Thursday, January 22, 2009


Abis Raker Rohis 2008 di Cibinong

TRAGEDI LONSAY

Hhmmm...sebenarnya ini sih bukan tragedi tapi kena tipu. Gimana ceritanya ane bisa kena tipu? Begini ceritanya...
Minggu siang itu, usai mengikuti aksi kemanusiaan untuk rakyat Palestina yang longmarch bulak balik Monas-HI-Monas, pastinya perut laper banget. Apalagi tadi sebelum berangkat belum sempet sarapan ditambah teriak-teriak yang membahana membuat perut makin tambah laper. Langsung aja deh pas udah sampe pintu gerbang Monas ane dan temen ane plus mentee-mentee ane hunting makanan yang murah meriah and pas di lidah.
" Eh, ga enak nih anak-anak ga kita beliin. Gimana kalo kita patungan aja? Palingan makanannay 5000-an," ujar ane sama temen ane yang mengekor di belakang.
" Iya juga sih. Ya udah deh," seru temen ane.
Dan setelah hunting beberapa tukang makanan, sampailah mata ini tertuju pada seorang tukang Lonsay Lohan eh Lonsay alias lontong sayur yang sedang menyepi di perojokan gerbang dekat pintu kecil yang ada di sebelah gerbang utama. Hhhmmm...pas banget nih! Kebetulan tuh tukang lonsay juga kurang peminat, jadilah ane memesan tuh lonsay.
" Bang, pesen lonsay 5000-an 10 porsi ya!" seru aku tanpa ada perasaan apa-apa. Perlu dicatat ya saudara-saudara, lonsay 5000 di depan mall Ambassador tuh udah komplit banget! Pake telor, tahu, plus sgelas teh hangat. Lain lagi kalo di tetangga ane, Bu Iti namanya. Lonsay 5000 dijamin bakaln dibuatin spesial sama dia, secara harga rata-rata khan 3000-an.
Langsunglah tuh abang membuat pesanan kami. Karena keterbatasan piring, maka abang itu meminta untuk tidak berlama-lama menikmati tuh piring (siapa juga yang mau makan tuh piring bang!). Jadi selesai makan, piring dicuci langsung dipake lagi eh gak dicuci sih cuma dikocok-kocok sama air doang. Otomatis dengan begini kita ga bisa makan secara bersama-sama.
Saat menunggu si abang membuatkan pesanan, ternyata peminta lonsay semakin banyak. Jadilah disana terdapat banyak antrian lonsay. Ane juga sempat mendengar seorang pelanggan bertanya tentang harga tuh lonsay.
" Berapaan bang seporsi?"
" 5000-an" tuh abang menjawab kalem.
Berarti semakin yakin deh di hati kalo tuh lonsay harganya 5000. Tadinya sempet kepikiran sih untuk bayar langsung aja sebelum selesai dimakan. Tapi niat itu langsung diurungkan saat melihat kondisi lonsay yang semakin menurun kualitasnya. Maksudnya, kalo piring-piring awal dapet telur, tahu dan kerupuk yang memadai, maka pas giliran ane dan temen ane yang terakhir cuma dapet lonsay tanpa telur dan tahu ples kerupuk yang cuma remah-remahnya doang. Husnudzon kita sih, asyik nih pasti bakalan dapet potongan harga dari tuh abang. Dan kita lahaplah lonsay itu dengan tanpa kecurigaan apapun. Perut laper yang diisi dengan lonsay yang lumayan enak dengan bumbunya yang manis pasti bakalan memuaskan hati. Betul gak sih?
Nah ini dia nih tragedinya. Saat mau bayar tuh lonsay, tiba-tiba si abng berubah pikiran. Mungkin dia pikir kesempatan nih naikin harga mumpung banyak yang beli, secara mereka udah pada makan dan ga mungkin dong ngebatalin pesanan? Mungkin juga dia melihat yang beli kader-kader PKS yang pastinya dermawan, ramah, tidak sombong dan rajin menabung...
" Jadi berapa bang?" seruku sambil melap bibir dengan tisu.
" Seporsinya 7000-an," abang itu berkata tanpa rasa bersalah.
Haaahhhhh???????
" Loh gimana sih bang, tadi kan pesennya 5000-an. Lagian yang terakhir juga udah ga pake lontong sama tahu," protesku.
" Yah emang harganya 7000-an," ujar abang itu kekeuh.
" Ya udah nih," aku meraih uang 50.000-an dan memberikannya kepada abang lonsay itu.
" Loh, kurang nih. Harganya 7000-an," abang itu gusar.
" Yee...tadi khan bilangnya 5000-an," aku juga ga mau kalah.
Tapi berhubung hujan udah mulai turun maka dengan rela ga rela temenku langsung mengeluarkan uang 20.000-an dan memberikan kepada abang lonsay itu. Kayaknya sih dia gak ikhlas juga.
" Gimana sih bang??" aku sedikit ketus berkata pada abang itu. Tapi si abang cuek bebek.
Aku, temanku dan mentee-mentee aku pun langsung pergi meninggalkan tuh abang lonsay dengan perasaan tidak ikhlas. Setelah itu aku juga sempet mendengar si abang berargumentasi dengan pembeli berikutnya yang tamapkanya juga kena tipu si abang lonsay.
Teringatlah aku pada kisah selebriti Ringgo Agus Rahman yang juga pernah kena tembak saat makan di monas. Saat itu dia beli nasi goreng yang setelah mau dibayar harganya 25.000!!! Whaattt??? Padahal tuh nasi goreng kualitasnya di bawah standar nasi goreng pada umumnya. Aduhh...aduhh...
Sepanjang perjalanan pun tak henti-henti aku dan temanku membicarakan kejadian yang tadi. Sumpah masih belum ikhlas.
" Kayaknya ga ikhlas banget ya bayar 70.000," ujar temanku
" Tuh abang bener-bener edan, ketauan akadnya 5000-an, malah dia naikin sepihak," aku juga angot.
" 70.000 tuh $7 loh..." ujar temanku lagi.
" Mending kita sumbangin ke Palestina aja deh, lebih ikhlas," tambahku.
" Edan tuh abang!!"
" Gembell!!"
" Dodoll!!"
Lalu frame di sebuah adegan di film Ayat-ayat Cinta seolah terulang,
" Ikhlas Yass...Allah sedang mengujimu. Dia sedang berbicara denganmu..."
Ya Allah... bicaranya jangan lewat abang tukang lonsay dong...Ikhlasnya ga dapet nih...Astaghfirullah....***(yas)


My work room, Jan 20,2009
when summon of ashar hear
Aduh abaaang....

Tuesday, January 20, 2009

BANGKITLAH NEGERIKU...!!!


Seperti yang sudah-sudah, hari Minggu, 11 Januari 2009, menjadi tanda bahwa sesama muslim itu bersaudara. Bukan hanya bersaudara, tetapi menjadi bagian dalam tubuh itu sendiri. Sebuah aksi kemanusiaan yang digalang untuk sebuah negeri nun jauh disana yang sedang terluka, Palestina. Bukan hanya aksi yang menunjukkan kekuatan kita sebagai muslim, tetapi aksi yang juga menyisihkan sedikit rupiah yang kita punya untuk saudara kita di sana. Aku yakin sekali, saat Palestina melihat aksi yang kita lakukan hari ini maka air mata akan membasahi wajah mereka dan bahkan membasahi janggut-janggut mereka. Lalu seperti digerakkan oleh kekuatan, entah darimana, mereka akan berucap, "Kita tidak sendirian,".
Maka aksi kali ini adalah sumbangsih kesekian kalinya dari sebuah Partai yang sudah hampir 11 tahun aku mengenalnya. Sebuah tempat para ustadz-ustadz ku berkumpul. Sebuah partai yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan terbentuk dan menjadi besar seperti sekarang. Mungkin dulu sebelum era reformasi, para ustadz-ustadz itu tidak mau sedikitpun bersentuhan dengan dunia politik yang terkenal kotor. Tetapi saat keadaan memungkinkan, dan sebauah cita-cita besar ingin dicapai serta kekuasaan ingin dibuat menjadi lebih berpihak dengan Islam, maka para ustadz-ustadzku ini membentuk sebuah Partai sebagai refleksi perjuangan mereka. Mereka yang dulunya tidak mengenal politik dan sejarahnya sama sekali, maka dengan ini harus menyelami dunia politik itu seutuhnya. Biasanya mereka menghafal ayat-ayat dalam Al-Qur'an, maka kali ini mereka harus menghafal perundangan dan yang lainnya. Tetapi ustadz-ustadz ini bukanlah kumpulan orang tua yang bodoh, malah mereka tergolong jenius dan cerdas. Hanya saja dulu mereka tidak bisa menerapkan kecerdasan mereka di sebuah negeri yang rasanya sulit untuk bergerak. Lalu mereka pun mengabdikan diri pada masyarakat dan agama Islam itu sendiri.
Perjuangan mereka yang dulu terasa berat dan penuh dengan fitnah dan ancaman akhirnya menjadi indah pada waktunya, kini. Kian banyak masyarakat yang dekat pada agama mereka. Fenomenan wanita berjilbab bukanlah suatu hal yang aneh sekarang. Tidak pernah terbayangkan kalau dahulu para ukhti muslimah memperjuangkannya dengan mati-matian. Difitnah menyebarkan racun, penampilan aneh, primitif dan lain sebagainya. Pengajian juga sudah semakin marak, sebuah hal yang diperjuangkan dahulu oleh para ustadz-ustadz. Tahukah kalau dulu para ustadzku itu dipenjara, dituduh melakukan makar terhadap negara, dituduh aliran sesat dan sebagainya. Tahukah mereka yang sekarang memfitnah para ustadzku dan partaiku juga bahwa dulu yang memperjuangkan Islam hingga sekarang adalah bukan mereka. Mereka yang berjuang bukanlah yang hatinya penuh dengan rasa iri dan dengki dan saling mencela antar golongan Islam.
Tetapi makin hari ke hari, terasa sepertinya sebuah cita-cita bangsa ini semakin mengabur. Sebuah cita-cita besar yang menginginkan kesejahteraan untuk rakyatnya. Sebuah keadilan yang menjamin masyarakatnya untuk mendapatkan segala hak yang dipunyainya. Mendapatkan hak pendidikan, hak berpendapat, hak untuk tidak hidup miskin, hak untuk bekerja dan hak untuk bisa mendapatkan hasil dari sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini.Semakin terpuruk bangsa ini dan mendorong ke sebuah tepi jurang kehancuran. Semua orang miskin diharuskan bermimpi buruk. Segalanya sangat tidak layak di negeri ini. Perpecahan, kasus yang dimodifikasi oleh orang-orang barat, bencana alam, kemiskinan, dan banyak tragedi lainnya.
Seolah Allah telah mengunci mati hati para pemimpin di negeri ini. Para pejabat di negeri ini. Banyak hal yang terasa mengganjal di hati, dan pkiran seorang manusia normal. Seorang penjahat yang korupsi uang negara ratusan milyar, hanya dipenjara beberapa tahun saja. Itupun bukan penjara murni seutuhnya. Mereka masih mendapatkan tempat tidur yang empuk, fasilitas kamar mandi yang memadai, alat komunikasi, dan fasilitas lainnya layak. Keluarga mereka bisa hidup tenang dan damai. Semua aset dilarikan ke luar negeri. Dan dalam waktu singkat lebih bangga menjadi bagaian dari pembaratan. Sedangkan sebagai pembandingan, seorang miskin yang terpaksa mencuri karena deraan lapar yang menggerogoti perutnya dan tertangkap basah, dengan tidak berperikemanusian dipukul beramai-ramai. Aparat memberlakukannya layaknya sebuah sak tinju. Bahkan dalam beberapa kasus pencuri itu terpaksa menemui ajalnya dengan dibakar hidup-hidup. Andaikan hidup bisa memilih, mungkin orang itu tidak ingin menjadi orang miskin. Mungkin, saat dirinya dipukul dan dibantai habis oleh orang-orang tidak berperikemanusian, yang tergambar dalam benaknya adalah wajah anak dan istrinya yang menanti kedatangan, mengharap kedatangan itu bisa mengusir rasa lapar akibat beberapa hari tidak makan. Sebuah wajah yang ironi bagi negeriku bernama Indonesia.
Aku sangat muak sekali saat para pemimpin di negeri ini menghimbau masyarakat untuk hidup hemat sementara mereka tidak melakukannya. Seorang menteri menyarakankan masyarakat untuk makan tempe sedangkan menteri itu sendiri memilih menu ala barat. Yang lainnya menyarankan untuk hidup sederhana sementara keluarganya hidup dalam kemewahan. Dimana keteladanan seorang pemimpin? Apakah tidak ada lagi panutan di negeri ini? Apakah mereka yang punya hati nurani sudah tidak ada lagi sehingga sulit sekali untuk dicari? Dan semakin terpuruk saja negeriku ini.
Kemudian, harapana itu hidup kembali. Saat para ustadz ku terjun ke kancah politik. Dengan kebersahajaannya, sikap rendah hatinya, rasa tawadhunya. Merekalah yang tidak bisa tidur saat tetangga mereka kelaparan sedangkan perut mereka sudah kenyang. Ada perasaan berdosa disitu. Merekalah yang turun pertama kali saat masyarakat dilanda bencana. Tanpa ragu dan memilah-milih mereka menolong setiap orang yang kesulitan. Merekalah yang selalu menyisihkan uang gaji mereka untuk diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Merekalah yang selalu tersenyum ramah dan menolong masyarakat di sekitar...(Ya ustadz rasanya aku ingin sekali menangis jika mengingat bahwa aku belum bisa melakukan apa yang telah kau lakukan).
Indonesia pun menyambut baik. Betapa muslim disini sudah terlalu lama disakiti. Betapa kita merindukan seorang pemimpin yang sederhana seperti Umar bin Khatab, yang memanggul sendiri makanan untuk rakyatnya. Merindukan Indonesia akan menjadi negara yang menyongsong kebangkitan. Kebangkita yang datang dari Timur. Perlahan negeri ini pun bangkit. Bangkit dari keterpurukan dan mimpi buruk yang panjang. Suatu saat negeri ini akan berpihak pada rakyat miskin, akan memberikan keadialan bagi semua yang mendiami negeri ini. Sehingga kesejahteraan pun bisa diraih.
Bangkitlah negeri...!! Songsonglah perubahan zaman itu. Lupakanlah mimpi buruk mu. Bangkitlah dari tidurmu yang panjang.
Bangkitlah negeriku...!! Bangkitlah!! Dengan permulaan takbir, dan bergegaslah berwudhu agar wajahmu tidak muram seperti sedia kala.
Bangkitlah negeriku...!! Dengan takbir di kepalan tanganmu. Dan yakinlah bahwa harapan itu masih ada!
Bangkitlah,...bersama kami ... Partai Keadilan Sejahtera! Insya Allah...***(yas)


My bedroom, January 15, 2009
at 02.25 am
Inspired by song by ShoHar!!
Harapan itu masih ada...

Thursday, January 8, 2009

A TRIBUTE FOR RACHEL CORRIE




























Pada awalnya saya tidak kenal dengan wanita yang bernama Rachel Corrie. Pada saat kematiannya tanggal 16 Maret 2003, mungkin yang saya ingat tanggal itu adalah hari kelahirannya Dian Sastrowardoyo, seorang aktris yang dulu sempat saya sukai. Berita tentang kematian Rachel sendiri tampaknya juga tidak diberitakan secara heboh di media massa. Berbeda dengan misalnya, ada warga negara Amerika Serikat lainnya yang diculik oleh Taliban, pasti beritanya akan menjadi heboh.

Namun semuanya berubah saat saya sedang mengunjungi toko buku Gramedia, sehari sebelum tanggal 25 Desember 2009. Saat sedang sibuk memilih-milih buku yang ingin saya beli, di bagian novel-novel saya menemukan buku Rachel Corrie, "LET ME STAND ALONE" terjemahan bahasa Indonesia. Tentu saja yang begitu intens memperhatikan orang-orang Amerika atau "bule" yang begitu concern terhadap Islam langsung tertarik dengan buku itu. Saya memang begitu menyukai segala hal yang berkenaan dengan dunia barat, terutama mereka yang tiba-tiba mengubah jalan hidupnya 180 derajat, dari tidak mengenal Islam menjadi pemeluk Islam, contohnya seperti Yvonne Ridley, James Yee, Brandy Korman, dan yang lainnya. Otomatis saya pun tertarik dengan Rachel Corrie. Kebetulan pada saat itu siatuasi di Palestina juga sedang bergejolak. Lunatic Israel, menginvasi Palestina kembali dan tanpa ampun menghujani Gaza dengan bom-bom. Tapi sayangnya pada saat itu harga buku itu tidak cukup dengan uang yang saya bawa sehingga saya tidak langsung membelinya. Beberapa hari kemudian, seorang teman menghadiahi saya buku itu. Sebuah buku yang sangat menginspirasi dan menyemangati hidup saya.

Rachel Corrie adalah seorang gadis Amerika Serikat berumur 23 tahun. Masih muda dan cantik. Dia berasal dari negara bagian Washington, tepatnya di Olympia. Dia hidup bersama orang tua yang begitu demokratis dan kakak-kakak yang begitu menyayanginya. Sebagai seorang anak bungsu wajar kalau Rachel begitu disayangi oleh orang tuanya. Tapi Rachel kecil bukanlah seperti kebanyakan warga AS lainnya. Dia begitu tertarik dengan alam. Pemikirannya begitu tajam dan intens. Beberapa kejadian di dunia yang menurutnya memprihatinkan, seperti bencana kelaparan, perang dan lainnya membuat dirinya terenyuh. Berkali-kali dia menulis dalam buku catatannya tentang keprihatinannya terhadap semua bencana yang terjadi. Dan dia merasa bersalah karena dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Pada saat dia beranjak remaja. Dia mulai aktif mengikuti organisasi-organisai kemanusian. Dia memang bukan tipikal gadis muda AS pada umumnya. Pada saat seharusnya gadis seumur dia mencoba make-up terbaru, menggosippkan teman di sekolah, berbincang-bincang masalah cowok, dan berpacaran, Rachel mengambil jalur yang berbeda. Dia tidak hanya memperhatikan dirinya saja tetapi rachel malah memperhatikan orang lain. Dia mengumpulkan makanan dari hotel-hotel ternama untuk dibagikan kepada warga sekitar yang kelaparan. Dia juga aktif menolak segala perang yang dilancarkan pemerintahan pada masa itu, terlebih saat itu Amerika sedang dilanda paranoid akan serangan teroris. Maka kelakuan Rachel dinilai aneh sekali.

Mata Rachel semakin terbuka lebar saat dia menyaksikan kebiadaban yang dilakukan bangsa Israel terhadap warga Palestina. Sebagai bangsa penjajah, Israel dengan seenaknya mencaplok setiap wilayah di Palestina tanpa memperhatikan hukum-hukum internasional. Dan yang lebih mengherankan Rachel, negara-negara di dunia seolah menutup mata dengan kejadian yang terjadi di palestina ini. Tak lama dia memutuskan untuk bergabung dengan International Solidarity Movement (ISM) dan Rachel mengajukan dirinya untuk menjadi "People Chains" di Palestina untuk melindungi warga sipil. Dia kemudian dikirim ke Rafah bersama 7 orang aktivis ISM lainnya.

Di Rafah, Rachel tinggal bersama penduduk asli Palestina. ISM datang dengan tujuan damai bukan dengan kekerasan. Mereka tidak berpihak kepada siapapun, tetapi mereka berpihak pada kemanusiaan. Bahkan Alice seorang aktivis LSM beragama Yahudi. Dan Israel tidak mempunyai rasa kemanusiaan. Maka ISM mencoba untuk mengguah rasa kemanusian itu.

Aksi-aksi yang dilakukan Rachel Corrie begitu terasa bagi rakyat Palestina. Dia bersama 7 temannya menjaga sebuah sumur, sumber air satu-satunya, yang akan diuruk oleh tentara Israel. Mereka berdiam diri di sana menjaga sumur itu. Mereka rela harus berpanas-panasan dan menahan dahaga yang mat sangat. Aksi lainnya adalah mereka berusaha menghalangi buldozer-buldozer tentara Israel yang akan menghancurkan rumah-rumah penduduk. Dengan berani mereka menghadang buldozer itu dengan nyawa mereka sebagai taruhannya. Dan aksi inilah yang mengantarkan Rachel Corrie menemui ajalnya.

Sore itu, di Rafah yang mulai meredup cahaya, terdengar suara buldozer menuju tempat kediaman seorang dokter yang dijadikan tempat tinggal oleh Rachel Corrie. Segera Rachel dan beberapa aktivis lainnya keluar rumah dan mencoba mengadang buldozer Israel di depan. Saat itu Rachel mengenakan baju berwarna jingga menyala dan ditangannya terdapat megaphone untuk berteriak-teriak. Tetapi buldozer itu seperti tak kenal ampun. Rachel yang sedang berteriak-teraik langsung diseruduk oleh buldozer itu sehingga dia terhempas dan terjatuh kedalam tanah. Dua orang teman Rachel berteriak-teriak agar tentara Isarel itu berhenti. Tetapi mereka terus melakukan aksi brutal itu. Baru tak lama kemudian mereka berhenti.
Saat itu tubuh Rachel sudah remuk. Beberapa tulang terliat menerobos kulitnya. Rekannya segera memberikan pertolongan pertama sambil yang lainnya berusaha menemukan ambulan. Rachel hanya sedikit berkata, "Sepertinya tulangku ada yang remuk,". Tak lama ambulan yang datang dengan jaminan seorang aktivis ISM membawa Rachel ke rumah sakit. Namun malangnya nyawa Rachel sudah tak tertolong lagi. Tak lama setelah tiba di rumah sakit, Rachel menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Rakyat Palestina pun menyambut jenazah Rachel Corrie layaknya warga mereka sendiri, layaknya seorang syahidah. Mereka ramai-ramai mengebumikan Rachel di Rafah. Beberapa orang lalu membuat grafiti mengenang keberanian Rachel. Di jalan-jalan di kota Rafah tampak foto Rachel terlihat.
Namun sayangnya, bagi negaranya sendiri Rachel bukanlah dianggap sebagai seorang pahlawan. Pihak pemerintah menyalahkan Rachel Corrie sendiri dan membela tentara Israel. Mereka menilai bahwa dua tentara Israel itu tidak melihat Rachel sehingga terjadi insiden itu. Dua orang kativis ISM yang sedang bersama Rachel saat itu menyangsikan pengakuan tentara itu. Orang tua Rachel meminta pihak pemerintah mengusut kasus kematian anaknya, tetapi bagi pemerintah AS masalah ini telah selesai dengan membebaskan 2 tentara Israel itu yang namanya sama sekali tidak disebutkan.
Begitulah cerita tentang perjuangan Rachel Corrie. Dia tewas dengan nilai-nilai yang dianutnya sendiri. Sangat sulit menjadi seperti itu, menjadi ideal seperti itu. Begitu menginspirasi saat membaca kisahnya dan melihat foto-foto perjuangannya. Seorang Rachel, yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan perang Palestina-Israel, yang datang demi tegaknya kemanusiaan, rela mengorbankan nyawanya. Sebuah kematian yang amat mulia.
Lalu bagi saya, adakah keberanian untuk menjadi seperti Rachel Corrie? Meninggalkan kehidupan yang mapan menuju sebuah kehidupan yang tidak menentu. Meninggalkan posisi nyaman menuju suatu tempat yang menakutkan.
Dan sebuah tekad pun terpatri dalam diri saya, jika Rachel Corrie saja rela mengorbankan nyawanya demi palestina, maka saya akan malu sekali bila sebagai seorang saudara umat muslim di palestina, tidak melakukan apa-apa untuk mereka. Paling tidak sebait doa harus saya lantunkan setiap saat untuk mereka yang ada di Palestina.***(yas)

"I’m here for other children.
I’m here because I care.
I’m here because children everywhere are suffering
and because forty thousand people die each day from hunger.
I’m here because those people are mostly children.
We have got to understand that the poor are all around us and we are ignoring them.
We have got to understand that these deaths are preventable.
We have got to understand that people in third world countries think
and care and smile and cry just like us.
We have got to understand that they dream our dreams and we dream theirs.
We have got to understand that they are us.
We are them.
My dream is to stop hunger by the year 2000.
My dream is to give the poor a chance.
My dream is to save the 40,000 people who die each day.
My dream can and will come true if we all look into the future
and see the light that shines there.
If we ignore hunger, that light will go out.
If we all help and work together, it will grow and burn free with the potential of tomorrow."

—Rachel Corrie, aged ten,
recorded at her school’s Fifth Grade Press Conference on World Hunger


WE MISS U RACHEL...


January 8, 2009
at warnet...
So inspirational!








Saturday, January 3, 2009

CONDOLENCE FOR GAZA

Rasanya seperti sebuah jarum menusuk-nusuk dadaku, saat kudengar kabar itu melalui sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam inbox HP-ku. Berita itu tentang sebuah negeri yang sampai saat ini masih saja terluka, Palestina. Si pengirim pesan itu meminta saya untuk mendoakan saudara-saudara semuslim yang ada di Palestina, tepatnya di Gaza. Sang Durjana, Israel Laknatullah, telah meluluh lantakkan kota kepemilikan HAMAS. Korban banyak yang jatuh bergelimpangan, mulai dari pasukan Hamas itu sendiri sampai yang lebih menyakitkan, wanita dan anak-anak pun menjadi korban kebiadaban itu.

Lalu saya teringat akan kunjungan saya ke Gramedia tanggal 24 Desember lalu. Saat itu saya menemukan sebuah buku bagus berjudul “LET ME STAND ALONE”. Buku itu merupakan sebuah jurnal seorang aktivis anti perang asal Amerika Serikat, Rachel Corrie, yang tewas setelah dilindas oleh bulldozer Israel. Ada perasaan iri sekali dengan wanita muda itu. Bagimana tidak? Dia yang tidak punya kaitan apa-apa dengan Palestina rela mengorbankan nyawanya demi mencegah tentara durjana itu menghancurkan rumah seorang warga Palestina. Mungkin secara teori kita bias bilang, “Ngapain juga gue rela berkorban sampe ngorbanin nyawa Cuma buat rumah orang yang gue ga kenal sama sekali,”. Tapi rasa kemanusian yang merupakan fitrah semua manusia tidak bias dipungkiri. Dan terjadilah aksi tolol tentara Israel yang mengaku tidak melihat Rachel ada di depan bulldozer itu. Mungkin kalau Rachel menutupi tubuhnya dengan sarung dan duduk berjongkok sambil tidur di depan bulldozer itu, bisa jadi alasan itu tentara itu masuk akal. Tapi ini, Rachel mengenakan jaket berwarna jingga menyala sambil teriak-teriak dengan megaphone. Sangat tidak masuk akal sekali alasan itu. Lebih parahnya lagi, negara tempat Rachel lahir dan dibesarkan cuma bisa bilang, “Salah Rachel sendiri deh, ketauan ada konflik di Rafah malah kesana,”. Hufff…So stupid that statement!

Dan sekarang Israel laknat itu mulai menunjukkan aksinya lagi. Gaza digempur habis-habisan dan dengan segala cara. Tidak peduli siapa yang akan tewas disana. Dan seperti biasa juga, negara-negara lain Cuma bisa mengecam tanpa berbuat apa-apa. Seolah-olah para raksasa dunia itu takut oleh sang kurcaci kerdil bersenjata. Amerika malah mendukung tindakan Israel dan menyalahkan Hamas atas kejadian ini (sama sekali ga ngaruh Obama atau bukan yang jadi presiden, Amerika tetep aja jadi budak Israel). Lebih fool lagi, Mesir yang malah membiarkan warga sipil Palestina tewas dan kelapan dengan tidak membuka pintu perbatasan antara Gaza dan Mesir. Bikin hati dongkol aja!

Kemudian secara bersamaan terjadilah aksi yang menentang agresi Israel ke Gaza. Di London, semua muslim dan aktivis perdamaian turun ke jalan menentang aksi Israel. Di Australia, umat muslim disana mengumpulkan uang untuk saudara mereka di Gaza. Di Yunani, para mahasiswa yang berdemo nyaris bentrok dengan aparat keamanan. Di New York, terjadi aksi mengecam dan mendukung Israel. Di Lebanon, semua umat Islam tumpah ruah di jalan-jalan kota sambil berteriak-teriak mengutuk Israel. Orang-orang Yahudi sendiri pun mengecam kebiadaban zionis Israel itu (jelas kan, kalo orang-orang Israel itu bukan Yahudi tapi orang ga punya agama). Dan di Amerika Latin, para wanitanya mengenakan kafiyeh khas Palestina sambil berteriak-teriak di depan kedubes Israel (untung di Indonesia ga ada kedutaan Israel.Kalo ada, jangan harap bisa balik kesana sebelum ditimpukkin dulu).

Hampir semua negara lalu melakukan aksi memberikan bantuan sekadar rasa kemanusian (bukan untuk membela Palestina). International Solidarity Movement, tempat Rachel Corrie bergabung, mengirimkan kembali aktivis-aktivis mereka yang akan dijadikan “perisai hidup” bagi warga Palestina. Iran siap menyiapkan para mujahidnya untuk membantu pertempuran (dananya mana nih?). Malaysia memberikan sejumlah ringgit untuk dikirim langsung kesana. Indonesia sendiri, melalu menteri kesehatan Siti Fadhilah Supari menyatakan memberikan bantuan 1 juta dollar dan beberapa ton obat-obatan. FPI siap memberangkatkan para mujahidnya untuk berjihad ke Gaza (perasaan bikin statement kayak begini melulu deh). Dan yang bikin saya makin cinta sama PKS, anggota fraksi di DPR menyumbangkan dana sekitar 1 milyar rupiah untuk Palestina. Apakah harus ada kejadian yang menyayat hati terlebih dahulu agar semua bangsa tersadar? Agar semua umat Islam bersatu?

Beberapa hari setelah itu, saya pun menemani mentor-mentor saya di SMAN 43 untuk ikut aksi damai mahasiswa dan pelajar tentang Palestina. Mentor-mentor saya yang masih awam akan aksi seperti ini pun terlihat bersemangat mengikuti aksi ini. Tak lupa mereka memasukkan beberapa rupiah mereka ke dalam kotak berjalan yang dibawa oleh beberapa orang ikhwan maupun akhwat. Mereka juga berteriak-teriak mengutuk kebiadaban Isarel dan sesekali mengumandangkan takbir.

Lalu hati saya seolah melayang menuju negeri Palestina. Melihat saudara-saudara saya dibantai dengan tidak berperikemanusiaan. Melihat seorang anak kecil ditembak kepalanya tanpa tahu salah apa dia sebenarnya. Melihat seorang wanita tua menangis melihat rumah peninggalan suaminya yang syahid dihancurkan oleh tentara biadab itu tanpa rasa belas kasih. Dan melihat gelora semangat para mujahid saat mereka melihat dukungan dari saudara-saudara mereka di seluruh dunia. Sehingga air mata mereka pun jatuh menetes membasahi janggut-janggut mereka.

Aksi semakin panas dan bergairah (walaupun sebenarnya kordinasinya tidak baik karena tidak ada komando aksi yang pasti). Polisi semakin banyak berdatangan membuat border di belakang para demonstran. Sebagain mahasiswa terlihat melaksanakan sholat ghaib untuk para mujahid di Palestina.

Di tengah kerumunan ramai itu seolah-olah aku melihat Rachel Corrie hadir. Saya merasakan dia menyaksikan semua ini. Semua aksi dukungan untuk negara Palestina. Air matanya berderai, lalu dengan sedikit kata dia bergumam, “perjuangan kita tidak akan pernah sia-sia”. Lalu dia tersenyum mengingat kematiannya yang mungkin sebagian orang menilainya sia-sia. Tetapi bagi warga Palestina, Rachel adalah salah satu makhluk langka. Hanya sedikit saja warga non Palestina yang mau peduli pada Palestina. Bahkan tak ada yang sampai mau mengorbankan nyawanya seperti Rachel melakukannya.

Air mata saya pun berdesakan ingin keluar. Tetapi keburu saya menghilangkannya. Setelah itu saya terbayang hal apa yang bisa saya lakukan untuk Palestina? Untuk saudara semuslim saya itu? Rasanya 1 dollar yang saya berikan belumlah bisa dikatakan sebuah bantuan yang nyata. Ingin rasanya saya pergi ke Palestina dan menjadi perisai hidup bagi saudara-saudara saya itu. Malu rasanya pada Rachel Corrie, Thomas Hurndall, dan James Miller, yang tidak ada sangkut pautnya dengan Palestina rela mati demi tegaknya kemanusiana di Palestina, demi mewujudkan nilai-nilai yang diyakininya. Sedangkan saya kalupun ada kesempatan itu untuk pergi ke Palestina mungkin saya terbentur pada 1001 pertimbangan. Bagimana dengan makan disana? Bagimana kalau mau mandi? Bagimana kalau mau buang air? Bagimana kalau terkena peluru nyasar? Dan lainnya.

Wahai saudara-saudarku di Gaza… maafkanlah seorang saudaramu di sini yang belum bisa memberikan sesuatu yang berarti bagimu. Masih enak-enakan tidur di atas kasur. Masih lupa berdoa untuk keselamatanmu. Masih sering lupa menyisihkan uang untuk orang lain.

Maafkanlah kalau sekarang ini hanya bisa turut berduka tanpa bisa menghilangkan duka itu. Maafkanlah kalau masih hanya sedikit doa yang teruntai dan beberapa dollar yang terbayar. Ingin rasanya lebih dari itu, tetapi…

Ya Allah….jagalah saudara-saudaraku yang ada di Gaza…mungkin damai tidak akan pernah terjadi…jadi Ya Allah (Yang Maha Perkasa), bantulah meneguhkan tekad mereka untuk selalu siap berjihad di jalan-Mu…Ya Aziz…Ya Qahar…Ya Ghaffur…***(yas)

Sabda Nabi SAW. “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Ia menimpakan cobaan kepada mereka. Maka siapa yang ridha, mendapat keridhaan Allah dan siapa yang murka, mendapat murka Allah”

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

my work room

Januari 1st,2009

When I very inspired by Rachel Corrie

Allah will do best for us always forever!
FriendsterCode.Net, Free Friendster Code Resource, Friendster skins and Profile Customization,Create your own custom glitter text only with http://www.friendstercode.net/ - Image hosted by ImageShack.us