Tuesday, February 10, 2009

MY HANDS

Ada apa dengan tangan saya??
Tangan saya masih seperti biasanya. Alhamdulillah masih dalam keadaan normal seperti sejak dilahirkan. Tapi judul diatas saya ambil dari sebuah lagu milik Jewell Kilcher. Menceritakan tentang sebuah tangan yang dimiliki oleh seorang tuan yang berbeda-beda keadaannya. Tangan, yang mungkin salah satu pelengkap tubuh sehingga tubuh akan dibilang sempurna jika mempunyai kelengkapan fisik yang lengkap. Lalu fungsi tangan apa lagi? Mungkin banyak yang bisa dituliskan disini. Dan kita pun tidak akan kesulitan untuk mengisi jawaban dari sebuah fungsi tangan. Tapi apa yang selama ini telah kita perbuat dengan tangan kita? Sepasang tangan yang kelak Allah akan menjadikannya saksi bagi diri kita di hari kiamat kelak.
Tangan bisa melakukan apa saja atas perintah tuannya. Sepasang tangan bisa selalu berada dalam ketaatan bila si empunya tangan itu juga merupakan orang yang taat kepada Allah. Dia bisa digunakan untuk beramal, membantu orang yang kesusahan, membaca Al-Qur'an, menulis dalam rangka dakwah dan kebaikan, dan lain sebagainya. Bila sang empunya terus membiasakannya berada dalam kebaikan maka untuk melakukan hal-hal yang buruk rasanya akan berat sekali. Dan jika suatu saat sang empunya tangan itu meninggal dunia, maka dia telah melaksanakan tugasnya di dunia dengan kebajikan dan kebaikan. Hingga di hari kiamat, pada saat hisab di depan Allah SWT, ketika Allah mengunci seluruh anggota tubuh kita dan kita tidak bisa bersuara-suara lagi maka tinggalah Allah mendengar kesaksian dari seluruh anggota tubuh. Sungguh senangnya jikala pada saat itu seluruh anggota tubuh kita memberikan kesaksian yang baik dan membela kita. Pada saat itulah kita melihat hasil dari seluruh perbuatan yang kita lakukan di dunia ini. Dan dengan sendirinya jika tidak ada satupun pihak yang merasa keberatan dengan keberadaan kita, maka Insya Allah shiratal mustaqim akan mudah kita lalui sehingga surga firdaus pun menjadi tempat tinggal kita yang baru.
Tetapi alangkah meruginya kita, jika selama kita hidup sepasang tanganyang kita miliki hanya digunakan dalam rangka kemaksiatan kepada Allah SWT. Digunakan untuk menyakiti orang lain, unruk mencuri, memegang hal yang tidak halal baginya, melakukan perbuatan nista dan lainnya (rasanya menulis perbuatan buruk yang berhubungan dengan tangan begitu mudah dibandingkan dengan menulis perbuatan baik yang dilakukan oleh tangan). Lalu pada saat kita meninggal dunia semua hal itupun menjadi terlihat jelas. Semua perbuatan buruk kita menjadi "tabungan" yang justru akan merugikan diri kita sendiri. Pada saat itulah tangan kita yang merupakan salah satu tubuh yang akan memberikan kesaksian menceritakan tentang hal-hal buruk yang kita lakukan dengan mediasi dirinya. Sungguh pada saat itu tidak ada lagi yang bisa meringankan dosa kita bila seluruh tubuh kita memberikan kesaksian yang memberatkan. Berharap Rasulullah SAW memberikan syafaat pada diri kita. Tapi rasanya akan malu sekali mendapatkan syafaat dari Rosulullah SAW mengingat diri kita yang jarang sekali bershalawat untuknya. Yang jarang juga menjalankan sunnahnya. Yang mungkin juga tidak hafal akan cerita kehidupannya. Pantaskah syafaat itu didapatkan? Tapi Rosulullah memang manusia yang paling penyayang di muka bumi ini, sehingga siapapun dia asalkan masih dalam bagian umatnya akan mendapatkan syafaat darinya. Jangankan memberikan syafaat, sebelum kematiannya dia sempat berkata pada Izrail kalau dirinya bersedia menanggung seluruh sakratul maut yang akan dijalani umatnya. Subhanallah...(Rindu sekali bertemu denganmu Ya Rasul...).
Lalu kalau ditanya pada diri sendiri, apakah kebaikan yang telah saya perbuat dengan mediasi tangan saya ini? Mungkin saya akan teringat sebuah cerita yang telah kugoreskan di sebuah kota bernama Yogjakarta. Pada saat aku menjadi salah satu penghuni kota itu dalam rangka menuntut ilmu di UGM. Tak jauh dari rumah kostku ada sebuah warung yang tidak terurus. Rumah yang dijadikan warung itu hanyalah berpagarkan bambu dan kayu. Warung itu bukan warung kelontong seperti yang lainnya. Warung itu menjajakan barang sekadarnya. Yang kutahu, warung itu menjual makanan buatan tangan yang mungkin terlihat tidak menarik. Hanya sebuah makanan terigu yang direbus dan di dalamnya ada sepotong pisang kecil. Saya yang sebenarnya tidak tertarik untuk membeli jajanan itu akhirnya merasa perlu membeli makanan itu. Saya rela merogoh kantong saya hanya demi membeli makanan yang mungkin tidak terlalu penting untuk saya. Tapi ada satu hal yang saya merasa perlu untuk membelinya. Penjualnya itu hanyalah seorang janda (yang kutahui belakangan) dan tinggal seorang diri. Ibu itu memang tidak tua, saya taksir umurnya sekitar menjelang empat puluhan. Guratan kerja keras terlihat di wajahnya yang berkulit sawo matang. Saya sangat senang sekali saat melihat senyum si Ibu merekah pada saat saya membeli makanannya. Mungkin dia tidak menyangka bahwa saya mau membeli makanan di warungnya atau mungkin juga saya adalah pemuda satu-satunya yang mau jajan di warungnya itu. Yang pasti saya senang sekali dapat membantu ibu itu, walaupun saya yakin tidak seberapa. Tangan ini yang mengeluarkan uang dan membawa makanan yang dijajakan Ibu itu suatu saat nanti saya harapkan bisa menjadi saksi di hadapan Allah kelak.
Kebaikan yang lainnya adalah kisah tentang seorang Ibu tua renta yang saya temui di bis 116 jurusan Blok M-Tanjung Priok. Pada saat itu saya sedang ingin pergi membeli buku di kawasan kwitang, Senen. Pada saat bis melewati jalan Tambak, Manggarai, seorang Ibu tua renta naik ke bis yang saya tumpangi. Ibu itu mengenakan kain batik dan baju kebaya serta kerudung ibu-ibu pengajian. Ibu tua itu tidak membawa apa-apa selain bungkusan yang ada dalam plastik yang saya yakini bungkusan itu adalah baju dia yang lainnya. Lalu saat sang kondektur menagih bayaran pada penumpang, si Ibu tua renta yang duduk di samping saya terlihat mengeluarkan dompet putihnya yang tipis. Dengan segera saya mengeluarkan uang dari saku dan memberikan kepada kondektur itu. Saya memberikan isyarat bahwa uang yang kuberikan untuk bayaran dua orang, saya dan ibu tua renta itu. Ibu itu lalu menoleh ke arah saya dengan senyum tua di wajahnya. Bibirnya mengucapkan terima kasih yang saya balas dengan senyuman. Senang sekali melihat wajah tua itu tersenyum.
Tapi Ya Allah... sungguh rasanya dua kebaikan lewat tangan yang saya lakukan itu belumlah seberapa dibandingkan banyaknya kemaksiatan yang telah kulakuan lewat tangan saya ini. Mungkin kebaikan saya hanya dua itu saja, sedangkan keburukan yang telah kulakukan mungkin lebih dari dua bahkan bisa jadi berkali-kali lipat dari dua. Sungguh rasanya saya takut sekali bila ternyata kesaksian tangan yang menemani saya selama ini adalah memberatkan diriku dihadapan-Mu kelak. Sungguh saya tak tahu akan berbuat apa bila itu terjadi. Untuk itu Ya Allah, bantulah hamba-Mu ini untuk menggunakan tangan saya ini dalam rangka ketaatan kepada-Mu. Sungguh hamba adalah makhluk yang dhoif, yang mudah sekali terjerumus dalam jurang kemaksiatan, untuk itu Ya Allah bantulah hamba-Mu ini bilamana salah melangkah dan berikanlah kasih sayang-Mu bilamana hamba bertaubat dan mengetuk di pintu-Mu. Amiiinnn Ya Rabbal 'Alamin...***(yas)


My work room, February 6, 2009
at 00.05 am
ditemani rintik hujan
yang menentramkan jiwa

Friday, January 23, 2009

SUDAH BERAPA KALI ANDA KHATAM AL-QUR'AN??

(sebuah catatan tentang pengajian)


Judul di atas adalah sebuah pertanyaan yang aku ambil dari guru ngaji pekanan saya pada waktu acara pekanan yang berlangsung di rumah sederhana miliknya. Bukan, guru ngaji aku bukan menanyakan lembaran evaluasi ibadah mingguan yang sering aku lupa untuk mengisinya, tetapi saat itu guru ngajiku menanyakan hal itu sesuai dengan usia tarbiyah yang sudah dilalui para binaannya. Sejalan usia tarbiyah yang semakin memanjang dan perilaku kita yang semakin berubah dari waktu ke waktu, adakah nilai-nilai Al-Qur'an yang tertanam pada jiwa kita? Mungkin saja semakin banyak seseorang itu khatam Al-Qur'an maka semakin baik pula kualitas dirinya (seharusnya). Atau mungkin juga guru ngaji saya sedang menyindir aku dan teman-temanku yang jarang mengkhatamkan Al-Qur'an? Kalau pertanyaan itu secara resmi ditanyakan ke aku pribadi mungkin aku juga tidak tahu pastinya sudah berapa banyak aku khatam Al-Qur'an. Tapi satu yang pasti, setelah aku aktif di Rohani Islam SMAN 43 dulu minimal aku harus mengkhatamkan Al-Qur'an setahun 1 kali tepatnya khatam pada bulan Ramadhan.
Perkenalan aku sendiri dengan Al-Qur'an jauh terjadi saat aku masih kecil. Saat itu aku sering sekali pergi mengaji di sebuah Yayasan yang dimiliki oleh seorang Ustadzah bernama Rum. Jarak tempat itu dengan rumahku sekitar 100 meter. Setiap malam aku dan kawan-kawanku berangkat setiap habis maghrib saling sampar menyampar. Lalu sesampainya disana kami saling berebutan lekker (meja kecil terbuat dari kayu yang biasanya digunakan sebagai alas untuk menaruh Al-Qur'an) dan posisi tempat duduk yang strategis. Guru ngaji kami sendiri adalah remaja dari Yayasan itu yang kebanyakan adalah mahasiswa atau pekerja. Oiya, guru ngaji kami tidak ada yang perempuan, semuanya laki-laki kecuali pada waktu-waktu tertentu saja ada perempuannya, misalnya saat malam jum'at saat kami membaca Yasin beberapa guru wanita juga datang ke tempat kami.
Sebenarnya aku sangat tidak puas sekali saat guru mengajiku yang bernama Kak Ade (How I miss...) menaruhku di kelompok membaca Juz Amma (dulu rasanya buku Iqra belum sepopuler sekarang deh..). Aku harus membaca dari awal dan jika aku bagus dan tidak banyak mengulang serta menghabiskan Juz Amma maka aku bisa berpindah ke Al-Qur'an. Walaupun di rumah orang tuaku jarang mengajarkan aku mengaji tetapi aku merasa bahwa aku bisa sekali lebih jauh dari Juz Amma. Tapi Kak Ade tetap mengharuskan aku membetulkan bacaanku agar lebih bagus.
Pengajian ini ternyata hanya bertahan sampai aku kelas 5 SD saja atau kurang lebih 3 tahun. Lambat laun banyak teman-temanku yang jarang mengaji dan akhirnya keluar dari pengajian. Guru-guru kami pun juga lambat laun berkurang sejalan aktivitas mereka yang mungkin semakin padat. Setelah vakum tidak mengaji beberapa saat, orang tuaku menawarkan aku untuk masuk madrasah yang juga masih di bawah Yayasan milik Ustadzah Rum. Saat itu aku dimasukkan bersama dengan keponakanku yang masih kelas 2 SD. Aku dimasukkan di kelas 1 karena memang tempat dan pengajarnya yang terbatas. Aku masih ingat dengan Ustadzahku yang bernama Bu Supriyati (I miss u...), anak IKIP yang sangat baik dan sabar sekali. Aku senang belajar dengannya. Bacaan iqra kun pun yang bermula dari iqra 2 langsung melesat menjadi Iqra 4. Pelajaran Imla, fiqih dan akidah kuikuti dengan senang. Oiya, uniknya sekolah madrasahku adalah pengajarnya harus mengajar masing-masing 2 kelas. Satu kelas masing-masing dibagi dua baris. Kelasku yang kelas 1 kebetulan bersama dengan kelas 3 yang umur siswanya juga sama denganku. Sedangkan kelas 2 dan 4 belajar di lantai atas. Saat ustadzahku menawarkan aku untuk langsung pindah ke kelas 2, aku pun mencoba tawaran ustadzahku itu. Tetapi beberapa hari kemudian aku minta dipindahkan kembali ke kelas 1 karena aku merasa tidak cocok dengan gurunya. Dan di kelasku aku selalu mendapat peringkat pertama, secara aku khan udah kelas 5 SD...hehehe...
Ternyata usia belajarku di madrasah tak bertahan lama. Belum 1 tahun aku tidak bersekolah madrasah lagi karena muridnya yang semakin menghilang dan yang pasti rasa malasku yang harus bersekolah 2 kali. Dan selama itu pun aku tidak belajar mengaji unuk waktu yang cukup lama. Bahkan aku pun tak tahu tentang hukum tajwid. Baru setelah kelas 1 SMP di 67, aku berkenalan dengan Rohis. Aku ikut Rohis karena kebetulan kakak perempuanku yang ketiga yang saat itu sekolah di SMA 3 juga bergabung dengan Rohis dan memakai jilbab. Aku pun ikut kegiatan Rohis. Tapi aku paling malas sekali ikut acara BMAQ yang diadakan satu jam sebelum sholat Jum'at dimulai. Ya memang waktu itu aku belum mengerjakan sholat secara penuh, bahkan mungkin sering tidak sholat 5 waktu. Kebetulan pada saat SMP kelas 1 aku masuk siang, jadi semua siswa diwajibkan untuk ikut BMAQ yang diajarkan oleh kakak-kakak Rohis. Aku yang tidak pernah ikut akhirnya tak dapat kesempatan belajar tentang tajwid dan Al-Qur'an. Saat disuruh baca Al-Qur'an bergantian yang dibimbing oleh mentorku pada sebuah acara Pesantren kilat pun aku merasa tidak sanggup. Saat yang lain membaca satu halaman penuh, aku merasa tersiksa sekali walaupun hanya disuruh membaca 2 ayat. Sayangnya karena kesibukan kakak mentorku maka pengajian ini tidak berjalan. Padahal kuakui bahwa Rohis SMP ku lah yang mengajarkan aku untuk suka pada nasyid, tahu dunia ikhwan dan akhwat dan lainnya. Tapi sayang 3 tahun kemudian aku sama sekali tidak bersentuhan dengan Al-Qur'an sampai akhirnya aku masuk ke SMA.
Saat itu aku memutuskan untuk masuk SMA yang ada di samping SMP ku yaitu SMAN 43. Aku pun memutuskan untuk memilih ekskur Rohis sebagai salah satu bagian dari ekskurku selain PMR, Voli dan theater. Sekali lagi aku memilih ekskur Rohis karena itu ekskur ku di saat SMP dan terinspirasi dari kakakku. Aku baru tahu dikemudian hari kalau Rohis SMAN 43 adalah salah satu yang terbaik di Jakarta dan merupakan salah satu pelopor pergerakan dakwah sekolah. Saat masuk SMA aku memang bertekad untuk menjadi lebih baik lagi daripada di SMP dulu.
Tapi sayangnya, lagi-lagi aku hanya tercatat namanya saja sebagai anggota Rohis. Aku jarang sekali ikut kegiatan rutinnya yang waktu itu diselenggarakan setiap hari Sabtu sepulang sekolah dari jam 17.00 sampai 19.00 (sekolahku waktu itu khusus kelas 1 masuk siang hari). Aku selalu main kucing-kucingan dengan pengurusnya yang setiap bubar siswa menjaga di depan pintu gerbang sekolah untuk menarik anggota ekskur Rohis. Ekskur di sekolahku memang wajib karena kalau tidak ikut ekskur maka jangan harap bisa mengambil rapot. Aku jarang ikut Rohis karena aku terburu-buru ingin pulang ke rumah untuk menonton ASIA BAGUS. Waktu itu aku sangat menyukai acara yang dibawakan oleh Najib Ali dan Tomoko itu. Pun kegiatan BMAQ yang diadakan pada hari minggu pagi juga aku tidak ikuti. Rasanya aku masih trauma kalau harus membaca Al-Qur'an. Kehadiranku di BMAQ rasanya bisa dihitung dengan jari. Itu pun aku terpaksa hadir karena guru pembina Rohis yang juga guru Bahasa Indonesia mengancam tidak akan memberiku nilai bahasa Indonesia. Kebetulan itu pelajaran favoritku dan guru itu juga salah satu guru favoritku. Pada waktu acara pesantren kilat yang diadakan Rohis di puncak secara mengejutkan aku dimasukkan di kelompok favorit. Aku sama sekali tidak tertarik, terlebih saat acara mentoring, mentorku meminta setiap mentee nya untuk membaca satu lembar Al-Qur'an. Dan lagi-lagi aku yang terbodoh. Aku pun meminta keringanan untuk mebaca 1 atau 2 ayat saja, tapi mentorku menolak dan menyuruhku tetap membaca 1 lembar. Dan sampai kelas 1 SMA pun aku sama sekali tidak mengerti tentang tajwid dan makhrojul huruf.
Semuanya berubah saat cawu 3 di kelas 1. Guru Bahasa Indonesiaku yang bernama Bu Imas (terima kasih ibu) memanggilku dan bertanya kenapa aku tidak pernah ikut kegiatan Rohis di hari Minggu? Karena dia guru favoritku aku pun menjawab dengan jujur bahwa pada saat itu aku belum bangun tidur. Dia kemudian mempertanyakan apakah aku sholat subuh atau tidak (aduh malunya aku) yang kujawab dengan senyum. Dia pun memberi ultimatum bahwa aku harus ikut acara setiap hari minggu atau kalau tidak nilaiku akan dikurangi 5! Ya mau nggak mau aku akhirnya mulai rutin mengikuti kegiatan BMAQ.
Setelah aku menjadi pengurus Rohis (oiya, saat itu aku belum pernah khatam Al-Qur'an) aku dituntut untuk bisa membaca Al-Qur'an secara benar. Alhamdulillah akhirnya aku mulai lancar membaca Al-Qur'an walaupun tanpa tajwid dan makhrojul hurufnya. Alhamdulillah akhirnya menjelang kelas 3 yang kuingat aku berhasil menghabiskan Al-Qur'an alias khatam Al-Qur'an. Saat kelas 3, mentorku tidak melanjutkan kembali mentoring karena beliau sibuk dengan urusan pekerjaannya. Maka aku dioper ke rekannya yang bernama Bang Hakim. Di mentoring rutin ini aku pun semakin terlatih untuk membaca Al-Qur'an sebanyak satu halaman. Pada saat bersamaan aku dan teman-teman ngajiku memutuskan untuk ikut khursus tahsin pekanan di Masjid Bimantara Kebon Sirih. Saat itu pengajarku adalah Ustadz Furqon. Aku senang sekali dengan metode mengajarnya yang fasih. Memang aku adalah yang terbodoh di kelompok itu karena memang aku satu-satunya yang tidak mengerti tajwid. Bahkan untuk mengucapkan huruf KHO yang seperti mengeluarkan reak dalam latihan Makhrojul huruf, teman-temanku mentertawaiku karena aku tidak bisa. Seiring berjalannya waktu akupun semakin paham dengan tajwid dan makhrojul huruf. Aku ingat sekali aku mampu menghabiskan 1 juz Al-Qur'an saat tilawah sepulang sekolah yang kulakukan di masjid sekolah. Bagiku ini adalah prestasi baruku yang dulu sama sekali tidak pernah melakukan hal seperti ini. Lalu memasuki bulan Ramadhan di saat aku kelas 3, aku semakin cinta dengan Al-Qur'an. Aku rela menghabiskan waktuku berjam-jam untuk membaca Al-Qur'an. Bahkan sering sebelum waktu Isya aku sudah menghabiskan 2 juz. Inilah awal kecintaanku terhadap Al-Qur'an. Tradisi khatam Al-Qur'an setiap bulan Ramadhan pun tercipta sejak saat itu. Pada awal-awal nya aku memang tidak khatam pada saat Ramadhan saja, aku bisa khatam Al-Qur'an 2 kali dalam setahun saat kelas 3 SMA dan tahun awal kuliah. Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan rasa malas yang mendera maka motivasiku semakin menghilang hingga setahun minimal harus 1 kali.
Sekarang, saat guru ngajiku menanyakan judul di atas, aku hanya bisa bermain dengan kenangan. Memang setahun masih tetap 1 kali khatam, tetapi aku merasa semakin jauh sekali rasa ketertarikan untuk membaca Al-Qur'an. Walaupun tekad untuk membacanya tetap ada tapi sering sekali terbentur dengan rasa malas yang mendera-dera. Bukannya membaca aku malah asyik dengan kompromi-kompromi terhadap diriku. Rasanya semakin jauh sekali dari Al-Qur'an. Janganlah lagi ditanya tentang mengamalkan isinya,masih jauh sekali dari diriku. Hanya pada saat Ramadhan sajalah semangat itu benar-benar bisa terbangun dan muncul kembali. Ya Allah rasanya ingin sekali aku jatuh cinta dengan Al-Qur'an. Rasanya jika kuhitung dengan kalkulasiku, menghabiskan waktu 10 menit untuk membaca 2 lembar Al-Qur'an setiap habis sholat fardhu sepertinya bukan suatu hal yang berat. Tapi Ya Allah, rasanya sekarang jauh sekali aku akan nilai-nilai Al-Qur'an. Kalau begini rasanya aku tak bisa menjadi generasi Qur'ani...Astaghfirullah Alladzim...***(yas)

Ya Allah sayangi kami dengan Qur'an...
Bagi kami Qur'an imam dan cahaya,
petunjuk dan rahmat...
Ya Allah tegurlah kami bila melalaikannya...
Dan ajarkan mukjizat Al-Qur'an...
Yang menjadi sumber rezeki,
sepanjang malam dan sepanjang siang hari...
Jadikanlah Al-Qur'an perisai
Ya Allah Tuhan kami...



My work room, January 23, 2009
at 02.20 am
Sebuah jeritan hati
yang rindu Al-Qur'an...

TIGA BUAH RAMBUTAN

Pernah makan buah rambutan khan? Pasti pernah. Hampir semua orang tau buah kecil berambut ini. Ada yang rasanya manis, kadang-kadang asam dan ada juga yang sedang-sedang saja. Mungkin saking seringnya kita makan buah ini pada saat musimnya tiba, jadi seolah terasa biasa-biasa saja saat kita memakannya. No special! Mungkin sebuah kisah ini bisa menjadi sebuah inspirasi bagi kita pemakan rambutan. Sebuah kisah pentingnya memberi walaupun dalam keterbatasan.
Usai sudah sebuah aksi kemanusiaan yang kuikuti, aku dan temanku memutuskan untuk menyempatkan diri sholat di Masjid Istiqlal yang lokasinya memang tak jauh dari tempat aksi itu diadakan. Kebetulan temanku mengajak mentee-mentee nya jadi bisa sekalian mengenalkan mereka pada masjid itu. Sengaja mentee-mentee yang baru menginjak bangku kelas 1 SMA diajak aksi itu untuk menimbulkan ghirah mereka.
Hujan rintik-rintik pun seolah menjadi tanda bahwa aksi yang dilakukan tadi dirahmati oleh Allah SWT. Aku pun mengucapkan hamdallah sambil bergegas berjalan menuju masjid itu. Sesampainya aku di pertigaan jalan, dan saat ingin menyebrang, kulihat seorang ibu muda berumur sekitar 30 tahunan berkemeja putih dan bercelana jeans menggendong anaknya yang balita. Dua orang anak lelaki di bawah umur 10 tahun juga bersamanya. Penampilan mereka layaknya (maaf) manusia-manusia gerobak yang tidak punya tempat tinggal, kurang rapi dan sedikit kotor. Di belakangnya kulihat seorang lelaki tua di penghujung usia juga dengan berpakaian kumuh berjalan di belakangnya. Tampak lelaki itu kelelahan. Ibu muda dan lelaki itu itu tampaknya tidak saling kenal, itu terlihat jelas dari jarak jalan mereka yang sedikit berjauhan. Lalu hal yang menginspirasikanku pun hadir...
Ibu itu mengambil 3 buah rambutan dari kantong pelastik yang dibawanya. Sang anak tampaknya sangat ingin sekali memakan buah itu. Kebetulan buah itu juga pas dengan anak yang dibawanya. Tapi tanpa dinyana, sang Ibu menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang, ke bapak tua renta itu. Si Ibu menunggu hingga si bapak itu sampai di tempatnya berdiri. Ketika bapak itu sampai, dan si ibu itu melihat jelas kelelahan di wajahnya, lalu dia berkata pada anak-anaknya yang bisa kudengar.
" Kita kasih rambutannya ke bapak ini ya!" si Ibu tanpa perlu meminta persetujuan anak-anaknya langsung memberi rambutan itu pada si bapak tua. Mungkin ibu itu berpikir bahwa bapak tua itu lebih memerlukannya ketimbang dirinya dan anak-anaknya. Mata anak-anaknya hanya melihat sayang kepada rambutan itu. Mungkin mereka juga kepingin rambutan itu, tapi sang ibu merasa bahwa anak-anaknya akan dapat menikmatinya rambutan di lain waktu.
" Ini Pak rambutannya..." Sang Ibu memberikan rambutan itu.
Sang Bapak tua itu dengan agak ragu menerima rambutan itu setelah tampaknya dia juga tidak tega melihat ketiga anak sang ibu itu.
" Gak apa-apa Pak, ntar kita bisa beli lagi," Ibu itu meyakinkan si Bapak.
Dan setelah itu Ibu dan bapak itu berpisah arah dengan aku...
Aku menoleh ke arah teman yang ada disebelahku. Ternyata dia juga melihat kejadian itu.
" Ya Ampun...Subhanallah...ane jadi terharu deh..." ujarku. Temanku hanya mengangguk.
Lalu semua kejadian tadi seolah membawaku membuka diriku sendiri. Kuakui bahwa aku pribadi adalah seorang yang cenderung pelit kalau soal makanan. Aku begitu tertohok sekali dengan kejadian itu. Bisakah kita berbagi di saat kita juga sedang dalam keadaan sulit?
Ibu itu mengajarkan bahwa berbagi bukanlah milik orang-orang kaya saja. Mereka yang merasa selalu dalam keadaan kekurangan pun sebenarnya bisa berbagi dengan apapun yang mereka punyai. Seperti Ibu itu dengan rambutannya. Walaupun bagi aku tiga buah rambutan terlihat tidak penting sekali, tapi bagi ibu itu tiga buah rambutan itu adalah sebuah hal yang penting. Dan mungkin kalau aku yang dibagi tiga buah rambutan itu, mungkin aku akan menolaknya. Tapi bagi bapak itu 3 buah rambutan itu adalah hal yang sangat berarti baginya. Sebuah frame yang berbeda pikiran kita.
Sampai di Masjid kebanggaan Indonesia pun aku masih belum berhenti memikirkan kemurahan hati sang Ibu tadi. Pikiranku pun terbang ke seorang teman yang begitu maunya dia berbagi. Bila dia membeli makanan maka dia akan mengajak semua orang berkumpul untuk makan bersama-sama. Atau bila dia amakan di luar maka dia juga tak akan lupa untuk membawakan sedikit oleh-oleh bagi temannya, agar dia tak hanya bisa menceritakan tentang lezatnya sebuah makanan dan temannya hanya bisa membayangkan, tetapi dia juga ingin temannya merasai apa yang dia rasakan.
Kisah 3 mujahid perang badar yang saling ingin berbagi seteguk air hingga akhirnya tak ada satupun air yang diteguk oleh mereka juga terputar ulang di benakku. Kisah 8 dirham yang dibawa Rosululloh untuk membeli baju tetapi sampai pulang ke rumah tak ada satupun baju yang dibawanya karena semua uang yang dibawanya dia dermakan kepada orang-orang di sepanjang pasar juga terputar ulang.
Teringat kembali, sebuah dialog dengan temanku saat kami kesulitan mencari dana untuk melaksanakan dauroh. Pada saat itu, saat sedang mendiskusikan anggaran dana, kami melihat di televisi tentang perkara korupsi seorang pejabat sebanyak 8 milyar.
" Ya Allah...kalau dia punya uang sebanyak itu terus dipake buat dauroh, berapa ratus kali kita bisa melaksanakan dauroh..." ujar temanku.
" Atau kalau uang dia dibagi ke kita 2 juta saja," aku menambahkan (pastinya bukan uang korupsi yang kita inginkan).
Kami pun hanya bisa mengelus dada. Inilah manusia di negeriku tercinta. Memupuk kekayaan tanpa mempedulikan orang lain. Tapi kisah Ibu itu membuatku yakin, bahwa di antara banyaknya para penimbun harta, masih banyak juga orang-orang yang peduli untuk berbagi.
Ya Rabbana...Karuniailah Kami jiwa dan hati yang bersih...
Karuniailah kami hati yang selalu ingin berderma...
kapanpun dan dalam kondisi apapun....
Rabbana Ma Kholaqta Hadza bathila subhanaka faqina adzabannar..***(yas)


My Work room, January 21, 2009
at 03.00 am menjelang QL
Semoga ada cahaya terang...

KENANGAN LDKS ROHIS SMAN 43 TAHUN 2007


Taufan dan Qois yang kelelahan,
serupa tapi tak sama...


Genk XE yang juga gak mau ketinggalan narsis


Gelap-gelap kelas XB tetep narsis difoto
(Dika ternyata anak Rohis ya...)


Taufan, kayaknya tanpa perlu menyeram-nyeramkan wajah,
wajahnya udah menyeramkan deh... hehehe...


Esa, Dede, dan Arbi saat games berlangsung


Hhmmm....Desi and akka genk masa anak Rohis
joget dangdut sih... ^__^


Dina sama pasukan XA nya segitu semangatnya takbir...



photographer : Ayatulloh Rahman
Lokasi : BUPERTA Cibubur

KENANGAN VILLA INSANI


Suasana bahagia saat Rihlah LQ kita di Villa Insani
FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us