malam ini aku tak bisa memejamkan mata

Aku tak kuasa untuk tak berfikir tentang dirimu

Tentang persahabatan kita

Tentang ikatan tali persaudaraan kita yang telah terjalin lama

Yang disulam dengan benang ukhuwah dan kain emas taqorrub Ilallah

Dalam bait-bait nada keimanan dengan syair penuh ketaqwaan

Yang menjadikan kita semakin kuat dalam menempuh jalan-Nya

Sehingga tak sedikitpun onak dan duri yang menyentuh dan bersemayam dalam jejak-jejak langkah kita kurasakan sakitnya

Perih itu telah menjelma menjadi sebuah rasa cinta yang tahan terhadap segala apa pun bentuk rintangan

Tak ada rasa sakit…yang ada hanya rasa rindu akan sebuah kasih dan sayang

Asalakan kau selalu berjalan di sisiku

Kita akan bisa melewati segalanya di ajaln dakwah ini

Hingga pintu gerbang kemenangan bisa kita lihat jelas di depan mata

Dan wangi surga-Nya tercium di indra penciuman kita

Saat itulah cahaya-Nya akan muncul untuk menyambut kita hamba-Nya

Ya Akhi…

Malam ini aku semakin sayang padamu

Tak sedikit pun rasa di dalam hatiku untuk melupakan dirimu

Aku tak mau kehilangan wajah teduhmu yang senantiasa mengingatkanku pada Rabb-ku yang Satu

Persahabatan yang kita jalin kujanjikan tak akan pernah lekang oleh waktu

Biarkan Allah menjadi daarnya saat kukatakan aku mencintaimu

Agar kesucian cinta kita tak ternoda oleh niatan-niatan lain yang dapat mendatangkan murka-Nya

Kita sudah berjanji pada-Nya bahwa cinta pada diri kita hanya dilandaskan pada-Nya

Hingga Dia akan menguatkan ikatan cinta suci kita dan mengeratkannya selalu

Karena Dia redho dengan apa yang kita lakukan

Kau cinta padaku karena Allah

Dan aku cinta padamu karena Allah

Semoga Dia menajag cinta kita agar tetap berjalan sebagaimana mestinya dalam koridor aturan-Nya

Ya Akhi…

Malam ini aku sakit

Aku tak bisa berpaling darimu setelah ikatan cinta-Nya mengikat diriku dan dirimu

Tak ada kata yang bisa kutulis lagi dalam pikiranku

Tak ada lagi kata yang bisa kuukir dalam hatimu

Malam ini aku remuk memikirkannya

Meminta izin pada-Nya tentang sebuah kata yang bisa menyatukan kau dengan diriku

Hingga aku menangis dalam pelukan-Nya

Dan menemukan sebuah kata yang bisa kukatakan padamu

Hanya cinta yang bisa kukatakan padamu akhi

Cinta yang datang dari-Nya untuk kita hamba-Nya

Semuanya kukatakan padamu dengan cinta

Hingga tak menyisakan sedikitpun kotor hati yang bisa membuat kita merana

Karena semuanya kukatakan dengan cinta

Semoga persahabatan tulus kita yang dilandasi kecintaan pada-Nya terus berlanjut hingga ke negeri akherat

sana

Ya Akhi…

Malam ini aku hanya bisa mendoakanmu

Juga…

Dengan cinta ……***(YAS)


Jakarta,28/2/4

Dini hari

Mengenang seorang sahabat

I JUST WANNA BE AN ORDINARY PEOPLE

“ I just wanna be an ordinary people…”

Kalimat itu sempat saya tulis besar-besar di sebuah buku ukuran setengah halaman A4 dengan kover berwarna biru. Buku yang selalu menemani kegiatan sehari-hari saya. Tempat menumpahkan segala hal tentang diri saya. Tempat “curhat” teraman bagi diri saya.

Why? Saya benar-benar merasa capek dan lelah dalam berdakwah. Saya merasa gagal. Segala usaha yang selalu saya rancang dengan penuh pertimbangan selalu tidak membuahkan hasil. Segala rencana yang berujung indah ternyata hanya berujung kegagalan. Hingga saya merasa bersalah, kecewa, dan gagal.

“ Gimana nih Bang, anak kelas X nya nggak ada yang mau ikut dauroh?”

“ Bang kok acara yang udah kita konsep bareng peminatnya sedikit ya?”

“ Yass, Ibu dapat teguran dari guru-guru yang lain kalau pengajar Bina Rohis guru-gurunya sering nggak datang,”

“ Afwan Akh, antum sudah gagal total,”

Ya Allah!

Belum lagi permasalahan saya dengan dakwah selesai, datang lagi tuntutan dari orang tua kepada saya. Saya mendapatkan teguran karena dianggap terlalu mementingkan orang lain sehingga tidak mengurus diri sendiri. Tuntutan ekonomi dari orang tua pun juga mendera saya.

“ Jangan terlalu banyak kegiatan mending kamu cari kerja,”

“ Bantu Ibu bayar telepon dong,”

“ Seharusnya kamu di usia seperti ini sudah kerja, lihat tuh teman kamu itu.”

“ Cepat kerja, setelah itu pergi dari rumah ini segera, jangan seperti benalu pada orang tua,”

Ya Allah! Ya Karim!

Masalah seolah tak mau lepas dari diri saya untuk saat ini. Saat saya berharap “lingkaran kecil” yang sudah saya ikuti sejak zaman putih abu-abu dapat memberikan sedikit pencerahan pada diri saya, malah membuat hati saya semakin gundah…

“ Afwan akhi, acaranya ditunda nggak sekarang,”

“ Afwan akhi, MR kita lagi ke luar kota jadi pekan ini nggak ada acara,”

“ Kayaknya minggu ini nggak acara lagi deh akh,”

Hati saya pun semakin terasa parah bak terkena sembilu. Kalaupun acara pekanan ada hanya dihadiri segelintir orang saja, itu juga dengan waktu yang sudah tidak sesuai janji. Dan berkali-kali acara pekanan dibatalkan atau sekadar bincang-bincang saja karena kuota personilnya yang tak lengkap.

Ya Rahman! La Hawla Wala Quwwta Ila Billah…

Berikan hamba ketabahan Ya Allah…

Lalu munculah ide itu. Just wanna be an ordinary people. Saya ingin menjadi seperti orang kebanyakan. Menjalani hidup sehari-hari tanpa perlu memikirkan dakwah. Tanpa pernah merasa bersalah bila dakwah tak berhasil ditegakkan. Setelah itu fokus mencari pekerjaan dan konsentrasi penuh dengan pekerjaan yang sudah didapatkan. Terakhir berhenti total dari “lingkaran kecil” dan menjadi anggota majelis taklim saja.

Saya hanya ingin menjadi orang yang biasa saja. Seperti teman-teman biasa saya yang lain. Selesai sekolah lalu kuliah, bekerja dan menikah. Juga teman Rohis saya kebanyakan, cukup dakwah saat di Rohis atau LDK saja setelah itu konsentrasi penuh dengan dunia kerja dan mengumpulkan materi untuk masa depan. Melihat mereka yang terasa tanpa beban menjalani hari-hari mereka. Tak akan merasa bersalah bila tak ada kader dakwah yang lain lagi. Tak merasa terbebani bila acara Muharam tak berjalan dengan sukses. Tak merasa bersalah bila tak datang mengajar kajian Islam di alamamaternya dulu. Ya Allah berdosakah saya dengan timbulnya pikiran seperti itu?

Tak lama saya pun segera menemui-Nya untuk berkonsultasi juga berkeluh kesah. Saat rembulan bersinar Purnama dan suasanan hening, sejuk, dan langit ditaburi berjuta bintang. Berbekal sebuah sajadah saya pun segera menunaikan shalat sunnah dua rakaat dalam kesendirian. Memori-memori yang melatasi kegundahan saya pun terputar ulang…

Untuk dakwah di almamater SMA saya yang terasa gagal. Usaha saya untuk menhgubungi adik-adik ikhwan di kelas satu untuk ikut kegiatan mentoring ternyata nihil belaka. Berkali-kali saya teleponi mereka, dan berkali-kali nihil. Juga saat mengkonsep acara kajian semenarik mungkin dengan target peserta yang ikut seratus ternyata hanya diikuti seperduapuluhnya saja. Tak terhitung lagi berapa banyak pulsa, tenaga, dan waktu yang saya keluarkan yang terasa dalam kesiaan belaka dan berujung pada keluhan saja. Seperti apakah perasaan Nabi Nuh saat bertahun-tahun berdakwah hanya diikuti empat puluh orang saja?

Juga untuk umur saya yang semakin meningkat tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Saat tuntutan ekonomi didera oleh orang tua. Saat melihat teman-teman yang lain sudah mendapatkan gelar kesarjanaan sedangkan saya harus memulai perkuliahan dari awal lagi karena sempat drop-out. Saat teman-teman dengan mudah membeli benda-benda yang mereka inginkan, sedangkan saya harus mengumpulkan uang mati-matian untuk membayar kuliah. Saat teman-teman sudah mulai saling membanggakan dirinya dengan karier yang telah mereka dapatkan sedangkan saya selalu malu bila ditanya kegiatan yang dilakukan saat ini. Saat kakak-kakak saya memberikan tenggang waktu untuk keluar dari rumah. Saat yang lain memandang jelas masa depannya sedangkan saya terasa buram memandang hal yang bernama masa depan.

Terakhir untuk tarbiyah saya yang belum benar. Saat teman-teman yang lain berlomba-lomba menggapai tingkatan marhalah dalam tarbiyah, saya seperti berjalan di tempat. Saat teman satu lingkaran sudah sukses dengan karier mereka masing-masing, hanya saya yang tertinggal sendirian. Tinggal saya yang mengasihani diri saya sendiri.

Ya Allah…kenapa kau buat segalanya jadi begini? Bukankah Engkau Maha Berkehendak? Kenapa hamba selalu merasa kekurangan rezeki? Bukankah Engkau Maha Pemberi Rezeki? Mengapa tidak segera kau bukakan pintu-pintu hati adik-adik kelasku? Bukankah Engkau Yang Maha Membolak-balikkan Hati? Kenapa lamaran kerja hamba selalu berujung pada penolakan? Bukankah Engkau akan selalu menolong hamba-Nya yang membutuhkan? Kenapa kau bedakan hamba dengan teman hamba yang lain? Kenapa Ya Allah…? Kenapa dakwah terasa berat? Kenapa hidup terasa sempit?

Saya pun hanya bisa menagis sejadi-jadinya layaknya seorang anak kecil. Bertanya terus kepada Allah atas segala hal yang terjadi pada saya saat ini. Atas gundah yang melekat di hati saya.

Pertanyaan saya pun menguap begitu saja tanpa terjawab. Saya segera bangkit kembali untuk mengakhiri qiyam saya dengan tiga rakaat witir.

Ya Allah Maafkan hamba-Mu yang Maha Dhoif ini, yang hanya bisa berkeluh kesah, yang hanya bisa menyalahkan diri-Mu. Maafkan hamba-Mu yang tak pernah sabar, yang selalu terburu-buru, dan yang selalu menginginkan sesuatu dengan cepat. Maafkanlah Ya Allah…atas segala kelancangan diri hamba…

Terasa sekali ada perbedaan setelah kewajiban sunnah yang utama setelah sholat fardhu itu saya laksanakan. Gundah saya perlahan terasa mengikis. Rasa cemas dan pesimis seolah mulai menghilang. Lumbung resah saya pun mulai berkurang dengan pasti. Di pembaringan saya merenung sejenak.

“ Bang, saya pilih ekskul Rohis saja deh, abis lebih menentramkan jiwa.”

“ Sejak ikut mentoring, alhamdulillah saya sudah mulai bisa mengontrol kelakuan buruk saya Bang,”

“ Rohis memberikan kedamaian kepada saya Bang,”

Suara-suara adik-adik kelas saya terngiang kembali. Saya pun teringat kepada mereka yang beralih ekskur ke Rohis. Yang meninggalkan kehidupan gelap mereka dan mencoba menemukan sedikit cahaya di Rohis.

Suara-suara teman-teman saya juga terngiang dengan jelas.

“ Aduh akh, semenjak kerja saya sudah nggak bisa dakwah lagi nih, terasa ada yang kurang,”

“ Akh, ana ingin dakwah lagi. Ana merasa hidup ana stagnan.”

“ Akh, ana bosan dengan rutinitas kantor, ana ingin kembali ke dakwah seperti dulu lagi.”

Mereka yang merasa kehilangan “jiwa” mereka di dalam dakwah. Mereka yang ingin kembali berdakwah kembali.

Juga komentar beberapa tetangga sebelah rumah.

“ Ibu mah beruntung banget ya punya anak yang nggak macam-macam. Nggak terjebak narkoba seperti anak saya,”

“ Untung banget ya Bu punya anak yang nggak ngelawan sama orang tuanya, nggak kayak anak saya yang sering banget ngelawan orang tua,”

Alhamdulillah…! Sgala puji hanya milikmu Ya Allah.

Saya lalu seolah menemukan kekuatan baru lagi. Secercah harapan menghampiri relung jiwa saya lagi.

Harapan untuk tetap berdakwah di SMA saya dulu.

Saya akan terus menghubungi terus adik-adik kelas saya untuk ikut mentoring. Seperduapuluh anak yang mulai komitmen akan mulai saya bina. Mungkin mereka adalah yang telah dipilih oleh Allah. Saya pun tak akan jera untuk mengkonsep acara-acara kajian semenarik mungkin walaupun hasilnya akan tetap sama. Saya yakin Allah akan bersama saya dan membantu saya. Saya harus terus optimis.

Saya juga akan mencoba setiap kesempatan kerja yang datang pada saya. Berapa lamaran pun akan terus saya buat dan kirim. Saya akan menunggu masa itu. Masa Allah menentukan waktunya untuk saya. Saya harus yakin bahwa Allah tak akan menyusahkan saya diluar kemampuan diri saya. Dan janji Allah untuk manusia yang berjalan di jalan-Nya pasti akan dipenuhi. Karena hanya Dialah yang Maha Menepati Janji.

Juga di “lingkaran kecil” saya akan berbuat yang terbaik. Mencoba memberikan tausiyah kepada mereka yang sudah mulai “menyimpang” dan saling tauladan mentauladani. Mencerahkan kembali “lingkaran” itu seperti sedia kala.

Hati saya pun berbunga-bunga kembali. Optimis menyemai kembali. Semangat tersedia lagi berjuta-juta ton. Segera saya mengambil diary biru saya. Membuka halaman terakhir yang saya tulis. Menyilangkan kalimat I just wanna be an ordinary people dan disampingnya menulis… I JUST WANNA BE A DIFFERENT PEOPLE!!

Saksikan Ya Allah…atas tekad hamba-Mu ini…***(YAS)

“ Tak ada yang lebih baik di mata Allah selain para da’i yang bertaqwa dan ikhlas hanya karena-Nya,”

HASIL FOTOGRAFI KU


Istana boneka


Hotel Permata Krakatau dari dalam masjid


A lonely road


Cilegon di pagi hari

Cerahnya Cilegon


Istana Boneka


Istiqlal usai demo


Dufan di senja hari


Long road to istiqlal


A tower



Located: Dufan, Hotel Permata Krakatau, Dufan
2007

FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us